Showing posts with label Hidup di apartemen. Show all posts
Showing posts with label Hidup di apartemen. Show all posts

Monday, March 27, 2017

Mahalnya Hidup Normal di Jakarta


Emang bener kata orang, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Not that I ever have a step mom sih. Tapi liat Ashanti kayaknya ibu tiri baik yah?

Back to ibukota, sejak mau lulus skripsi, saya dan Popo sepakat mau kerja di Jakarta. Alasannya banyak, more opportunity, more money, more challenges, more adventurous.

And we did. Kami berdua dapat kerja di Jakarta sampai sekarang.

Dari awal kerja, kami udah mulai denger pola hidup orang Jakarta. Kebanyakan harus menempuh perjalanan berjam-jam buat pulang pergi kantor-rumah. Enggak main-main, berangkat bisa jam 5-6 pagi dan nyampe rumah jam 8-9 malem.

Contoh gampang, ibu asuh Zedd di daycare. Dia berangkat dari rumahnya jam 5.30 pagi dan nyampe rumah jam 9 malem. Dia enggak sempat masak dan nyuci baju diselesaikan pas hari libur. Can you imagine how she handles the housework.

Buat kami hal tersebut enggak normal. Lha kapan ketemu keluarga kalau kayak gitu? Belum lagi ngurusin rumah. Kan dikit banget waktunya. Apalagi papa-papa kami berangkat kerja jam 7 pagi dan pulang jam 3-5 sore. Then again, kami tinggal di daerah, bukan di ibukota.

Awal kerja, kami masih pacaran dan enggak perlu mikir soal itu. Saya kos di Jakarta Pusat, Popo di Jakarta Barat. Agak jauh tapi masih santai.

Pas udah nikah, kami 'dipaksa' mikir mau tinggal dimana. Kami sepakat kalau kami masih pengen hidup 'normal' versi kami. Gampangnya kami pengen hidup di Jakarta denga rasa Jogja. Kami belum mau liat-liat ke BoDeTaBek. Masih pengen di Jakarta aja.

Hasilnya, ya kami hanya mampu nyewa apartemen mungil. Dengan segala kesederhanaannya, kami masih bisa hidup normal... sampai sekarang. Popo berangkat jam 7 pagi, saya berangkat jam 8 pagi (kadang jam 9). Jam 7 malem saya udah di rumah, Popo agak lebih lama karena macet. Emang sih enggak bisa bener-bener kayak di Jogja yang bisa di rumah sebelum Magrib. Tapi, buat versi Jakarta, ini udah mending banget.

Yang enggak kami perhitungkan adalah, hidup di dalam Jakarta itu MAHAL. Dan hidup di tempat SEMPIT itu juga MAHAL. Siapa yang sangka coba? Saya kira tinggal di tempat sempit means less stuff. Wrong! Ini beberapa hal yang lebih mahal di Jakarta, sepanjang saya tinggal di sini.

1. Biaya makan lebih mahal.
Kerja dan ada toddler bukan kombinasi yang baik buat masak. Jadi kadang harus jajan kan. Saya selalu sempetin masak nasi, tapi lauknya kadang enggak sempat. Nah, di Jakarta atau at least sekitaran apartemen saya, harga makanannya mahal. Standar makan di mall itu 50-70 ribu per orang. Kalau mau agak murah, di warung-warung bawah apartemen yang harganya 30-50 ribu. Mau murah lagi, saya harus jalan 200-300 meter buat jalan ke samping apartemen yang banyak pedagang kaki lima dengan harga makanan 20-30 ribu.

Jalan 300 meter itu mayan loh. Apalagi kalau abis kehujanan dan kejebak macet. Badan lemes banget. Belum lagi kalau Zedd udah keburu tepar.


2. Biaya daycare lebih mahal
Kami memilih buat nitipin Zedd ke daycare dalam apartemen biar dia enggak usah digotong naik motor pagi-pagi. Enggak tega. Risikonya ya harga mahal. Ada daycare yang lebih murah, tapi Zedd harus ikut saya naik ojek. Lha kalau hujan gimana? Naik taksi bukan opsi karena dia juga akan rewel di dalem taksi yang kejebak macet pas ujan.

Temen saya di Depok juga bayar daycare sampai separuh yang saya bayar. Tapi di Depok.


3. Ongkos ojek saya yang besar
Alhamdulilah saya dapat kantor yang jam kerja agak fleksibel dan lokasinya enggak di tengah kota. Jadi saya bisa berangkat agak siang dan enggak macet.

Masalahnya, saya harus naik ojek dan itu quite expensive. Kalau saya naik kereta sambung bis, akan lebih murah. Kalau ojek saya bisa menghabiskan 30 ribu lebih buat PP. Sementara itu, kalau naik kereta sambung bis, enggak akan nyampe 20 ribu buat PP. Tapi, saya jadi harus berangkat lebih pagi, karena nunggu kereta dan bis kan enggak bisa diprediksi.

