Showing posts with label random thoughts. Show all posts
Showing posts with label random thoughts. Show all posts

Monday, April 13, 2020

Corona yang Bikin Bingung

This is gonna be a dark post.

Sungguh kukira masa-masa galau enggak bisa tidur sudah berakhir ketika udah lewat masa puber. Akhir-akhir ini jadi flash back zaman SMA, waktu enggak bisa tidur karena berantem sama Popo. 

Yup, I’m having insomnia again, after 15 years. Thanks to Corona.

Ini virus beneran bikin bingung LITERALLY EVERYBODY. Saya sampe capek liat semua kebingungan ini.

  • Mulai dari yang kecil ya, soal jam jemur. Awalnya jam 10 pagi, trus saya turun tuh buat jemur. Rame, banyak anak-anak juga pada jemur. Enggak lama ada lagi pendapat bahwa yang bagus itu jemur di jam 8-9. Beneran besokannya langsung sepi. Apparently everybody reads or watch social media nowadays.

  • Soal bilik antiseptik juga enggak kalah heboh. Semua heboh sediain bilik antiseptik. Pas biliknya udah banyak banget disediakan, sampai mall bawah apartemen nyediain. Eh, ternyata itu bilik bahaya buat orang-orang. Lah kenapa baru dibilangin malih? Itu beneran mall bawah baru sediain lho, besokannya enggak ada. 

  • Hari ini, 7 April 2020, tante kirim video yang menurut saya valid sumbernya, menteri agama ngomong kalau masyarakat boleh sholat taraweh. Malemnya buka twitter, ada berita online yang nulis soal edaran pemerintah kalau sholat taraweh di rumah aja dan tidak ada sholat ied. This happened in like hours. 
  • Update: kemaren go ride dan grab bike juga sempet ilang, sekarang udah ada lagi.

I am fully aware that all of this confusion is normal. Covid-19 ini baru, semua juga bingung. Toh semua perubahan-perubahan yang cepet banget itu juga demi keselamatan dan kesehatan semua. 

Walaupun demi kebaikan, this has been causing such emotional roller coaster for me. Bahkan tanpa hal-hal itu aja, udah naik turun emosi saya. 

Tanpa mengecilkan orang-orang lain yang beda status, jadi orang tua dari 2 anak balita di era covid ini is so F-ing crazy. Bukan karena harus 24 jam bareng atau homeschooling, tapi karena takut gimana kalau ada apa-apa sama kami, orangtua nya? Not too mention,  I’m not working. Buat yang mau nyalahin “salah sendiri resign?” Please don’t! I resigned cause we couldn’t afford childcare, not because I’m lazy.

Back to corona, semua pikiran negatif dan gelap itu selalu datang, tapi biasanya Zedd bakal teriak “Mami, aku sayang banget sama Mami!” Disusul Elle yang minta nenen. Saya pun harus balik ke mommy-mode, senyum dan kembali nemenin mereka main. They deserve life as normal as it can be right now. As for me, I can’t even process anything. 

Apalagi kalau liat mereka lagi main di taman atau jemur. Perasaan senang lihat mereka main langsung kecampur sama perasaan sedih pas liat tamannya kosong. Padahal biasanya banyak anak-anak. Berasa ada di post-apocalyptic film, which is very depressing for me. 

Zedd sendiri memroses ini pake caranya sendiri. But he definitely feels the tension. Celetukan kayak “kok mall-nya pada tutup sih? Kan masih ada matahari?” Yang kalau ditranslate maksudnya, kenapa mall sepi amat dan pada tutup toko-tokonya, padahal masih siang. 

Celetukan lain itu soal Eyang Uti dan Yang Kung yang enggak muncul-muncul, padahal biasanya 2-3 minggu datang ke Jakarta. “Eyang ke sini, dong. Nanti kan bisa cuci tangan biar enggak kena virus.” These just breaks my heart. 

Apa yang saya rasain ini mungkin hal yang enggak sensitif buat beberapa orang. Diantara banyaknya PHK, banyak yang susah makan, apa boleh saya yang sehat dan suami masih wfh ngeluh soal hal-hal di atas?

I have to be grateful for a lot of things but I’m very frustrated at the same time. 

This pandemic will go on for a long time, no matter how many people write “semoga wabah ini segera berakhir.” Yet it won’t. A lot, and I mean a lot of people will get this virus. The number is out there, many experts have many calculations and scenarios. 

