Tuesday, January 10, 2012

Sariawan oh sariawan

Ini cerita enggak penting selama liburan di Bali dan Jogja. Hal-hal kecil yang bikin saya bengong. Dasarnya saya orang ‘ndesit’ kali yah?



Itu pagi hari yang normal, cerah, dan saya baru kelar mandi. Lagi siap-siap pake sun block, eh si Robert manggil dari atas, “Nadia, doctor!!!”. Saya langsung naik ke kamar mereka, yang memang tinggal di rumah saya selama liburan di Jogja. Sampai di atas, Robert dan Nurman kelihatan panik minta dibawa ke rumah sakit. Katanya ada 'egg’ muncul di gusi Robert. Robert pun memperlihatkan si 'egg’ itu ke saya sambil mangap-mangap. Lha? Itu bukannya sariawan yah?



Saya pun dengan santai menjawab, “but that’s only…… You know it’s just……” baru deh saya sadar, saya enggak tahu bahasa inggrisnya sariawan ahahaha…. Saya pun coba google translate, mereka bengong. Coba dari bahasa indonesia ke bahasa jerman, mereka juga bengong. Coba bahasa indonesia ke bahasa inggris terus ke bahasa jerman, masih nihil. Eh? Jadi sariawan itu cuma ada di indonesia? #wongndeso.



Akhirnya saya cuma bisa menjelaskan kalau itu mungkin karena dia kurang vitamin C, kurang makan buah, dll deh. Kita bertiga bahkan sempat diskusi soal ini. Saya masih enggak percaya ada orang yang belum pernah sariawan seumur hidupnya. Kalau memang itu cuma ada di daerah tropis, kenapa juga Robert dan Nurman enggak mengalami sariawan selama setengah tahun tinggal di Singapura? Apa mungkin 'the egg’ itu sesuatu yang berbahaya dan bukan sekedar sariawan? Setelah diskusi dan googling (wikipedia hanya punya definisi sariawan dalam bahasa indonesia, di translate malah amburadul), Pada akhirnya kita sepakat enggak jadi ke rumah sakit. Saya coba bawain obat sariawan, sementara Robert tanya sama temannya yang dokter gigi. Kemungkinan terburuk, dia akan periksa di KL, kota perhentian mereka selanjutnya setelah Jogja.



Entah saya yang menganggap enteng atau mereka yang gampang panik, yang jelas beda budaya ternyata bisa 'ngefek’ ke hal sepele. Selain sariawan, selama di Bali ada momen-momen dimana saya bangga campur bengong campur nahan ketawa karena teman-teman saya ini.



Mungkin karena biasa mengendarai di lajur yang berlawanan dengan Indonesia, mereka cenderung berkendara di bagian kiri jalan, bahkan ketika mereka mau belok kanan. Ebuset, saya yang bonceng jadi deg-degan donk. Udah enggak pake lampu sen, enggak pake ancang-ancang pula. Apa di sana mobil pada ngalah sama motor yah? Yang jelas mereka pede banget ngeloyor gitu aja. Kalau saya bawa mobil/motor di belakang mereka, saya pasti emosi deh. Jadilah saya….errrmmmm…. Apa sih bahasa Indonesianya???? Kalau di sini sih disebutnya 'mbaplang’, jadi yang bonceng melambaikan tangan buat support/gantiin lampu sen gitu. Ternyata hal kecil itu membuat teman-teman kagum. Wai yan bilang “wow, everytime you wave your hand, all cars stop.” lha ya emang tujuannya itu mbak. Hhhhzzzzzz -_______-



Waktu saya bonceng , Robert minta saya untuk memotret pemandangan sepanjang jalan, terutama yang hijau-hijau. Lha jadi lah saya memotret sambil jalan. Richard heboh donk! Dia bilang “nadia’s amazing! She takes picture while sitting on that bike!” Eh? Dia juga heboh karena saya sibuk sms selama di jalan, juga benerin tas, plus ngutak atik kamera. Intinya sih dia kagum karena saya bisa bonceng tanpa pegangan apa-apa. Dia juga memuji saya ketika saya naik di motornya kurang dari 1 menit *tepuk jidat*, katanya sih Wai yan kesulitan kalo mau bonceng. Ironis juga, mengingat dia paling sering bego-begoin saya karena saya paling 'lola’ kalau diajak ngobrol. Dia bahkan mengklaim kalimat yang paling sering saya ucapkan itu “eh, I don’t get it”. Jujur, saya bingung ini kemajuan atau kemunduran?



Saya tahu sih kalau beda negara, beda budaya. Saya juga bukannya tidak pernah mendengar perbedaan-perbedaan itu. Tapi ketika mengalami langsung, saya tetap enggak bisa berhenti kaget, heran, bengong, bingung. 



Wai yan kaget karena saya tinggal di 'rumah’, sementara saya kagum karena dia tinggal di apartemen. Soo yang berkomentar “do you know a lot of people died because riding motorcycle?” ketika saya cerita alat transportasi saya di rumah adalah motor. Nurman yang ngakak karena saya lebih suka MRT daripada bus dengan alasan “itu enggak ada ada di Jogja”. Itu hal-hal kecil yang penting enggak penting, tapi means a lot to me. Sekali lagi, emang dasarnya wong ndeso.



P.s: soal sariawan Robert, terakhir dia skype saya minggu lalu dan 'the egg’ masih utuh, padahal itu dari pertengahan Desember. Katanya sih dia baru mau ke rumah sakit kampus kemarin senin. Apa memang bukan sariawan yah?

No comments:

Post a Comment

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...