Misal: saya berangkat jam 8 pagi pakai ojek dan sampai kantor jam 8.45. Kalau pakai kereta, saya harus berangkat jam 7 or even earlier.

Sure it's okay when it's just me and Popo. Tapi ini kan ada Zedd. Saya juga pengen mandiin, nyuapin, dan main sama Zedd sebelum kerja. Apalagi Zedd itu bangunnya jam 8an. Berangkat jam 7, berarti bangunin ini balita pas lagi pules. Enggak tegaaaa...

Dokumentasi pribadi


4. Maintenance dan parkir
Ini enggak dirasain temen saya yang ngontrak di Depok atau Kalimalang. Enggak ada maintenance yang nominalnya mencapai 5 juta per tahun, atau biaya parkir per bulan. Saya enggak tahu gimana kalau yang lain sih, tapi yang saya rasain, di Jakarta ini dimana-mana bayar parkir.

Enggak cuma di apartemen, Popo juga bayar parkir motornya di kantor. Yup, parkir motor di kantor Popo itu sistem langganan juga. Nanti pas weekend jalan-jalan ke mall atau tempat rekreasi, bayar parkir juga.

Beda sama di Jogja, yang paling enggak, di kantor dan di rumah enggak usah bayar parkir. Di Jakarta, parking fee is almost everywhere.



5. Perlengkapan rumah yang spesifik
- Saya enggak bisa punya bed cover 2 karena enggak ada tempat untuk nyimpennya. Alhasil saya harus beli quilt yang relatif mahal.

- Saya enggak bisa pakai rak botol yang murah, karena tempatnya kesempitan. Rak botol yang muat adalah Boon drying rack yang harganya Masya Allah mahal. Dan saya masih berusaha menjual rak pengering botol Munchkin yang enggak muat di dapur saya.

--

Baru-baru ini kami pakai jasa financial planner dan kami dipaksa ngeliat kenyataan bahwa biaya operasional kami cukup tinggi. Tapi kalau disuruh ngurangin, kami enggak bisa. Semua demi gaya hidup 'normal' yang kami pengenin.

Saya enggak bisa ngurangin biaya transportasi dan kami enggak tega mindah Zedd ke daycare yang lebih affordable. Sekarang saya cuma usaha lebih sering masak walaupun sesederhana telur dadar.

Sekarang kami masih bisa sarapan dan makan malem bareng. Zedd juga masih bangun pas Popo pulang kantor. Kami enggak harus berangkat subuh-subuh dan pulang mendekati tengah malem.

Saya enggak naif sih. Deep down saya enggak yakin bisa hidup gini terus. One day, we have to live in a bigger place. A proper house. And I'm not sure we can afford a house in our current neighborhood.

But for now, this kind of normal is more than I can ask. Alhamdulilah.

Sunday, March 5, 2017

Ribetnya Bikin Kitchen Set Impian

Sejujurnya saya bukan orang yang hobi banget masak. Tapi entah kapan saya jadi mimpiin punya dapur kecil nan indah. Hhhmmm.... kayaknya sejak pergi ke Ikea deh. Hahahaha... 

Aniwei, setelah kami punya apartemen, rasanya gemes pengen dekor sana sini. Tujuannya ya biar apartemen mungil ini lebih livable.

Tujuan lain itu Zedd!

Sekarang dia udah toddler yang ngglitis. Apa-apa dipegang. Apa-apa dipanjat. Apa-apa dilempar. Dia udah pernah ngangkat ceret yang ada airnya, dibawa ke depan tv, trus ditumpahin. Dia juga pernah ngangkat panci presto terus dibanting. 

Kami punya meja bar tempat naruh macem-macem (gantinya kitchen cabinet), yang selalu jadi incaran Zedd. Akibatnya? Living room+kitchen kami jadi enggak pernah bersih.


Ini penampakan meja bar yang khusus saya beresin for the sake of this blog. Aslinya mah selalu berantakan karena Zedd.

Penampakan dari sisi satunya. Aniwei, we plan to sell this meja bar karena selalu dipake main Zedd dan kegedean. If anyone interested... hehehe...


Not only that, dia juga mulai deket-deket kompor!! Waduh!! Udah cukup banyak kejadian yang bikin kami ngerasa: WE NEED KITCHEN SET! 

Penampakan dapur mini kami. Itu mulai dari gas, ceret, panci, sampai ember mandi pernah ditarik sama Zedd trus ditinggal gitu aja di sembarang tempat.


Kalau dulu kitchen set itu barang mewah buat kami, sekarang udah jadi kebutuhan primer, thanks to Zedd. Hahahahaha...

