Monday, July 9, 2018

Review Kereta Bandara


*Bebersih debu dulu biar blog-nya enggak bulukan.*

Another review kereta from me. Agak heran kenapa jadi sering nge-review kereta, padahal dulu review barang bayi. Somehow I feel like Sheldon. Am I a train fan?

Di Stasiun Sudirman Baru.


Anywhoo… beberapa minggu lalu, saya terbang dari Jogja ke Jakarta. Karena habis lebaran, harga tiket yang mahal bikin kami harus beli tiket pesawat yang turun di Bandara Soetta. Padahal selama ini, saya selalu turun di Halim karena lebih deket ke apartemen.

The good thing was, we could try the new skytrain and the new airport train. Saya berangkat berempat, sama Zedd, Yang Kung, and Yang Uti. Dengan jumlah orang segitu dan harga kereta bandara, sebenernya lebih murah pake taksi sih. Tapi kapan lagi mau nyoba 2 kereta ini? Jarang-jarang saya ke Soetta, maklum, sekarang saya kan ibu rumah tangga. Enggak dinas… hehehe…

Liat pemandangan.


Bilang sama eyang-eyang, mereka setuju buat nyoba kereta bandara. Sebelum nulis pengalaman saya, here’s few things about Kereta Api Bandara Soetta.

-        -  Harga tiketnya Rp 70.000, tapi kalo pilih 3 penumpang, harga otomatis jadi Rp 60.000. makin banyak penumpang makin murah. Harga weekend lebih murah lagi, Rp 35.000.

Jangan dibuang ya abis naik, Karena harus tap lagi buat keluar.



-         -  Kereta Bandara ini ada jadwalnya. Cek jadwalnya di Twitter @RailinkARS atau Meja Informasi juga punya pamphlet-nya, but it’s basically every 30 minutes. Tapi bukan jam tepat kayak jam 15.00. Misalnya, kereta yang  saya incer itu 13.50. tapi saya telat, kelamaan jalan kayaknya. Trus saya  naik yang 14.20.

-          - Tiket bisa dibeli sebelumnya secara online, tapi kalo saya sih deg-degan. Mending beli langsung aja, deh.

-          - Beli tiketnya pake mesin dan kartu debit. Ada mesin edc di tiap mesin penjual tiket. Enggak ada loket atau uang cash.


And here’s my review.
(+) Karena pergi sama 2 wong sepuh dan 1 balita, saya riset dulu soal kereta bandara ini. Biar nanti enggak rempong. Info soal kereta ini gampang dilihat dari media-media online dan twitter @RailinkARS. Di twitter juga bisa nanya ke adminnya. It’s an active account. Selain internet, orang-orang sekitar bandara semua sigap menjawab pertanyaan. Mulai dari security, cleaning service, semua tau soal Kereta Bandara and Skytrain. I’m impressed! Jadi enggak perlu takut nyasar ya.

Source: Screenshot dari twitter @RailinkARS.


(-) Intinya, Stasiun Kereta Bandara ini ada di luar 3 terminal bandara. Jadi habis landing, keluar Terminal Kedatangan, kami harus naik skytrain/kalayang menuju Stasiun Kereta Bandara/Airport Railway Station, trus naik kereta bandara di situ menuju Stasiun Sudirman Baru, tujuan kami. 

Sekilas, kayaknya simple ya? Ternyata jalannya mayan panjang, especially if you walk with a-3-year-old who walk so so slow. Pakai naik turun juga. Saya enggak bawa stroller jadi enggak masalah soal naik turun. Tapi ya itu, jadi lama jalannya karena nungguin Zedd.

Buat para mak-mak dengan balita, stroller, atau orang sepuh, just be prepared.  

Waktu keluar dari terminal kedatangan, enggak keliatan stasiun Kalayang-nya. Saya nanya ke security, ternyata stasiun Kalayang itu harus nyebrang dulu. By the way saya turun di Terminal 2. Dari situ, liat ke kanan, ntar ada bangunan baru 2 lantai gitu.

