Wednesday, March 30, 2016

My bad day

Kayaknya saya abis berbuat dosa deh? Atau amal saya kurang?

Yang jelas kemarin saya sial terus. Huhuhu...

Kejadian sial mulai sejak sore. Ceritanya lagi ngasih makan si Pipi Bapao. Saya duduk di depan baby chairnya ngawasin biar dia enggak keselek. 

Tahu-tahu, 'pluk'... saya ngerasa ada yang jatuh di kaki saya. Dan bener aja. Baby kecoak!!!! Iiiiihhhhh... Saya kaget trus dia langsung ngumpet bawah meja. Pas akirnya dia keluar lagi (I assume because my baby kept throwing his food), langsung saya libas pake sandal.

Saya telp Daddy Bapao dan dia berpendapat kalau ada kecoak yang betelor somewhere di apartemen sempit ini, mengingat seminggu ini dia udah bunuh 5 baby kecoak, jadi 6 sama yang saya bunuh.

Belum selesai pusing saya, tahu-tahu ada yang ngetok. Ternyata 2 orang teknisi yang bilang:

"Bu, karena unit ini belum bayar maintenance, listrik kami cabut. Sekarang ya bu."

Masya Allah, itu baby Zedd masih makan, kok ya dicabut. Saya kan penyewa doank, lewat agen lagi. Praktis saya enggak pernah ketemu ownernya. 

Akhirnya saya telp Daddy lagi, trus dia juga ikut kaget. Saya kasih telp nya ke si mas teknisi trus mereka ngobrol. Intinya sih harus nego sama CS dan harus bayar maintenance sebesar Rp 2.7 juta lebih. 

Saya langsung minta Daddy Bapao pulang sore itu. Nanti habis ini kelar, silahkan balik ke kantor.



Akhirnya saya langsung beberes makanan Pipi Bapao buat turun ke mall bawah. Mana berantakan banget lagi makannya, jadi lama beresinnua. Trus dia nangis, eh ternyata dia poop. Tembus kemana-mana jadi saya harus ngucek dulu. 

Dan baby Zedd tambah ngamuk karena dikacangin. 

Saya pakein baju, muakin ngamuk, taro di stroller, tambah histeris. Semua dalam kondisi panas.

Setelah bergulat dengan makanan, perlak, popok, baju, dll, selama 50 menit, saya akhirnya berhasil duduk di cafe di mall bawah apartemen, dan nyusuin Zedd. 

Enggak lama Daddy datang udah ngelarin beberapa urusan ke CS. 

Kata Daddy, listrik tinggal dinyalain, tapi cuma sampai jam 12 siang besoknya. Agen kami itu juga kabur-kaburan. Dulu kami lancar komunikasi sama si Ibu. Setelah unit kami terima, masih ada beberapa masalah, trus si Ibu ngilang. Kami jadi kontak-kontakan sama suaminya, si Bapak. 

And as I thought, pas masalah ini muncul, si Bapak pun hilang. Trus kami jadi berhubungan sama anak mereka yang masih SMA. Huhuhu...

Alasannya ilang itu beragam, but mostly around sakit dan rumah sakit. Dari berapa kali cerita, enggak pernah jelas siapa sakit apa. Selalu berubah-ubah. Kalau mereka memang sakit, saya harap mereka cepat sembuh. Kalau mereka bohong, ya biar Allah yang balas lah.

Buat yang pada nyewa apartemen, please make sure about this maintenance cost thing. Di kontrak kami cuma ada tulisan pemilik yang akan membayar maintenance fee, tapi enggak ditulis soal gimana kalau si pemilik mangkir.

Akhirnya sekitar jam 6-7 malam, listrik di unit kami udah nyala lagi. Daddy Bapao makan, mandi, sholat, trus ngantor lagi. 

Saya sendiri langsung makan trus ketiduran pas nyusuin Pipi Bapao.

And that was the end of my bad tiring day.

Rencananya besok paginya Daddy bakal nemenin si adek SMA ngurus bayar-bayar ini. Karena ya track record si agen yang suka ilang-ilangan. 




Wednesday, March 23, 2016

The baby gear industry

Waktu hamil saya sering browsing-browsing barang bayi. And I was shocked with the price.      

