Showing posts with label review stroller. Show all posts
Showing posts with label review stroller. Show all posts

Friday, October 20, 2017

Review Combi Cozy

Right to the point, saya mau review Combi Cozy punya Zedd. Stroller ini adalah stroller kedua setelah saya ngejual Coco Latte Spin-R Zedd, karena enggak cukup di apartemen mini kami.



Harga
Combi Cozy ini saya beli di IMBEX 2016 dengan diskon 30%. Harganya Rp 2.9 jutaan.
It's quite a bargain mengingat Combi itu harganya Rp 3 jutaan ke atas. Yang bagus bisa sampai Rp 6 juta.

Merk
Combi ini merk asal Jepang. Kalau sering liat YouTube and drama-drama Jepang gitu, emang keliatan kalau Japanese tend to live small and simple.

Kayak Youtuber Tokidoki Traveler, Emma, yang pernah tinggal di apartemen seluas 8meter persegi di Tokyo. Mobil juga model Karimun yang emang compact. So, enggak heran kalau merk-merk stroller asal Jepang itu minimalis alias compact, termasuk Combi. Enggak cuma stroller, car seat Combi pun mungil lho. But, mind this article dan yang baru ini.

Merk asal Jepang yang lain itu Aprica, tapi di IMBEX harganya aja Rp 5 jutaan udah diskon. Huhuhu... it's obviously a premium brand.

Bentuk
Sebelum beli Combi, saya udah riset sampe enggak terhitung. Mulai dari website nya The Children Store (distributor resmi Combi di sini) plus YouTube. Website asalnya enggak saya baca, karena pakai huruf Jepang.


(Bobo abis nemenin Mommy kerja.)

Hasilnya sungguh membingungkan. Di mata saya, tipe satu dan lainnya sama aja. Perbedaan yang saya temui cuma ada di berat stroller yang beragam.

Hampir semua tipe Combi bisa one hand fold dan bisa berdiri sendiri. Secara flow, saya bisa gendong Zedd dari stroller, lipet stroller, trus benerin posisi gendongan (sementara stroller berdiri), trus tarik/angkat stroller nya deh.


(Ini tombol/tuas yang buat ngelipet. Just put your hand there, geser pake jempol, tarik stroller, kelipet deh.)

Enggak perlu jongkok sama sekali. Kalau dibandingin sama stroller compact lain ya, macam umbrella stroller atau Babyzen Yoyo sekalipun, orang masih harus jongkok buat ngelipet, ngangkat, atau buka stroller lho. Sementara si Combi ini enggak, saya bisa lipet dan bawa dengan posisi berdiri. So, Combi is definitely a winner for me.


(Tuh, bisa berdiri sendiri dan super ringkes.)

Waktu di IMBEX, mumpung ada staff tokonya, saya tanya dong apa bedanya. Ternyata, mereka juga enggak bisa jelasin. Hahahahahaha...

Dengan budget Rp 2-3 jutaan, yang masuk budget saya itu Combi Cozy. Karena enggak bisa tahu beda tipenya 1 sama lain, ya saya beli si Cozy yang paling murah. Hehehehe...

Kanopinya guede... bisa dilihat di foto kalau itu bisa nutup sampai membentuk sudut 180 derajat. And if you notice, itu bentuk khas Combi. Pas kanopi diturunin, keliatan lah kalo itu Combi.

Buat material, karena Combi Cozy ini termasuk lightweight stroller, ya bahannya sejenis plastik and aluminum gitu. Durabilitynya keren sih. Sampe setahun ini baru ada 1 scratch yang saya temuin.



(Maapin muka bobo Zedd ikutan nongol)



Performa
+ Beneran super light weight. Apalagi sebelumnya saya pakai Coco Latte Spin-R yang lumayan berat ye.

Jadi dulu kalau dorong pakai tenaga, sekarang harus dikurangin tenaganya. Masalahnya pas dorong Combi, kok strollernya enggak gerak. Menurut Popo, itu karena saya terlalu kuat dorongnya, dan arah ndorong agak miring ke bawah. Yang pada bawa stroller berat, coba dibayangin deh. Pas dorong, pasti otomatis kita ada tenaga ke bawah.

