Sunday, May 10, 2020

Pengalaman Hidup sama ODP/PDP

Still a post about Corona virus atau Covid-19, cause it’s just a gonna be a new normal. So let’s normalize it by talking about it. 

Disclaimer: saya enggak berniat menyalahkan pihak manapun, although i have a feeling that i might look like it. Ini virus baru, semua pihak juga belajar soal ini. Jadi wajar ada loophole. Again, here I’m just telling my story,  my personal experience.

Awal Maret, Popo ada undangan training di sebuah hotel selama seminggu, dengan total peserta kurang lebih 200 orang. Popo nginep di hotel dan deket sama beberapa orang. Yakali seminggu deket sama 200 orang yakan. 

Salah satu orang yang cukup deket sama Popo adalah X. Usianya 2 tahun lebih muda (late 20s) dan sekamar sama Popo di hari pertama training. Yang bikin mereka deket, selain karena sekamar, karena mereka sama-sama suka desain grafis.

Hari kedua, panitia mulai ngubah susunan kamar dan Popo enggak lagi sekamar sama Mas X. Tapi tiap hari, mereka ada di ruang training yang sama, beda meja. 

I believe, at this point, you can already guess the ending. But let me continue the story. Hari terakhir training, karena Mas X beda kota sama Popo, mereka pun salaman perpisahan. Pertemuan selanjutnya mungkin entah kapan. Habis pamitan, Popo pulang ke apartemen, ketemu saya dan anak-anak. That was March 15.


Senin, 16 Maret 2020 (H+1)
Beberapa orang udah wfh (work from home), tapi kantor Popo belum. Feeling istri emang bener ya. Saya khawatir, apa bijak buat tetep ke kantor pas corona lagi hype gini? His answer, “lha aku kan enggak sakit. Mau ngomong apa sama bos?”

Di minggu-minggu ini, Popo masih wasapan sama Mas X, yang udah sampai di kota asalnya. Mereka ada project bareng soalnya. Semua normal, cuma Mas X ngerasa enggak enak badan, mungkin kecapekan. 


Selasa, 17 Maret 2020 (H+2)
Kantor Popo mulai wfh. Belum full, jadi dia kebagian masuk hari Selasa dan Kamis. Rutinitasnya kira-kira gitu sampai akhirnya full wfh minggu depannya.



Rabu, 25 Maret 2020 (H+11)
Grup wasap berisi peserta training tiba-tiba dikunci. Admin ngabarin bahwa ada beberapa peserta yang mungkin terkena covid. Beberapa japri dan mengira-ngira siapa yang kena. Ada Pak A yang lagi opname karena kelelahan juga, mungkin Pak A? Atau Pak B, yang juga lagi enggak enak badan?

Enggak ada test atau sejenisnya. Karena waktu itu, buat bisa dites enggak mudah. Wisma Atlet baru dibuka dan antre panjang. Apalagi peserta training ini dari berbagai kota. Ya gimana mau organisir tes? Apa ya admin/panitia suruh ngontak  banyak RS di berbagai kota?



Kamis, 26 Maret 2020 (H+12)
Kabar duka datang dari grup, Mas X meninggal karena covid-9. Popo langsung lemes, saya apalagi. Sungguh enggak ada yang mengira Mas X adalah orang yang dimaksud di grup, sehari sebelumnya. Dia umur 20an, baru menikah, dan masih wasapan sama Popo seminggu sebelumnya. 

Kami berusaha tenang, well saya sih, Popo langsung pake masker di rumah. WOY UDAH TELAT WOY!! Kan udah bareng dari lamaaa... kami juga bobo bareng anak-anak. 

Saya berusaha tenang. Googling, cari vitamin dan ubo rampe yang diminum pasien covid yang sembuh, thanks to Twitter. Telp 119 yang enggak berhasil nyambung selama 2 hari. Telpon Sipa buat precautious kalo Popo atau saya harus isolasi dan anak-anak enggak bisa ikut.

Sambil mikir, 2 hari lagi, 2 hari lagi, 2 hari lagi udah 14 hari setelah Popo kontak fisik terakhir sama almarhum X. Kami cuma harus sehat 2 hari lagi. 
Status: ODP (orang dalam pemantauan)


Jumat, 27 Maret 2020 (H+13)
Popo radang tenggorokan. Panik! Tanya Deli, spupu saya yang dokter, baca buku pedoman Kemenkes, Googling, tanya dokter yang disediakan pihak panitia training via wasap. It was crazy.

Kami takut ke RS karena banyak yang ditolak. Kami juga takut gimana kalo di sana malah jadi ketularan. Waktu itu belum kayak sekarang, banyak banget cerita menakutkan. Ditolak RS, APD enggak ada, di ruang isolasi enggak ada air atau makanan. Trus anak-anak kami gimana?

Akhirnya kami putuskan di rumah. Popo minum madu, vitamin C, sambil berharap Popo cuma serak karena tidur ngorok. Lha saya kawin sama dia 7 tahun. Ngorok itu tiap hari, tapi enggak pernah serak. Halahhh...

Popo selalu dipantau tim dokter dari penyelenggara training via wasap. Kenapa wasap, karena peserta dari berbagai kota. Dokter ini yang lalu ngasi status ODP dan PDP ke Popo.
Status: PDP (pasien dalam pemantauan)


Sabtu, 28 Maret 2020 (H+14)
Kami memutuskan datang ke dokter di klinik apartemen. Walaupun dokter ini dokter umum, tapi dia teliti dan kami sekeluarga cocok sama dia. Bahkan Zedd enggak pernah lagi ke dokter anak, karena pake obat dokter ini sudah sembuh.

Singkat cerita Popo kena infeksi bakteri dan harus dikasi antibiotik. Dokter enggak melihat ada tanda-tanda covid. 
Status: PDP (pasien dalam pemantauan)

——-
Singkat cerita, antibiotik itu ngefek dan Popo sembuh setelah 3-5 hari. ALHAMDULILAH. 
Status turun jadi ODP setelah Popo sembuh dan bener-bener selesai “dalam pemantauan” 14 hari setelah sembuh.

Lha status saya sebagai istri gimana? Jujur ku pun tak tahu. Technically saya dan anak-anak ODP juga. Tapi enggak ada yang declare, ya gimana donk? Apa saya masuk data ODP di website Covid? You tell me lah.


Collateral Damage
Pas tahu Popo kontak sama almarhum Mas X yang positif Covid, kami langsung ngasi kabar orang-orang yang kontak sama kami. Yup, Popo masih ngantor kan? Enggak cuma ngantor, dia juga meeting sama banyak orang. 

Alhamdulilah Popo kerja di kantor yang baik dan kekeluargaan. Semua langsung gercep tracing trus bantu ngurusin Popo dan kami, keluarganya. We are forever in debt sama kantor ini. 

I can’t spare you the detail for privacy reason, but we finally got tested for Rapid Test dan beberapa tes lain yang bukan swab, semua secara mandiri. 

Alhamdulilah 2x tes, hasilnya non-reaktif. 

Cuma di sini saya ngerasa ada loophole soal Covid. Karena waktu Popo tahu dia ODP, itu udah H+13. Selama 13 hari, dia udah meeting sama orang banyak, ketemu tante dan om kami, juga kontak sama penghuni-penghuni apartemen.

Trus gimana cara handle loophole nya? I honestly don’t know. Mungkin massive test? Mungkin langsung wfh di 15 Maret? I’m just happy we are alive and well.

And also, Al Fatihah to X. Hope you’re in a better place now.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...