-Gendongan Rp 2 juta-an
-Bib/celemek Rp 200 ribu-an
-Stroller bisa seharga motor
-Crib yang lebih mahal dari spring bed (crib ada yang Rp 6-10 juta, sementara Eyang baru beli spring bed di mall yang harganya Rp 4 juta) 

I could ramble 10 pages long.

(Harga memang relatif, yang saya sebut di atas buat beberapa orang mungkin enggak mahal. Ini standar mahal saya.)

Oke, mungkin saya lihat toko yang salah. Ada juga yang murah, tapi...
Apa iya mau kasi barang murah buat anak? 

Apalagi when it comes to safety or comfy of our precious little baby.

Selain barang-barang mahal, ada juga barang-barang yang bikin saya "huh, really?"

Karena barang-barang ini enggak exist waktu saya bayi (atau karena saya lahir di desa). The point is my mom raised me and my sis without these items. 

You know, barang-barang kayak
- sterilizer
- baby food maker
- baby food processor 
- deterjen khusus bayi

Saya ngerasa kalau baby gear industry ini memanfaatkan asas "demi anak." Trus nge-charge harga mahal deh. 

Contohnya sterilizer, biar barang-barang bayinya steril. Demi kesehatan bayi. Lha jaman Yang Uti, botol dot dicuci biasa, aman-aman aja. Ada yang bilang, lha jaman sekarang kan kumannya mutasi. Baiklah... A little skeptical about that, but I can deal with it.

Atau baby food processor yang basically cuma nggabungin kukusan sama blender (yang akhirnya saya beli juga sih, hehehe...). 

Saya enggak benci sama industri ini. Walaupun awalnya saya super skeptis sama barang-barang itu, I ended up having Pigeon sterilizer, Beaba baby cook, Ergo baby carrier, dan perintilan-perintilan lainnya. 

Karena I want the best for my baby, walaupun emak bapaknya harus hemat-hemat. 

Beberapa barang emang worth the price dan saya enggak punya pilihan lain. Contohnya gendongan bayi. 

Pas hamil, saya mikir, diih buat gendong bayi aja sampe Rp 2 juta. Enggak lah yaw... Dan sekarang saya punya... Hahahaha...

Saya akhirnya pakai yang jutaan ini karena mikirin safety dan comfy nya Pipi Bapao. 

Saya pernah coba gendongan yang Rp 200 ribuan, and it was not comfortable at all. Pahanya Pipi Bapao jadi merah-merah. Kasiannn...

Kalau yang jutaan, udah didesain supaya bayi aman, nyaman, dan enggak ngaruh ke perkembangan tulangnya bayi. Soalnya kan ada kekhawatiran soal hip dysplasia juga. 

In my opinion, harganya masih kemahalan. Tapi emang gap harganya segitu. Either I buy the low end or the high end. 

Ada sih versi KW-nya, but with the risk of hip dysplasia, saya enggak nyoba yang KW. 

Waktu saya beli food processor juga gitu. Beaba itungannya yang paling mahal, dengan harga di atas Rp 2 juta. Ada merk lain yang Rp 600 ribu. Tapi ya leaning towards Beaba karena pengen yang bagus buat Pipi Bapao.

Ada beberapa barang yang saya nyesel beli mahal, ada juga yang enggak. 

Salah satu yang nyesel itu beli sterilizer dan freezer. Lha ternyata si Pipi Bapao ini nolak botol dan ASIP. 

Jadi sterilizer cuma kepakai 3 bulan doank (sampai usia 3 bulan dia masih mau minum ASIP dari botol). Freezer sekarang saya pakai buat nyimpan puree MPASI, yang juga agak enggak guna karena Pipi Bapao lebih suka makan sendiri (baby led weaning).

Beberapa barang yang menurut saya worth the investment itu stroller Coco Latte Trip R dan Ergo baby carrier. Soalnya dipakainya lama, harga yang mahal kalau dibagi per hari, ya jatuhnya murah juga. 

Walaupun bulky, ini stroller gampang dipakai, bawahnya bisa muat banyak, dan bisa dipakai dari newborn.