I just wish we make it out alive. 
Bismillah, may Allah SWT protect us. 

Sunday, March 8, 2020

Jadi Ibu Minimalis

Bingung mau nulis apa saking udah lamanya enggak nulis. But I have this urge to write and, somehow, all the kids are sleeping right now. 

So I thought I share one thing that kinda makes me happy and, hopefully, be a better person. Yah, enggak one thing juga sih, tapi mirip-mirip gitu. Yaitu jadi Minimalist. 

Ini maksudnya bukan kayak rumah cluster minimalis yang jauh dari arti minimalis sebenernya ya. Bikin rumah kecil warna warni bukan berarti rumahnya minimalis, itu rumahnya mini aja. 

Minimalis ini lebih ke gaya hidup. Jujur kalo disuruh jelasin di sini soal sejarah dan penemu gitu, saya enggak capable. Bisa di gugel ajah. Saya sendiri kenal minimalism  atau minimalisme waktu kuliah arsitektur minimalisme ini. Arah minimalisme ini ke zen life yang calming dan efeknya ke bangunan, yang jadi bangunan yang minim ornamen atau perintilan, kadang termasuk warna. 

And then that’s it. Saya enggak tertarik lebih lanjut soal minimalism ini. 

Sampai beberapa tahun lalu saya nonton video Youtube nya Raditya Dika, gimana dia berubah jadi minimalis karena nonton Minimalism di Netflix. Pada saat yang bersamaan, saya tinggal di apartemen mini dan mulai overwhelmed. Waktu itu saya enggak tahu kalo saya overwhelmed sama barang-barang, saya cuma tau rasanya kepala penuh aja.

Videonya Radit bisa ditonton sendiri, tapi yang ngena banget di saya itu soal jam. Gimana awalnya dia suka koleksi jam-jam mahal, trus sejak kenal minimalism, jamnya dikurangin jadi 1 aja yang paling dia suka, plus beberapa jam yang dikasi orang-orang terdekatnya.

Enggak lama sebelum itu, saya baca Maria Kondo yang The Life Changing Method of Tidying Up. Simply karena penasaran, gimana ceritanya buku soal cara ngerapiin barang, bisa jadi New York Times Best Seller, trus diomongin di seluruh dunia. It is indeed life changing sih. Baca buku itu bikin saya ngeliat barang atau materi itu berbeda. 

Sebenernya si Konmari (Marie Kondo) ini enggak ngajarin minimalism. Dia lebih fokus ke seni rapiin barangnya. Tapi ada 1 point yang mirip sama minimalism, which is to surround yourself with things you actually love.

Daripada punya banyak baju sale yang mursida, mending punya beberapa baju yang kualitas bagus, staple, trus emang beneran cuci kering pake karena sesuka itu.

And then it hit me,
Konmari+Minimalism+Apartemen Mini=PERFECT MATCH.

Pelan-pelan saya mulai metode pertama Konmari, decluttering alias ngurangin barang. Di situ banyak berantem ama Popo, karena dia penganut Ikea, yang memanfaatkan semua sudut apartemen buat jadi storage. Sampe sekarang kami masih mencari happy medium. 

Baju-baju mulai berkurang, mainan anak-anak juga, and guess what, I feel happier and calmer. Mungkin karena pas masuk rumah, rasanya lega gitu, atau karena saya emang dikelilingi barang-barang yang sparks joy (baca Konmari and you’ll understand the “spark joy”).

Gimana soal anak-anak? Sejujurnya Zedd belum terlalu paham. Tapi ketika mainannya berkurang, dia bisa dibilang enggak ngeh sih. Pada akhirnya mungkin ngajarin minimalism ini ke anak bagus juga ya. So they learn to be happy with what they have.

Buat cara ngurangin barang, saya pake metode paling simple which is to limit the space. Saya punya lemari, ketika saya beli baju baru dan lemari penuh, ya bajunya dikurangin. Metode ini dipake ke seluruh storage. Ada mainan baru, ya mainan lama keluar. Ada piring baru, ya piring lama keluar. 


Beyond Minimalism, Living Enviromental Friendly.
Setelah mulai nyemplung ke minimalism dan spark joy-nya Konmari, saya mulai bersinggungan sama hal lain, kayak zero waste, less waste, capsule wardrobe atau project 333, dan gaya hidup cinta lingkungan lainnya. 