Nah, itu yang bikin Combi enggak jalan. Kalau dorong Combi, cukup dorongin tangan ke depan.
Susah dijelasin sih. Tapi semua cuma masalah kebiasaan.

+ Karena lightweight, enaknya bukan cuma pas ndorong, tapi juga pas ngangkat. Gampang banget deh. Beda sama waktu ngangkat Spin-R.

- Kekurangan dari light weight stroller itu masalah jalan jelek. Enggak usah jalan jelek deh, ada tanjakan 2-3 cm aja, stroller akan njungkel ke depan.

Jadi, kalau ada tanjakan, saya injek pijakan kaki di belakang, trus naikkin strollernya.


(Saya tahan batang silver itu pakai kaki, trus naikkin strollernya)

- Kekurangan Combi lainnya ada di fabric. Cepet kotor. Saya pernah liat Combi parkir di daycare Zedd dan lusuh banget. So, I'm actually already prepared for this.

Beda sama si Spin-R yang warnanya emang agak washed out, tapi enggak cepet lusuh.


(Ini foto Oktober 2017, jadi setelah hampr setahun pakai. Belinya IMBEX, November 2016.)

Solusinya ya beli yang warna hitam. Tapi ternyata Combi warna item itu beda tipe dan harganya lebih mahal. 😞

+ Balance Combi ini ternyata bagus lho. Walaupun enggak dikunci (pake foot step itu lho), si Combi ini bisa berdiri dengan tegap dan enggak gampang terjungkal.

Lho? Stroller lain juga begitu bukan?

Nah, saya sadarnya waktu Zedd berhasil manjat stroller itu. Jadi saya siap-siap ke daycare, stroller saya siapin, and then I went into my bedroom to grab some diapers. Pas balik, Zedd udah di atas stroller. Jadi dia bisa manjat, dan Combi enggak mundur atau terjungkal ke depan. Of course this kind of behavior was dangerous and Zedd shouldn't do that. Tapi, untungnya Combi ternyata cukup kokoh buat dipanjat balita berat 11kg.


(Ini Zedd habis manjat sendiri loh. Dan stroller enggak maju-mundur sama sekali. 😮)

- Ngomong-ngomong soal kokoh, kalau saya pegang Combi, karena ringan, jadi kerasa ringkih. Coba aja goyang-goyangin, rasanya kayak bakal copot tuh stroller. Tapi so far enggak ada satu pun yang copot, jadi cuma keliatannya aja ringkih.

+ Keranjang bawah stroller is actually quite big. Bisa buat nyimpen banyak barang. Kadang malah bisa dilipet pas ada barang-barang di situ.


(Tuh, gede kan?)

- Combi ini bisa dipakai newborn, jadi bisa full reclined (jadi datar kayak tempat tidur gitu). Masalahnya, 'si kasur' itu enggak empuk. Saya bandingin sama Spin-R yang jauh lebih empuk. Gampangnya sih, tinggal beli alas stroller. Zedd sendiri enggak pakai alas stroller karena udah umur 13 bulan waktu start pakai Combi, dan bisa-bisa aja tidur. Udah ngantuk kali? Hahahaha...


(Keep in mind kalau kaki Zedd nggantung ya.)

Kesimpulan
Overall I really love Combi and for me it's a perfect stroller for:
- Small house/apartment
- Ibu-ibu yang enggak punya nanny
Yang mana itu saya banget.

Price wise, harga segitu udah cocok banget buat stroller sekelas Combi. Saran saya, always hunt expensive baby gears waktu pameran kayak IMBEX atau MBFair.

Kualitas barang Jepang enggak akan bohong yah. Kalau dihitung-hitung, udah hampir setahun saya pakai Combi Cozy. Pernah jatuh dari bagasi mobil beberapa kali dan masih oke. Enggak ada scratch dimanapun, padahal saya pakai itu di jalanan apartemen yang kadang becek, kadang berdebu, dan enggak mulus. So it's really good quality.




(Masih mulus)

That's all my review for Combi.