Dasarnya saya emak-emak pelit, beberapa barang itu saya akalin, kayak Beaba baby cook saya patungan sama Onty Sipa. Toh bayi kami beda sebulan. 

Gendongan Ergo itu hadiah dari lomba di Elevenia. Kalau enggak menang, saya udah niat cari bekas. Toh bisa dicuci. Hehehe...



Akhirnya kayak love-hate relationship deh sama industri ini. KZL kalau lihat harga mahal, tapi seneng pas liat Pipi Bapao senyum karena barang-barang itu. 


Monday, March 21, 2016

Review go-clean bersihin apartemen

Jadi seminggu ini virus flu berkeliaran di rumah. Mulai dari Daddy Bapao, trus ketularan ke Pipi Bapao, trus kena ke saya. 

Puncaknya Pipi Bapao demam sampai 39 derajat setelah 4 hari-an batuk pilek. Yah walaupun katanya bayi ASI itu kuat, ternyata tumbang juga. 

Saya pikir ini pasti karena virus dan bakterinya masih ada di dalam apartemen. Yah gimana mau ngeluarinnya coba?

Saya tinggal di lantai 18. Jendela kamar mati (yah, serem juga sih kalau bisa dibuka), pintu keluar ya ke balkon sama ke hallway. 

Akhirnya saya memutuskan untuk sewa go-clean cause I think I need profesional cleaner to get rid of this dust and virus and bacteria.

Saya klik klik pesen yang detailnya kira-kira sebagai berikut:
1. Jam nya
Ternyata bisa pesen in advance jam berapa hari itu juga. Akhirnya saya milih dadakan karena masih ada urusan. Daripada mbaknya datang dan saya masih belum siap. 

Pas milih buat dadakan ya ternyata enggak semendadak itu juga. Saya buka app jam 15.30, pengennya buat jam 16.00, ternyata pilihan paling cepet jam 17.30. 

Jadi kayaknya paling cepet sekitar 2 jam setelah kita buka app itu.

2. Jumlah rooms dan bathrooms
Jumlah kamar ini nanti akan jadi kalkulasi waktu yang dibutuhkan buat bebersih

Saya pilih 3 'rooms' (2 kamar tidur+1 ruang tengah/dapur) dan 1 bathroom.
Kenanya 2.5 jam.

3. Ada extra buat dish washing, stove cleaning, cabinet cleaning, dll.
Nah kalau ini dicentang, kalkulasi waktunya nambah. Setiap kotak nambah setengah jam.

Karena saya enggak dong-an, saya telp ke CS nya. Tanya sebenernya dibersihin gimana kalau cabinet cleaning, terus gimana kalau ternyata enggak perlu waktu selama itu?

Jawabannya, cuma dilap-lap dan kalau ada sisa waktu ya bisa dipakai untuk bersih-bersih yang lain.

Jadi menurut saya, mending waktunya kurang trus kita nambah daripada udah kecetak di app 3 jam, ternyata 2 jam udah kelar. Tetep bayar 3 jam. 

4. Bisa milih gender
Saya milih gender sesuai saya alias cewek. Pertimbangannya ya cewek cenderung lebih pinter bersih-bersih. Cenderung ya, enggak semua cewek. 

Ternyata senjata makan tuan. Pas mbaknya datang, saya laper dan pengen turun beli makan, tapi enggak enak kalau ninggalin dia sama Daddy Bapao. Hehehe...

We ended up leaving the mbak to clean while we ate downstairs. Nothing is missing though.

5. Alamat
Nah ini agak beda sama gojek. Kebiasaan pakai gojek, jadi saya isi alamatnya cuma jalan aja. Karena di gojek kan ada form sendiri buat isi building name, floor, ect.

Ternyata di go-clean, cuma alamat doank. Hahaha...

Si mbak jadi harus sms/telp saya buat nanya tower sama lantai. Maapkeun mbaaakkk....

Akhirnya jam 19.30 rumah udah kinclong, 2 jam ajah. Masih sisa setengah jam, tapi saya udah bingung suruh si mbak ngapain lagi. 

Hasilnya puas banget
+ Kamar mandi jadi bersih banget, Daddy Bapao sampai ngaku kalah dalam bersihin kamar mandi. 