Zero waste= tidak menghasilkan sampah. Kalo saya tiap hari buang sampah 1-2 plastik, para zero waste enggak buang sampah. Sampahnya cuma 1 toples, itu juga bisa bertahun-tahun baru penuh

Project 333= sebuah movement dimana kita hanya punya 33 clothing items, udah include sepatu + aksesoris kayak topi anting dll.

Kalo mau disambungin mungkin gini ya:
Gaya hidup minimalism itu membuat kita mengurangi barang-barang yang kita enggak butuh, berarti less shopping, berarti ngurangin sampah yang beredar. Hal ini bikin minimalism bersinggungan sama gaya hidup ramah lingkungan. 

Makin sering terpapar sama video atau film yang kayak di atas, saya jujur makin terinspirasi. Saya sekarang mulai pakai snack bag buat beli snack dan pake tas belanja kalo beli groceries dan sayur. 

Buat baju saya masih ngumpulin koleksi staples saya. Enggak semudah kelihatannya, banyak trial and error, karena saya enggak familiar sama bahan dan potongan baju yang sesuai sama saya. But I’ll get there. Kalo cek IG @nadiasarasati mungkin kelihatan kalo baju saya itu-itu aja.

Bawa tumbler juga diusahakan, karena ngerasa bersalah kalo buang gelas/botol plastik. Tapi sejujurnya, saya mulai kerepotan karena harus bawa 3 tumbler, buat saya, Zedd, Elle. Jadi yaaaa kadang-kadang bawa 1-2 doank. 

Saya juga punya cita-cita buat composting dan bikin lubang biopori kalo one day udah tinggal di landed house. Enggak cuma ramah lingkungan, misahin sampah makanan kayak gini kan bikin rumah lebih bersih juga. Bismillah semoga tercapai ya Allah. 

Yang sulit dan enggak terlintas buat dilakukan itu soal popok dan pembalut. Saya enggak sanggup nyuci cloth diaper atau pembalut kain. Pakai menstrual cup (gelas plastik yang dimasukkin ke vagina buat nampung haid) juga serem. Huks, pake tampon aja saya sulit. Semoga ada solusi nantinya yang saya bisa coba terkait hal ini. 



Tuesday, March 13, 2018

Akhirnya Resign, Part 1

-To work or not to work, that is the question-

As the titled said, saya akhirnya resign. Setelah 2 tahun jadi working mom. Banyak banget yang pengen dibahas soal ini. Tapi daripada kepanjangan and malah mbleber kemana-mana, mending dipecah-pecah aja. For the first part is about the reaction.

Resign enggak resign ini big deal for me. And I was basically an indecisive person, alias sering galau. Jadi pendapat dan reaksi orang tentang keputusan ini sempet bikin saya ragu. 

  • Orang Tua
Yang Kung and Uti ini agak ngeselin yah. Pertama, mereka minta saya buat kerja. Sayang kuliahnya, itu alesan mereka. Dan emang saya nya pengen kerja. So I did. 

Eh, 2 tahun kemudian, mereka mulai ngasi hint soal betapa pentingnya Zedd dibesarkan sama ibunya, enggak di daycare.

Tapi somehow ini cuma berlaku buat Zedd, bukan buat Hanhan. Hahaha... Mungkin ini karena Hanhan dirawat Nyai and Yayi pas Sipa kerja, sementara Zedd di daycare.

Intinya, mereka malah seneng banget saya resign. Ternyata mereka enggak tega lihat Zedd di daycare terus dijemput jam 7 malem tiap hari. Jadi anak terakhir yang dijemput. 

  • Popo
Enggak usah ditanya lagi kalau yang 1 ini. He was so so happy. Agak deg-degan, takut nanti saya senewen terus dia kena getahnya. But after long discussion, we did have the same opinion about me being a housewife. And it it’s really the best decision for our family.

  • Friends
Ini beragam ya, tergantung status mereka. Yang udah duluan jadi ibu rumah tangga, mostly mendukung. 

Meanwhile, yang career women and working moms, meyakinkan saya, “are you sure about this decision? You’ll get bored.”

Selain status kerja, status ibu-belum ibu juga ngefek. Temen-temen yang belum jadi ibu, pada bingung. Sementara temen-temen yang udah jadi ibu, they understood. Yaaa, secara mereka juga ngerasain yah.