(All photos are taken by me)


Saturday, January 21, 2017

Tipe Stroller, Menurut Saya…


Berhubung saya pernah 'tenggelam' dalam dunia per-stroller-an. I thought, I'd share my story and how I finally got my perfect stroller.

Sebenernya semua tentang stroller bisa di googling yah. Tapi serius deh, PUSING!!! Too many brand with too many types. At one point, sampe bingung bedanya apah. Ini sih ngalahin mobil variasinya.

Saya pernah coba googling tipe stroller, hasilnya: saya makin bingung. Ada stroller buat jogging dengan roda gede, ada stroller yang lightweight. Pusing lah.

Kalau udah gitu, saya bisa loh ngabisin waktu 1-2 jam cuma googling and streaming stroller biar paham. And until today, saya masih enggak ngerti kenapa ada stroller yang harganya bisa diatas 10 juta dan ngelipetnya masih beberapa step.

Anyway, menurut saya, tipe stroller cuma dibagi 3.

1. Kecil
Ini stroller yang saya bilang tadi. Kecil, kalo dilipet ramping. Jadi enggak menuh-menuhin tempat. 

Kalau versi umumnya, stroller ini includes: stroller buat travel, one-hand fold stroller, umbrella stroller. 

Cirinya, liat rodanya, kalau roda depan and belakang sejajar, mayoritas itu stroller yang bisa dilipat jadi kecil.

Combi Cozy punya Zedd. Foto was taken by  me.


Cara lipatnya juga macem-macem. Yang one-hand fold udah self-explanatory yah. Ya pake 1 tangan. Yang umbrella, pake kaki and harus jongkok. Tapi in general, tipe stroller ini bisa dilipet sambil gendong anak. 

Cukup 1 tangan aja, stroller udah jadi kecil. One more plus is how the stroller can stand on its own. Photo was taken by me.


Merknya beragam. The ultimate one-hand-fold stroller udah jelas Baby Zen Yoyo karena cara bukanya yang keren. Cukup mengayunkan stroller dengan 1 tangan, trus voila, stroller kebuka. Tapi harganya Rp 9 jutaan. Sayangnya, walaupun bukanya gampang, ngelipetnya pakai jongkok. Duh, jongkok sambil gendong anak itu rada susah yes? Yang buatan Jepang ada Combi and Aprica, harganya variatif, dari Rp 3-10 jutaan.

Buat umbrella stroller yang saya tahu Mac Laren and Silver Cross. Enggak tahu harganya karena enggak begitu suka sama model umbrella ini. Alasannya mirip sama Yoyo, harus jongkok buat ngelipet ini stroller. Kata temen saya yang punya ini sih, umbrella stroller bisa berdiri sendiri, tapi posisi kebalik, jadi handlenya yang di bawah. Agak rempong buat saya (orangnya enggak mau ribet).

Ini jenis umbrella stroller. Sumber: Maclaren.us


And of course, Coco Latte dan Joie. Dua merk selalu punya jenis stroller apapun.  Joie namanya ada Mirus, Meet Float, Sma Baggi, yang saya bingung bedanya apa.

Coco Latte juga ngeluarin yang one-hand-fold stroller mirip Combi and Aprica.  Saya enggak tahu namanya, tapi dipakai sama temen saya buat anak kembarnya.

Saya juga lihat umbrella stroller buatan Joie. Pokoknya 2 brand ini, Joie-Coco Latte, punya buanyak varian stroller dengan harga bersahabat.


2. Stroller Gede
Tipe kedua ini yang gede-gede. Manteb. My favorite, Quinny Moodd atau Stokke. Dua-duanya harganya premium. 

Yang manteb juga and miring harganya, balik lagi ke Coco Latte. Coco Latte Angel Bay bagus tampilannya. Atau yang tiruan Bugaboo, Coco Latte Bree, widihhh kalau punya landed house, pengen deh beli itu.

Ini stroller idaman saya, Quinny Moodd. Not only I can't afford it, tapi anak saya cowok. huhuhu... Sumber: Quinny


Ada juga yang dipencet terus buka tutup sendiri, kayak Transformer, namanya 4Moms Origami.