+ kamar plus ruang tengah juga bebas debu. Semua furniture yang ada dilap, termasuk rak buku kecil kami dan rak-rak gantung di dapur kami.

+ barang-barang yang berserakan diberesin. 

- mungkin ada yang enggak suka tatanan barangnya diubah. Di apartemen saya, si mbak ngubah tatanan di kamar mandi yang tadinya di bagian kanan rak, jadi di bagian kiri. Buku-buku juga diubah tatanannya, tapi tetap di slot rak yang sama.

- saya rugi setengah jam karena hitungan di app 2.5 jam, padahal 2 jam udah selesai. 

Ya emang dasarnya rumah saya rapi dan enggak banyak barang sih (pamer dikit lah). Cuma debunya itu enggak nguatin. 

--
Karena promo, kami bayar Rp 100k buat 2.5 jam. 

By the way, si mbak ini cerita kalau promo gini, dia enggak disubsidi macam gojek. Dia juga tetap bayar jasa gojek. Soalnya beda management katanya. 

Daddy Bapao enggak tega trus nambahin deh, itung-itung buat ongkos ke sini.

Nanti, kayak gojek, saya diminta mengisi form feedback dan rating buat dapat potongan di next order. 

Overall, saya dan Daddy Bapao suka sama hasilnya. Kata Daddy sih enggak apa-apalah rugi setengah jam, lha emang udah enggak ada yang bisa dibersihin (masih bisa asah-asah gelas Dad!!!)

Rencananya mau kami budget-in sebulan sekali pakai jasa ini. 

Friday, March 18, 2016

Things I wish I knew about newborn

Beberapa hari yang lalu saya dihubungi kawan lama. Saya sempat mikir, wah mau mrospek nih. Hehehe...

Ternyata dia baru aja lahiran dan mau tanya-tanya sama saya. Hehehe... Jadi merasa bersalah.

So she asked me several questions about newborn, which, surprisingly enough, were similar with my questions to my cousins. 

Rata-rata banyak kejadian yang bikin new mommy kayak saya bertanya,

"Ini normal enggak sih? Apa cuma bayi saya/saya aja yang kayak gini?"

You know, hal-hal kayak:

1. Nyusuin itu sakit
Yes, itu sakit, pake banget. Dan sakitnya itu enggak cuma seminggu-dua minggu. Mine last for like 3-4 months. 

Pokoknya pas udah asik nyusuin, bayi nya malah udah mulai MPASI, we lhaaa... Jadi dari ASI eksklusif 6 bulan itu, separuhnya saya jalani in pain.

Nyusuin juga penuh lika liku. Kunjungan ke klinik laktasi sampai berkali-kali. Pijet yang sakitnya aduhai. Suplai kurang. Konsumsi booster dari susu, teh, tablet, dkk. Those are common problems.

But breastfeeding is so so worth it. Lebih praktis dan murah dibanding susu formula. Selain dari alesan yang udah pasti kayak kandungan gizi dan bonding. Masalah-masalah di atas itu normal dan bisa banget dilewatin.


2. Baby loves to cry
Dalam sebulan pertama Pipi Bapao lahir. Hidupnya cuma nangis dan tidur, literally. 

Saya ingat, Daddy Bapao sempat ngomong:
"Kok aku enggak pernah lihat dia bangun dan diem ya. Dia selalu nangis atau tidur. Mau dibawa ke dokter po?"

Mainan, lullaby, white noise, bouncer, enggak ada yang ngefek. Cuma bisa digendong.

Lihat senyum bayi itu baru saya rasakan setelah 4 bulanan ke atas. 


3. Doyan bangun malam
Ada yang bilang setelah 40 hari bayi bakal berhenti tidur pagi dan bangun malam. 

Dulu saya menghitung hari sampai hari ke 40. Dan apa yang terjadi? Pipi Bapao MASIH BANGUN MALAM SAMPAI SEKARANG USIANYA 7 BULAN. Hahaha...

Tapi sekarang saya udah enggak senewen kayak dulu. Dia bangun, susuin sambil tidur, beres deh. 