Intermezzo dikit, pernah liat interview Sarah Sechan (yang di Net TV tu lho) sama Najwa Shihab yang jadi bintang tamunya.

Najwa ditanyain soal anak and working mom, ya dia bilang kalau setiap working mom selalu bergelut sama rasa bersalah. It’s unavoidable.

Jadi, saya ngerasa, temen sesama ibu yang denger keputusan ini, banyak yang langsung “ooo, buat Zedd, yah.” And I saw  some conflicted faces. Yang kayak campuran antara seneng+sedih.

  • Buibu Daycare
Fyi, saya tetap akan nitipin Zedd di daycare, due to several reasons. 

Tapi saya tetap ngabarin ibu-ibu asuh di daycare. Karena setelah saya enggak kerja, Zedd enggak bakal lagi dijemput jam 7 malem. Zedd juga mungkin enggak pesen catering lagi, karena saya bakal masak buat bekelnya. (Niatnyaaaaa... semoga terkabul dan enggak males.)

Responnya, enggak kalah beragam, lho. Ada ibu A, ibu B, dan ibu C. 

Ibu A ini paling deket sama Zedd dan anaknya udah kerja. Jadi ibu ini udah kerja dari zaman gadis sampai punya anak, trus anaknya lulus sma trus kerja. Waktu saya cerita mau resign, raut mukanya paling complex, apalagi pas denger alasan saya berhenti kerja karena capek. Dia kayak lega, ikut seneng, tapi agak iri. Yah, biar gimana ibu A ini yang hampir tiap hari pulang malem karena nungguin saya jemput Zedd. Mungkin dia lega and seneng sekarang Zedd akan lebih keurus.

Kalau iri-nya, mungkin dia juga lelah bekerja. Saya pernah tanya, kenapa masih kerja padahal anaknya udah lulus dan kerja. Katanya buat bantu bayar kontrakan, selain dia juga enggak kebayang gimana kalau enggak kerja. 

Nah, ibu B punya reaksi lain. Dia ibu bekerja dengan anak umur 4 tahun. Jadi masih se-saya juga. Komentarnya sama kayak temen-temen saya yang kerja, “Bun, enggak takut bosen?”

Ibu C, anaknya udah gede dan kerja di restoran Jepang. Jadi mirip ibu A, lah. Udah jadi working mom for so long. Dan reaksinya mirip ibu B. “Ntar bosen lho, Bun.” 

Disini tiba-tiba saya sadar, eiya yah, mereka bertiga juga working moms. Hahahaha...

Susah dijelasin, tapi reaksi yang saya dapat dari sesama ibu, bikin saya jadi sadar, bahwa kerja enggak kerja ini selalu jadi masalah yang bikin pusing and muter-muter. Pengen kerja tapi kasihan anak. Pengen enggak kerja, tapi takut bosen, takut (naudzubillah) terjadi apa-apa sama suami, takut pemasukan enggak cukup, sayang kuliahnya.

Terus aja muter terus begitu... 

Mungkin ada beberapa ibu yang manteb bilang "gw masih harus kerja," tapi bahkan yang manteb itu pun, raut muka and tatapan matanya enggak semanteb itu. 

Finally, in my opinion, tiap ibu bekerja (kayaknya) menyimpan sedikit keinginan buat berhenti dan jadi ibu rumah tangga. And I think that was the reason they showed me those conflicted expression when I told them about my decision. Karena ya, saya juga ngerasain hal yang sama waktu beberapa temen memutuskan berhenti kerja.

Mungkin lho, ya...

Tuesday, February 20, 2018

Resolusi 2018, Pulang Kampung?


Telat sebulan, but oh well...


“Who says any place is better for the baby if you two are unhappy?” -Robin, How I Met Your Mother-


Akhir Desember kemarin, kantor saya, seperti tahun lalu, ngasi libur full dari natal sampai tahun baru. Plus Sabtu-Minggu, total libur saya jadi cukup banyak.

Karena paksuami alias Popo udah niat banget mau lembur closing akhir tahun, saya mutusin buat stay di Jogja tercinta ajah sampe tanggal 31 Desember. Baru balik Jakarta. Hampir 2 minggu di Jogja, saya banyak reunian sama temen-temen di sini, ngobrol panjang x lebar x tinggi.

And I missed that. Bukan cuma kangen sama temen-temen, tapi kangen Jogja.