Cirinya stroller gede itu: rodanya gede, rangkanya gede. Roda depan dan belakang bisa enggak sejajar. Biasanya yang belakang lebih lebar, jadi kaki saya enggak nabrak stroler kalau lagi dorong. 

Kalau tinggal di apartemen mini and pake mobil mini kayak saya, mendingan stroller tipe ini dicoret deh. 

Why?
-         Karena gede bentuknya.
-         Kalau dilipet juga gede.
-         Beberapa stroller kalau dilipet, enggak bisa berdiri, meaning harus ditidurin gitu.

3. Stroller Travel
Agak mirip sama yang tipe pertama. Cuma stroller travel bisa lebih kecil and designed to fit in plane's cabin. 

Sayangnya beberapa stroller, termasuk Baby Zen Yoyo yang versi lama, enggak bisa full recline. Jadi bayinya enggak bisa rebahan. Zedd sendiri pernah coba pakai dan ternyata dia enggak betah. Untung saya sewa dulu.

Foto dokumentasi pribadi. 


Yang beken dan sering keliatan pas saya liburan itu, Coco Latte Pockit and Coco Latte i-sport. Saya juga pernah pakai Coco Latte Otto yang bisa dilipet jadi kecil, tapi lipetnya rempong buat saya. Beberapa step gitu deh. 

Baby Zen Yoyo emang mahal, tapi ada beberapa yang mirip and harganya lebih murah, kayak Einhill, Kiddopotamus, and Yaya. Sebenarnya saya sempat pengen beli Yaya. Yaya setahu saya harganya di 2 jutaan. Agak mahal buat standar saya. Trus Popo enggak setuju karena kesannya beli mahal buat barang KW.

--
So that was all. Buat saya stroller Cuma 3 tipe itu. Seperti di post sebelumnya, saya akhirnya memilih stroller kecil dengan segala kekurangannya, which is CombiCozy. Kayak susah jalan di medan off road, kesannya ringkih, dan kaki yang sering nabrak stroller pas lagi dorong.

Awalnya saya pengen Yoyo, tapi udah jelas lah ya enggak kebeli. kalaupun dipaksa nabung, kok ya sayang duit segitu buat stroller doank. Saya lalu ngincer Joie Sma Baggi/Meet Float/Mirus (Sungguh saya enggak paham apa bedanya).

Tapi sebelum saya beli, eh lha kok makin banyak yang pakai. Apalagi warna tosca yang saya incer. Males kalau banyak yang ngembarin. Lha Coco Latte ini aja banyak kembarannya sama tetangga. 

Terus sempat pengen beli tiruannya Yoyo, saking sukanya sama bentuknya yang buat saya itu stylish. Tapi Popo enggak setuju, karena kesannya KW. 

Dan si Combi pun muncul, tak terduga. Karena harga Combi yang cukup mahal, saya sama sekali enggak ngelirik ini merk. Walaupun masih suka ngintip harganya di The Children Store (TCS). Saya juga masih gamang beda tipe 1 dan tipe lain, karena bentuknya kan one hand fold semua yak. 

Bener-bener enggak direncanain, saya, Yang Kung, dan Yang Uti ke IMBEX akhir 2016. Popo waktu ini masih di kebun. Trus saya lihat Joie yang saya incer, eh lha kok harganya mahal to? Bisa 3 juta gitu, padahal di ITC and online, harganya 2 jutaan.

Photo was taken by Yang Kung.


Iseng masuk ke stand nya TCS, ealah lagi diskon. Saya juga udah muter, diantara, Joie Mirus, Jette, sama Combi, ternyata Combi yang paling murah. Diskonnya 1 juta lebih dari harga 3,8 juta. Bisa dicicil pake Blibli pula. Langsung deh dibeli.

Moral of the story: kalau belanja tungguin IMBEX atau MB Fair yah! hahahaha...

I am so happy with this stroller. Soalnya enggak nyangka bisa beli yang brand asal Jepang. Selama ini cuma berani beli stroller yang harganya di bawah Combi. Yah, rezeki anak emang enggak kemana.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...