Ada yang bikin sleep schedule atau matiin lampu biar si bayi tahu beda siang-malam. I don't do that, simply cause I myself can't have a routine. 


4. No me time
Yes it is normal to take a bath in a hurry or eat like a crazy person when you just had a baby. 

Apalagi kalau bayinya kayak si Pipi Bapao yang manja abis. Enggak bisa ditinggal. 

Tapi as he grew older, sekitar 4-5 bulan, dia mulai tertarik tuh sama mainan (in my case, Pipi Bapao addicted sama kain -_-") kayak teether, atau mainan yang bunyi krincing-krincing gitu.

Dia mulai bisa ditinggal sebentar buat mandi atau bersih-bersih rumah. 

Sampai sekarang saya kadang masih kewalahan sih. Tapi ini jauh lebih mending dari 2 bulan pertama setelah dia lahir. 

--

Disclaimer: ini pengalaman pribadi saya dan hasil sharing saya sama beberapa teman dan sepupu. 

Pastinya di luar sana ada ibu yang nyusuin langsung gampang, ASI nya banjir, bayinya enggak rewel, bayinya bisa langsung tidur malem (Termasuk combo Onty Sipa sama baby R).

Yang jelas, apapun masalah newborn, just be strong, be persistent, and keep on smiling. As time goes by, I adapt, my baby also adapts.

Wednesday, March 16, 2016

Baby Led Weaning after effect

Baru-baru ini saya 'nemu' metode baby led weaning, yang intinya bayi boleh makan apa aja tanpa disuapin atau dijadikan bubur. (Thanks to youtube recommendation)

Despite all the controversy, saya memutuskan mencoba metode ini. 

Ternyata ada satu efek menarik dari metode ini, yaitu reaksi orang-orang yang deket Pipi Bapao, contohnya Daddy Bapao yang habis sarapan omelette a.k.a telor dadar bareng dia. 


Him: (sambil gendong Pipi Bapao) Hon, kok bau kepalanya Zidane aneh sih?

Me: itu bau mentega. Tadi dia kan makan telor dadar, terus telornya diusap-usapin ke kepala. Macam minyak rambut.


Tuesday, March 15, 2016

The Appearance of "Family" stroller, eh baby chair?

Ini cerita nge-betein banget.

Awalnya sih bingung mau beli high chair atau booster seat, dan ended up beli Ingenuity Baby Base 2-in-1 Booster Seat, biar ringkes mari dipanggil aja Inge.

Nah sehari setelah beli itu Ingenuity, Yang Uti sama Yang Kung halan-halan sama Eyang Kiki (adeknya Yang Uti). Trus di Carrefour Kelapa Gading, para eyang ini menemukan eehhmmm... bingung ngomongnya, sejenis stroller atau sepeda roda 4 atau baby chair, pokoknya kayak gambar di bawah ini deh.

Pipi Bapao di atas Family. Ada rodanya kayak stroller. Ada tray-nya kayak baby chair. 

Abis lihat bentuk dan tulisan merk "Family," samar-samar saya ingat sih ini merk yang dulu sering muncul di TV waktu saya masih kecil. Yang ada nyanyiannya 'family...'

Sebut aja Family biar gampang. Harganya murah dibanding Inge, yaitu seharga Rp 200-300k, sementara Inge sekitar Rp 700k. Ealah...

Yang Uti akhirnya beli karena enggak suka lihat si Pipi Bapao duduk di Inge. Menurut Yang Uti, kasia bayinya. (Di pikiran Yang Uti, high chair itu enggak umum, apalagi booster seat. Nyuapin anak itu ya sambil digendong, which is exactly the thing that I avoid).

Memang waktu baby Zedd nyobain pakai Inge di apartemen, kok kayaknya sempit banget. Hadeh, alamat cuma dipakai sebulan-dua bulan nih. KZL KZL.

Terus pas Zedd nyoba si Family, kok dia lebih nyaman, karena space nya lebih longgar (Ya emang sih si Inge dibikin sempit biar bayi-nya enggak goyang kanan kiri, but still...)

Jadi makin bete. I'm very careful about money especially because we only have single income, jadi kesel kalau tahu sebenernya bisa beli barang yang lebih murah. Saya sempat mikir, apa langsung dijual aja Inge nya, rugi Rp 100 ribu gitu ???