Di Jogja, ketemuan sama temen-temen itu gampang banget. Secara mereka jam 4 udah balik kerja. Ada juga yang jam 2 siang udah pulang.

Nentuin tempat apa lagi. Dua kali saya ketemu sama temen-temen, ongkos gojeknya Rp 3.000!! Padahal nongkrongnya di 2 tempat yang berbeda.

Wah kalau di Jakarta, ada yang di Kalimalang, Sunter, Jagakarsa, Benhil, (yang tinggal di Jakarta pasti ngerti), ketemu di TENGAH itu di mana coba?

Yes, life is so so much simpler in Jogja. No traffic, cheap food and easy transportation. I miss that simplicity.

Flashback ke beberapa tahun yang lalu, waktu kami baru lulus, saya justru enggak mau menetap di Jogja. Karena saya besar di daerah dan pindah-pindah. So living in Jogja seems boring to me.

Alasan kedua adalah uang. Saya baru lulus dan UMR Jogja sungguh enggak nyenengin.
And back then, I was a spoiled brat! Bedak harus yang Rp 300 ribuan. Parfum harus Body Shop. Baju harus beli di mall. Gaji UMR Jogja mana cukup. Belum lagi saya pengen punya rumah, mobil, berlian (halah)...

Waktu itu juga, Popo dapat tawaran ngajar yang kalau diterusin bakal jadi calon dosen, terus jadi dosen. Tapi balik lagi ke gaji, walaupun calon dosen, ya tetep UMR Jogja kala itu.
Kami akhirnya nyari kerja di luar Jogja, perusahaan-perusahaan gede lah. Emang jodoh kali ya, kami berdua sama-sama dapet di Jakarta. Setahunan abis itu, kami nikah.

Sekarang udah sekitar 4-5 tahun kami di Jakarta, dan bisa dibilang target kami lumayan tercapai. Gaji yang didapat sesuai ekspektasi. Trus pas tanggal muda bisa jajan di restoran fancy, yang agak susah ditemuin di Jogja. We got everything we wanted.

Tapi sekarang saya mulai berubah pikiran. Kalau dulu saya pengen nongkrong di restoran/cafe keren di pucuk menara-menara itu lah, sekarang udah enggak. Mahal yabuk... dan endingnya si makanan itu akan sama kayak makan di warmindo, jadi pupup.
Dulu, gaya banget, beli bedak mahal kayak Ultima atau PAC, eye shadow nya Urban Decay Naked, bronzer-nya Two Faced.

Sekarang, bedak saya cukup Emina ajah. Parfum beli di Miniso. Lipstick dari drugstore.
Ternyata lain ya belanja pakai duit sendiri. Sekarang saya lebih mikir value daripada harga. Apalagi udah ada cicilan ini itu, tabungan pendidikan Zedd, dll. Wah... prioritas jadi berubah.
Selain itu, di Jakarta capek! Jarak apartemen - kantor itu sekitar 10 km. Jadi total jarak saya sekitar 20 km buat PP. Popo agak lebih deket sih, tapi macet Jakarta selalu bikin saya nyampe apartemen lebih dulu. Popo sendiri ngabisin 2 jam PP tiap weekdays.

Dan itu termasuk deket lho. Karena saya bandingin sama ongkos ojek temen-temen kantor. Hehehe... zaman now itu kalo mau tahu seberapa jauh sebuah tempat, itung aja ongkos gojeknya.

Tiba-tiba, balik ke Jogja rasanya jadi opsi yang menarik. Gaji memang turun drastis, lifestyle pun enggak akan sekeren dan segemerlap di Jakarta. Tapi sekarang, duit and lifestyle itu itu jadi prioritas kesekian.

Prioritas utama itu, apalagi kalau bukan Zedd? Di Jogja, Popo enggak akan kena macet, mungkin sore-sore udah bisa pulang trus main sama Zedd. Meanwhile di sini baru ketemu jam 8 malem.

Enggak tahu juga saya bakal kerja atau enggak kalau balik Jogja, but even if I work, I might be home by 3-4 pm, like my friends. Di sini, saya nyampe rumah jam 7 malem.

Once you have a child, suddenly time becomes more valuable commodity than money.