Skytrain Bandara Soetta ini adanya di lantai 2, jadi kami harus naik escalator. No trolley allowed. Untungnya kami enggak bawa koper. Ada lift sih, tapi enggak saya coba. No photo on this sky train, karena saya ribet bawa Zedd  and barang.

(+) Naik skytrain gratis.

(-) Di gerbang stasiun Sky Train dan di peron saya lihat airport helper yang muncul di berita-berita itu. Setahu saya, airport helper ini tugasnya bantuin orang kayak porter, tapi gratis karena mereka digaji sama Angkasa Pura. Setahu saya lagi, helper akan menawarkan bantuan ke yang orang-orang ‘prioritas.’ Tahu kan? Manula, bumil, divable, people with baby/toddler/small kid.

Cuma helper ini saya lihat bengong aja. Apa karena kami enggak bawa koper? Tapi Yang Kung bawa ransel berat, lho. Atau karena Yang Kung and Yang Uti kelihatan seger? Tapi masak enggak kelihatan sih mereka umur 55-65? Saya hamil cuma emang belum keliatan, tapi kan nggandeng Zedd.

Entahlah, mungkin harusnya saya yang minta bantuan mereka?

(-) Ada banyak pintu-pintu buat masuk kereta. Kalo pernah naik MRT di Singapur, ya sejenis itu pintu-pintunya. Tapi ternyata masuknya cuma dari pintu ujung. So if you see people gather around the corner, follow them! Pas saya perhatiin, ternyata keretanya enggak sepanjang pintu-pintunya. Mungkin itu alesan pintu yang dibuka cuma yang di ujung.

Stasiun Kereta Bandara cuma 1 stop dari Terminal 2, jadi cepet banget naik Sky Train ini. Dari situ kami turun lagi, trus masuk ke Stasiun Kereta Bandara. Jalannya cuma 1 kok, tinggal ikutin aja. Tapi ya itu, panjang bok! Kerasa banget kalo bawa toddler.

(+) Masuk stasiun langsung kerasa modern banget. Beda sama stasiun kereta lain. Hal pertama yang kami lihat itu meja informasi. Jadi kalo bingung tinggal nanya.

(+) Kami langsung jalan ke mesin penjual tiket, toh di situ ada mas-mas juga. Mesinnya agak susah buat saya. Tapi ada mas-mas yang siap bantu deket mesin. Mereka ramah dan helpful. Yang Uti yang lagi nunggu aja ditawarin bantuannya, dikira mau beli tiket.

Mesin + petunjuk beli. Despite the good intention. Saya kok lihatnya aja udah pusing. Maybe make it simpler?


(+) Karena telat, kami harus nunggu sekitar 20 menit. Untungnya disediain waiting lounge dengan tv, colokan, wifi. Sekilas stasiun ini kayak Terminal 3 yang 2 lantai. Lantai 2 isinya food&beverages, tapi baru ada Bakmi GM (as of June 2018). Di bawah ada Alfamart. Kereta datang tepat waktu trus kami naik.

Leyeh-leyeh

Leyeh-leyeh 2.0


(?) Sistemnya tap, tapi tiketnya kertas. Hehehe. Jadi agak susah ya. Biasanya kan tap pake kartu. Udah gitu, karena pake kertas, kami sempet mau buang gitu. Padahal harus dipake tap lagi pas keluar. Untung ketemu di saku.

(+) Kereta super bersih, modern, lengkap. Colokan USB ada 1 buat 2 kursi. Toilet kecil tapi bersih. Ada tempat sampah (detil kecil yang bikin gengges ketika naik KA jarak jauh. Harus nunggu mas-mas cleaning service lewat). I really have no complaint about the train itself.

Mejeng dulu sebelum berangkat.