Untungnya ada Daddy Bapao yang bilang sabar dan dilihat dulu. Setelah beberapa minggu, baru kerasa sih kalau Inge enggak bisa-bisa amat digantiin sama Family. 

Tapi saya pribadi, kalau bisa balikin waktu, mending beli Family deh. 

Bukannya mau irit, tapi menurut saya ada beberapa peralatan bayi yang memang harus dibeli yang harganya mahal, ada juga yang bisa dibeli harga murah. Kursi tempat makan bayi ini salah satu barang yang menurut saya, beli yang murah juga enggak masalah. 

Well, who knows that old local brand sometimes worth more than the new imported ones.

Dikasih bantal disana sini biar Pipi Bapao enggak goyang goyang.




The MPASI Confusion

MPASI itu makanan pendamping ASI. Dimulai dari 6 bulan kalau sekarang. Kalau jaman dulu, kata Yang Uti sih, anak umur 3 bulan juga udah dikasih pisang. Malah ada yang dikasi kopi biar enggak setep (demam yang sampai kejang). 

My favorite was when Yang Uti said "dulu Mama dikasi air tajim."

Belakangan saya baru tahu air tajim ini air sisa masak beras. Jaman sekarang udah enggak ada karena udah pada pakai rice cooker.

Anywhoo.... MPASI ini bikin saya puyeng. Too many different rules. Metodenya banyak dan udah berubah dari jaman dulu. It's basically more complicated.

Meaning, saya enggak bisa lagi sepenuhnya bergantung sama pengalaman Yang Uti. :(

Sebelum MPASI, saya tanya-tanya random, ke Yang Uti, ke mertua, ke teman, ke konselor di Posyandu, dkk. Semuanya beda. 

Dan karena bayi itu masih kecil dan lemah banget, saya juga enggak bisa seenaknya kayak pas hamil dulu. 

Yup, I was one of those preggos yang  tipenya happy go lucky. Saya makan makanan instan dan junk food. Saya minum teh dan jahe tiap hari (karena perut mual), pake high heels, dll. 

Back to MPASI, setelah riset kecil, I learned that there are several popular methods regarding solid atau MPASI ini. 

1. Metode WHO dan American Academy of Pediatrics (AAP)
Saya jadiin satu karena menurut saya mirip. 

Intinya bebas. Hahaha... Menurut artikel ini sih, bayi itu udah punya preference sendiri soal rasa. Jadi mau makan buah atau sayur dulu enggak ngefek ke tingkat kedoyanan (boso opo iki?) bayi ke sayuran. 

Si AAP ini juga menyebutkan kalau belum ada bukti medis soal benefit dari ngurutin jenis makanan ke bayi, meaning:
Buah-sayur-cerelia (beras, tepung, cereal) 
atau cerelia-sayur-buah, 
ya enggak ada efeknya secara medis, MENURUT APP ini. 

Kalau WHO, instead of describing the kinds of food, WHO lebih ke teknis ngasi makan berapa kali, tekstur gimana. 

Walaupun bebas, they do prefer to use cerelia as baby's first solid. Alasannya buat menghindari alergi. 

Sumber WHO http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs342/en/

Sumber AAP https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/feeding-nutrition/Pages/Switching-To-Solid-Foods.aspx


2. Metode Wied Harry
Mommy satu ini nulis artikel bagus banget soal metode MPASI Pak Wied di webnya www.fitrianifirmansyah.com. Terus ada resep-resepnya. Inspiratif deh (yang googling MPASI Wied Harry pasti udah nemu web itu duluan sih),

Mbak Konselor Posyandu juga menyarankan pakai metode ini, dimana intinya mengenalkan buah dulu di bulan 6, sayuran dan karbohidrat sederhana macam umbi-umbian di bulan 7, karbohidrat kompleks macam beras dan daging-dagingan di bulan 8.

Si Mbak Konselor sih bilangnya dengan metode ini, anaknya sampe udah toddler makannya cuma buah dan ya enggak gemuk. Kata dia, "saya enggak nyari gemuk mbak, yang penting sehat."