Banyak lagi hal-hal lain yang bikin saya pengeeenn balik Jogja. Misalnya, less stressful. Apa cuma saya yang kalau ujan sore-sore, trus senewen? Langsung mikir, ojek mahal, macet bisa dobel-dobel, tapi harus tetep menerjang ujan supaya bisa jemput Zedd sebelum daycare tutup.

Kalau di Jogja, ujan ya ujan aja lah. Kebetulan juga di Jogja saya berani nyetir mobil, no problemo.

Keberadaan 4 eyang Zedd di Jogja juga jadi trigger buat balik. Misalnya kami berdua kerja dan tiba-tiba harus pulang telat, bisa tenang karena Zedd. Bisa couple time juga.
Dan masih banyak alasan lagi deh. Turis-turis aja pada kangen Jogja, apalagi saya, yang sekolah, kuliah, and ketemu Popo di Jogja.

I feel like it’s a better place to raise my children.

Saya ngomongin niat ini ke Popo dan ide ini direject setelah dipikirin beberapa jam. Hahaha...

Intinya sih, Popo loves his job so much, it his passion and the payment+insurance is good. Buat pindah dari lingkungan yang stabil kayak gini, susah.

Sad, but unfortunately I have to agree. Emang gambling and very risky to move from Jakarta to Jogja. Kerjaan mungkin ada, rejeki anak juga enggak akan kemana. But it’s still not as stable as this one.

Walaupun ada baiknya risiko kayak gini diambil secepetnya, mumpung anak baru satu dan masih kecil. But, yeah, not that easy.

Anyway, Popo diminta ngisi kelas di kampusnya bulan depan. Who knows after that experience, he’ll change his mind. Hehehe...

Saturday, August 20, 2016

Back to Normal



Hari ini rasanya gloomy... Cause after around a year, our life is kinda 'back to normal.'

Normal-nya bukan karena hidup saya sekarang enggak normal sih. Tapi selama setahunan ini, saya tinggal deket sama Yang Uti, Yang Kung, and Sipa.

It's not like we planned it.

Awal nikah, saya udah tinggal terpisah di 1 apartemen di Jakarta Barat. Sipa tinggal di apartemen Jakarta Selatan dari single sampai dia nikah. Sementara itu, Yang Uti and Yang Kung ya di kampung halaman kesayangan, Jogja tercinta.

Karena udah pensiun, Yang Kung and Uti sering datang ke Jakarta. Biasanya mereka nginep di Jakarta Selatan, trus saya+Popo and Sipa+Abang (suaminya) dateng ke hotel.

Last lunch bareng sebelum boyongan. Hanhan sombong, enggak mau difoto.


Karena kantor Popo di Jaksel, trus saya juga sering maennya ke Jaksel (buat ketemuan sama Uti, Sipa, temen-temen), saya and Popo akhirnya pindah ke apartemen di Jakarta Selatan, yang juga tempat tinggal Sipa selama 2 tahun belakangan.

Abis saya and Sipa lairan, Uti ngerasa kepanggil. I mean, she just had 2 grandsons, living in the same apartments with no help. Not to mention, Sipa kerja dan bingung siapa yang jaga Hanhan (daycare, baby sitter, pembantu, mbak).

Ulang tahun Uti... Rame-rame.

So, this was where it got crazy, UTI AND YANG KUNG IKUT PINDAH KE APARTEMEN!!

Semua keluarga kecil tinggal di unit yang beda, but still in the same apartment complex. 

Jadi saya selalu deket sama orang tua dam adik saya satu-satunya. 

Rutinitas pagi hari kayak sarapan, mandiin Zedd dan Hanhan, itu dilakukan rame-rame.

Dulu beginilah keseharian Zedd and Hanhan. Gegulingan mesra. Setelah saya akhirnya jadi working mom, Zedd dititipin ke daycare. 


Emang sih Uti and Yang Kung tetep mobile. Kadang mereka ke Jogja atau Pekalongan. Pas itu, Hanhan bakal ngungsi ke rumah Nyai and Yayik (mertua Sipa) di Bogor. Tapi 70 persen ya keluarga besar saya di Jakarta. 

Hari ini, setelah setahun, akhirnya Uti and Yang Kung boyongan lagi ke Jogja. 

Cause we already figured it out.

Sipa akhirnya pindah ke landed house di suburb dan ada ART buat ngurus Hanhan. Saya emang udah niat buat pakai jasa daycare. Dan Alhamdulilah, Zedd udah kerasan di situ.