Tempat sampah.
Buat yang pakai wheel chair.

small toilet. Tapi muat buat saya and Zedd. Bersih pula.


Forget the selfie, just wanna show the sink/wastafel. 

(-) Except for….. pengumuman. Saya cuma berempat + 1 ibu-ibu di satu gerbong. Saking sepinya. Itu aja kami bingung ini udah sampe stasiun mana. Mungkin kami berempat yang budek? Tapi ternyata yang bingung bukan cuma kami. Hahaha….

Stasiun Batu Ceper. Bagus, tapi enggak ada papan namanya. 


Kereta ini, again setahu saya, cuma berhenti di 4 stasiun: Bandara Soetta – Batu Ceper – Sudirman Baru/BNI City – Bekasi. Nantinya akan berhenti di Manggarai, tapi sampe Juni 2018 waktu saya naik, belum bisa. Lha pas berhenti di Batu Ceper, semua bingung ini udah sampe mana. Si Ibu turun di Batu Ceper aja harus nanya sama petugas di luar kereta waktu pintunya kebuka. Di stasiun juga belum ada tulisan nama stasiun, kayak yang biasa saya lihat waktu naik KRL.

Waktu turun Sudirman alias BNI City juga gitu, enggak ada tulisan Sudirman Baru atau pengumuman. Jadi ya tebak-tebak aja sambil lihat GPS hp.
Bye train... View from Stasiun BNI City/Sudirman Baru.   
          
(?) Kereta ini unik, karena jalannya maju mundur. Hahaha… jangan dibayangin rusak ya. Enggak kok. Tapi ada fase dimana kereta ini tiba-tiba mundur. Enggak paham deh saya. Yang Kung and Yang Uti milih tempat duduk yang ‘menghadap depan.’ Eh, pas mendekati Sudirman, keretanya jalan mundur (dan pastinya ganti rel, ya). Jadi tempat duduk yang tadinya menghadap depan, jadi menghadap belakang. Hahaha… semoga paham ya.

Di tiap gerbong, separo kursi madep depan, separo madep belakang. di tengah ada kursi yang berhadap-hadapan gini. Kursinya enggak bisa diputer-puter ya. 

Rumpi dulu sama Eyang


(+) Sampai tepat waktu, sekitar 40 menitan. Stasiunnya gede and bagus. Katanya sih ada jalan menuju ke stasiun Sudirman lama, sekitar 100-200 meter, buat yang mau lanjut KRL. Tapi karena bawa eyang and balita, saya minta dijemput Popo.

Masuk keretaaa...


Buat yang mau dijemput, ada parkiran mobil. Banyak malahan. Ada pool taksi juga. Jadi jangan dibayangin kayak stasiun KRL atau stasiun Jatinegara yang enggak ada parkiran mobilnya, ya.

Hubby selfie sambil nunggu di Stasiun Sudirman Baru.


Is It Worth It?
Tergantung. Kalo sendirian, ya mayan worth it. Dengan 70 ribu, udah bisa sampe Bandara Soetta dari Sudirman. Tapi kalo berempat atau lebih, harganya jadi mirip-mirip sama taksi.

Zedd and Mami

Buat yang males macet, males drama sama driver taksi (kadang dapet yang aneh-aneh, apalagi kalo taksi online), KA Bandara jadi alternatif yang oke. Bayangin kalo lagi ujan, atau mendarat Jumat siang/sore, atau kombinasi keduanya, waduuuhhh… mending mahal dikit, tapi cepet sampe rumah deh. 

Buat yang punya anak kecil, cobain deh. Anak-anak kan suka tuh naik kereta. Anggap aja tamasyaaaa…

Either way, so proud of the new Sky Train and Kereta Api Bandara. Telat but better than never.

1 comment:

  1. kelinci99
    Togel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
    HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
    NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
    Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
    Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
    segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
    yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
    yukk daftar di www.kelinci99.casino

    ReplyDelete

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...