Okay, jadi ini perspektif baru dimana anak kurus enggak apa-apa yang penting sehat. Yah saya juga dulu kurus sih. Sekarang ya gemuk.


3. Metode dr. Tiwi
Dokter ini kayaknya hip banget di media plus media sosial. Ada web, Twitter, sampai Youtube. Saya sendiri follow Youtube-nya dan nonton beberapa video-nya soal MPASI dan perkembangan bayi lah.

Dari artikel ini, mirip sama metode Wied Harry. Jadi buah di bulan 6, cerelia dan sayuran di bulan 7.  




4. Metode Yang  Uti
Kalau Yang Uti membesarkan saya sama adik dengan MPASI bubur bayi instan, hehehe... Kayaknya jaman dulu normal banget pakai bubur instan beragam merk ini. 

MPASI lainnya itu pure pepaya dan pisang. Lanjut sama bubur yang dikasih kaldu ceker ayam kampung dan bubur campur hati ayam.


--

Pada akhirnya saya nyampur semua metode, walaupun cenderung ke buah dulu. Saya juga belum berani nyampur-nyampur makanan kayak postingan Instagram dengan #mpasirumahan #mpasihomemade dan sejenisnya. Walaupun Daddy-nya sih bilang "yang penting dia doyan makan."

Salah satu menu MPASI baby Zedd. Masih rasa tunggal.


Wednesday, March 9, 2016

MPASI tanpa blender/steamer, bisa?

Waktu saya belanja peralatan MPASI buat baby Zedd, saya sempat lihat baby food processor. Itu loh yang steamer campur blender jadi 1. Bisa juga buat defrost sama ngangetin makanan. Pokoknya praktis deh.

Saya skeptis waktu itu. Saya pikir ini pemborosan banget. Wong ada dandang sama ulekan, ngapain lagi beli ini?

Apalagi saya tanya Yang Uti, dulu jaman beliau enggak ada alat itu, bisa-bisa aja tuh ngasi saya dan Sipa MPASI. She didn't even have blender back then. All manual.

Toh saya stay at home mom. Kalau yang working mom, mungkin butuh alat ini karena mereka kan waktunya enggak sebebas yang ibu RT. 

And it turned out I was so very very wrong...

Belum geneb MPASI dua minggu, akhirnya saya nyerah MPASI manual dan beli Beaba baby cook. Karena akhirnya saya sadar ada banyak alasan pakai baby food processor even when you're a stay at home mom.

Here are mine:
1. Bayi Rewel
Entah kenapa sejak mulai MPASI. Baby Zedd mulai bau tangan lagi. Jadi dia enggak bisa ditinggal. Meanwhile, bikin MPASI manual itu makan waktu. 

Jadi saya bikin makanan, Zedd nangis ngamuk-ngamuk, makanan jadi, dia keburu bete, enggak mau makan deh.

2. Apartemen sempit
What I forgot to calculate was the difference between Yang Uti's house and my house.

Yang Uti dan Yang Kung selalu tinggal di landed house yang proper. Beda sama saya yang tinggal di apartemen super sempit, dimana dapur jadi satu sama living room dan enggak ada bukaan/jendela. 

Jadi waktu saya nyalain kompor, I basically baked my whole apartment. Widih, sauna kalah deh. 

3. Pembantu
Yup, my mom might not have a blender back then but she had two 'nannies.' 

Saya lahir di Majalengka, kota kecil yang kekeluargaan nya masih erat. Waktu saya bayi, ada tetangga, Mak Icih dan Mak Acah yang datang pagi dan sore, buat bantuin mama ngurus saya dan rumah. Bayarannya reasonable karena emang mereka niatnya bantuin Yang Uti yang udah yatim piatu waktu itu.

Ya iyalah Yang Uti bisa telaten bikin MPASI modal kompor sama sendok doank. Ada yang bantuin pagi-sore.

--

I then had a meltdown. Saya kepanasan bikin makanan sambil denger Zedd nangis itu lelah banget, mentally and physically. 

Habis itu lihat dia cranky dan buang-buang makanan, saya tambah stres karena enggak ada MPASI yang masuk ke perutnya. 