So starting from today, it's JUST me, Zedd, and Popo.

It makes me sad and kinda worry. Sekarang bener-bener bertiga doank. Bisa enggak yak? Kalau ujan, trus saya susah dapet ojek, siapa yang jemput Zedd dari daycare? Kalau Zedd sakit, trus saya panik, saya nanya ke Uti nya cuma bisa via telpon. Dll, dsb, dkk...

Sore-sore ngopi bareng Yang Kung and Uti. Nungguin Sipa, Abang, and Popo pulang kerja. Ah... the life of stay-at-home-mom.


But really, mostly sad. Yet I'm also happy. Di Jogja, hidup Yang Kung and Uti lebih 'normal.' It's their 'normal.'









Friday, May 20, 2016

Jadi cewek tegas!

Sekali-kali ngomongin relationship ah.

Tulisan ini muncul karena saya sedang membaca buku ini: 



Dan karena teman saya akhir-akhir ini banyak curhat soal hubungannya. 

Satu kalimat teman saya waktu curhat,
"Duh kok gw dapet pacar yang kayak begini amat sih?"

Jadi ceritanya dia pacaran sama cowok yang rempong nan ribet. 

Reaksi pertama saya waktu dengar itu adalah kasihan dan saya juga bersyukur karena Allah mempertemukan saya dengan cowok yang enggak rempong. 

Tapi reaksi selanjutnya (yang muncul setelah saya makan) adalah, loh, salah teman saya juga dong. 

Kenapa? Karena dia mau nerusin pacaran sama si rempong itu. Okelah kalau pas PDKT (ini bahasa udah old school banget deh. Apa sih versi barunya? Modus?) si rempong ini masih bermanis-manis, tapi pas udah jadian kan keliatan.

And my friend can just break him up. But she didn't...

Jadi pertanyaan:
"Duh kok gw dapet pacar yang kayak begini amat sih?"

Jawabannya:
Lha siapa suruh mau digituin.

Walaupun muka saya pas-pasan, saya pernah loh nolak cowok. Jadi si Daddy ini udah melalui proses penyaringan (yang tidak begitu ketat lol). 

Sering enggak sih denger omongan
"Ya kamu kan enggak di posisiku. Enggak ngerti rasanya punya cowok rempong."

(Rempong disini bisa diganti apa aja sih. Genit, kasar, pelit, you name it.)

Loh kebalik dong. Justru karena saya enggak mau punya cowok rempong, saya jadi enggak akan ada di posisi teman saya.

Ngomong-ngomong soal buku yang lagi saya baca itu. Itu buku jadul jadi telat banget saya bacanya. But anyway... Di buku itu ditulis, justru cowok males sama cewek yang all out.

Malah dibilang, pas awal pacaran jangan masakin si cowok. Bikinin aja popcorn.

Cowok bakal lebih tertarik sama cewek yang jual mahal, dibanding cewek yang ngelakuin semuanya di awal. 

Balik ke teman saya, saya enggak tahu detail pacaran mereka, tapi dari curhatnya sih, temen saya ini kayaknya segan/sungkan/males buat berdebat sama si cowok ini, which led her to follow many of his requests.

Ini pacaran apa mesen makanan sih? Pake request berubah jadi X, Y nya dikurangin, A nya ilangin. Duh kalau mau pacaran/nikah ya cintai semuanya dong, kelebihan dan kekurangannya. 

Kalau mau diubah-ubah, maen play doh aja sono. Trus kawinin tu play doh. Jadi esmosi. Eh lha kok malah ngomongin si cowok.

Balik ke teman saya. Saran saya sama dia sih harusnya dia lebih tegas/jual mahal/apalah namanya. It's me, ada minusnya ada plusnya. But I will always try to be the best for you. Doesn't mean I'll change who I am for you though.

Cause I know my friend, and she's more than enough for ANY man. Apalagi cuma buat a boy trapped in a man's body.



Wednesday, March 23, 2016

The baby gear industry

Waktu hamil saya sering browsing-browsing barang bayi. And I was shocked with the price.      

-Gendongan Rp 2 juta-an
-Bib/celemek Rp 200 ribu-an
-Stroller bisa seharga motor
-Crib yang lebih mahal dari spring bed (crib ada yang Rp 6-10 juta, sementara Eyang baru beli spring bed di mall yang harganya Rp 4 juta) 

I could ramble 10 pages long.