Saya akhirnya telp daddy bapao trus nangis-nangis. Daddy dengan tenangnya ngayem-ayemi saya dan bilang buat beli baby food processor aja.

Setelah saya berusaha ngirit dengan beli manual food maker seharga 200ribuan, I ended up buying 2.5 million baby food processor. Hadeh, mau hemat malah boros. 

Yah yang penting saya enggak stres. Insya Allah kalau makanan lancar, Zedd tambah gemuk. Everybody's happy. Amin!!!!!

Monday, March 7, 2016

Temporary meltdown

Sometimes I wanna pack a bag and leave in the middle of the night and not come back.
-Lily Aldrin-

Wednesday, March 2, 2016

The baby chair dilemma.

Just like the car seat, I was confused choosing baby chair for baby Zedd. 

Zedd udah 6 bulan dan mulai makan, jadi saya mulai kelabakan cari baby chair. 

In addition to that, dia sekarang udah heboh pengen duduk, tapi harus dipegangin, karena masih suka jatuh ke depan. 

Megangin kalau cuma beberapa menit, tapi ini lama banget. Kalau diposisikan tidur, dia bete terus nangis. Ddiihhh drama king abis deh. So I thought, wah enak juga ini pake baby chair.

Masalahnya, yang mana???

Dari awal saya tertarik sama booster seat. Soalnya apartemen saya sempit dan kami enggak punya meja makan. Jadi high chair bukan opsi, unless kami nemu yang Rp 700 juta jatoh di jalan terus bisa beli rumah yang ada ruang makannya.

Dari hasil kepo Instagram, saya lihat ada 4 yang banyak beredar di IG dan toko-toko bayi di ITC

- bumbo


 Gambar dari sini.

Ini simple dan basic banget buat saya. Mengingat yang lain-lainnya ada sejenis 'mainan'-nya. Menurut beberapa sumber, termasuk dari sini bumbo ini pernah ditarik dari peredaran tahun 2012 karena banyak anak jatuh dari situ. 

Tapi setelah itu perusahaannya masang seat belt dan ngasi tahu kalau bumbo itu cuma buat di atas lantai (bukan di atas kursi makan), ya harusnya aman-aman aja. 

Tapi tetep parno ah.

- Ingenuity baby base 2 in 1 booster seat


Kesan pertama lihat ini, OMG it's so darn cute... The color, the shape... Unyu deh. Bisa dipasangin mainan juga yang udah included dan seat ini bisa dipasang di atas kursi biasa. 

Jadi kalau tiba-tiba saya nemu uang 700 juta itu, saya masih bisa pakai kursi ini. Hehehe...

- Mamas Papas Baby Snug

 Gambar dari sini.
Seat ini juga unyu, but you can tell from first look that it's expensive. Saya juga enggak banyak liat di toko bayi kecuali yang online. 

And apparently, snug ini enggak bisa di strap ke kursi biasa. 

Untuk harga yang rada mahal (di IG harganya di atas Rp 1 juta), you want something that can function in many ways, sayangnya barang ini cuma bisa dipakai di atas lantai. 

- Summer Infant 3-Stage Super Seat


Gambar  dari sini.
Ini di gambar rame banget. Zedd yang super lincah pasti doyan ini. Tiga stage-nya itu sebenarnya mirip sama Ingenuity, dimana alasnya yang empuk itu bakal diangkat pas anaknya udah agak gedean. Cuma ya ini outside budget karena harganya Rp 1 jutaan.

Update March 9, 2016
Barusan tanya lagi ke ITC, harganya kok jadi 800an. Yyyaaaahhh kalau cuma beda Rp 100ribu, mending beli ini yang lebih vanyak mainannya.
--

Dan akhirnya kami beli Ingenuity baby base booster seat. Itu impulsive purchase banget. 

Kami simply lagi beli popok ke ITC sama beli peralatan MPASI yang kurang, terus Daddy Bapao lihat baby chair. Akhirnya beli deh si Ingenuity ini. 

Pertimbangannya, saya emang pengen ngajarin Pipi Bapao makan sambil duduk dan bisa dipakai sampe umur 2 tahun kata mbaknya toko, jadi ini long term investment.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...