(Harga memang relatif, yang saya sebut di atas buat beberapa orang mungkin enggak mahal. Ini standar mahal saya.)

Oke, mungkin saya lihat toko yang salah. Ada juga yang murah, tapi...
Apa iya mau kasi barang murah buat anak? 

Apalagi when it comes to safety or comfy of our precious little baby.

Selain barang-barang mahal, ada juga barang-barang yang bikin saya "huh, really?"

Karena barang-barang ini enggak exist waktu saya bayi (atau karena saya lahir di desa). The point is my mom raised me and my sis without these items. 

You know, barang-barang kayak
- sterilizer
- baby food maker
- baby food processor 
- deterjen khusus bayi

Saya ngerasa kalau baby gear industry ini memanfaatkan asas "demi anak." Trus nge-charge harga mahal deh. 

Contohnya sterilizer, biar barang-barang bayinya steril. Demi kesehatan bayi. Lha jaman Yang Uti, botol dot dicuci biasa, aman-aman aja. Ada yang bilang, lha jaman sekarang kan kumannya mutasi. Baiklah... A little skeptical about that, but I can deal with it.

Atau baby food processor yang basically cuma nggabungin kukusan sama blender (yang akhirnya saya beli juga sih, hehehe...). 

Saya enggak benci sama industri ini. Walaupun awalnya saya super skeptis sama barang-barang itu, I ended up having Pigeon sterilizer, Beaba baby cook, Ergo baby carrier, dan perintilan-perintilan lainnya. 

Karena I want the best for my baby, walaupun emak bapaknya harus hemat-hemat. 

Beberapa barang emang worth the price dan saya enggak punya pilihan lain. Contohnya gendongan bayi. 

Pas hamil, saya mikir, diih buat gendong bayi aja sampe Rp 2 juta. Enggak lah yaw... Dan sekarang saya punya... Hahahaha...

Saya akhirnya pakai yang jutaan ini karena mikirin safety dan comfy nya Pipi Bapao. 

Saya pernah coba gendongan yang Rp 200 ribuan, and it was not comfortable at all. Pahanya Pipi Bapao jadi merah-merah. Kasiannn...

Kalau yang jutaan, udah didesain supaya bayi aman, nyaman, dan enggak ngaruh ke perkembangan tulangnya bayi. Soalnya kan ada kekhawatiran soal hip dysplasia juga. 

In my opinion, harganya masih kemahalan. Tapi emang gap harganya segitu. Either I buy the low end or the high end. 

Ada sih versi KW-nya, but with the risk of hip dysplasia, saya enggak nyoba yang KW. 

Waktu saya beli food processor juga gitu. Beaba itungannya yang paling mahal, dengan harga di atas Rp 2 juta. Ada merk lain yang Rp 600 ribu. Tapi ya leaning towards Beaba karena pengen yang bagus buat Pipi Bapao.

Ada beberapa barang yang saya nyesel beli mahal, ada juga yang enggak. 

Salah satu yang nyesel itu beli sterilizer dan freezer. Lha ternyata si Pipi Bapao ini nolak botol dan ASIP. 

Jadi sterilizer cuma kepakai 3 bulan doank (sampai usia 3 bulan dia masih mau minum ASIP dari botol). Freezer sekarang saya pakai buat nyimpan puree MPASI, yang juga agak enggak guna karena Pipi Bapao lebih suka makan sendiri (baby led weaning).

Beberapa barang yang menurut saya worth the investment itu stroller Coco Latte Trip R dan Ergo baby carrier. Soalnya dipakainya lama, harga yang mahal kalau dibagi per hari, ya jatuhnya murah juga. 

Walaupun bulky, ini stroller gampang dipakai, bawahnya bisa muat banyak, dan bisa dipakai dari newborn.

Dasarnya saya emak-emak pelit, beberapa barang itu saya akalin, kayak Beaba baby cook saya patungan sama Onty Sipa. Toh bayi kami beda sebulan. 

Gendongan Ergo itu hadiah dari lomba di Elevenia. Kalau enggak menang, saya udah niat cari bekas. Toh bisa dicuci. Hehehe...



Akhirnya kayak love-hate relationship deh sama industri ini. KZL kalau lihat harga mahal, tapi seneng pas liat Pipi Bapao senyum karena barang-barang itu. 


Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...