Kamu pun bener-bener mikirin soal kitchen set, like any other part of our teeny tiny apartment. Karena salah desain bakal ngerusak the whole place, saking kecilnya.

Kami juga enggak mau yang asal jadi. Iya sih butuhnya cepet. Iya sih budget kami mepet. Tapi memutuskan beli sesuatu yang asal-asalan dan asal murah, biasanya buntutnya enggak enak. Bisa rusak trus kami harus beli baru lagi. It happened a couple of times with us. Akhirnya malah boros. Jadi kitchen set ini bener-bener dipikirin.

Saya cari dulu maunya kayak apa. Ini sempet gelut sama Popo, karena dia mau agak gede, saya maunya kecil. Ini masalah kami dari dulu. Semua hal yang masuk apartemen kami harus kecil, lebih kecil dari standar furniture seharusnya. Popo pasti pengen yang standar cause he believes standardization is created for a reason. 

Saya pengennya kecil karena saya sering liat unit-unit lain (pas Eyang datang nginep) yang template dan saya enggak mau end up kayak gitu. Jadi emang ukuran yang saya mau itu dibawah standar.

Ini dapur impian saya, dari Pinterest. Finishing duco, white marble for table top, dan subway tile buat backsplash. 
Foto dari Pinterest.


Next question, mau bikin kemana?

  • Vendor Kitchen Set di Bawah Apartemen
Ada vendor interior desain di bawah alias di ruko-ruko apartemen, yang bisa bikin kitchen set. Tapi saya enggak sreg, karena kesannya template. Harga memang murah, sekitar Rp 10-12 jutaan buat kitchen set kecil di apartemen. But I have to pass. Karena jadinya sempit, lha mereka kesannya asal jadi. No desain whatsoever.

  • The Ikea Dream
Ikea sempat jadi pilihan. Apalagi toko asal Swedia ini baru ngubah policy delivery and pemasangannya jadi lebih murah. Kebetulan Sipa pasang dapur ikea tapi pas yang mahal. Eh, enggak lama habis itu, berubah jadi lebih murah biaya pemasangannya. 

Even so, I also have to pass on this one for several reasons

1. Kegedean bok! Yup, even ikea yang bikin furniture khusus small spaces pun enggak punya ukuran yang saya mau. Hahahahahaha... *ketawa sambil nangis di pojokan*

Ukuran kabinet dasar ikea itu lebar 60 cm. Lebar dapur apartemen saya cuma 50 cm. Jadi enggak cukup. Menurut mas ikea, bisa aja kabinet atas ikea yang lebar 40 cm, dipakai buat kabinet bawah, but he mentioned that it's still somewhat weird karena ya emang bukan buat kabinet bawah kan?

2. Masalah table top. Table top ikea mahal beud kalau yang marble/granit. Mereka nyebutnya apaaa gitu. Saya lupa. Yang jelas pilihannya itu yang harganya puluhan juta atau table top yang murah banget dan enggak begitu tahan air.

3. Masalah backsplash. Backsplash itu keramik yang ada di antara kabinet atas dan bawah. Kenapa jadi masalah? Karena ya ikea enggak nyediain, setahu saya yah. CMIIW. Adek saya pun akhirnya masang dapur ikea dulu, trus cari keramik, trus pakai jasa tukang keramik. 

Intinya ikea, walaupun kabinetnya terhitung murah, bisa bawa sendiri, kualitas oke, garansi 20 tahun lebih, tapi ada 'rempongnya.' Ini saya lihat dari Sipa yang pasang dapur ikea. 

Meanwhile, kalau pakai jasa kitchen set, udah semua tuh. Backsplash, lampu, table top granit, dll, udah sekali jadi dengan ngontak 1 orang. 

  • Jasa Kitchen Set
Akhirnya kami mulai lihat-lihat jasa kitchen set yang kayaknya oke. Soalnya kitchen set kan buat dipakai tahunan, kalau bikin murah trus malah cepet rusak, jadi kerja 2x kan.

Setelah tanya-tanya dan browsing-browsing. Ini kesimpulan yang kami dapat.

1. Kitchenology
Kami ngelirik ini karena dari namanya aja udah kitchen, berarti fokusnya ke kitchen dong. 

Vendor ini responsif dan lokasinya deket apartemen. Tapi harganya buat finishing duco bikin kami mundur teratur, sekitar 4 jutaan per meter. Tapi harganya udah include delivery, pasang, and lampu. Jadi udah enggak keluar apa-apa lagi.

2. Jendela Putih

Reviewnya yang bertebaran di forum dan internet bikin mupeng. Kepoin IG nya pun kelihatan kalau ini profesional. Harganya sebenernya lebih murah dari kitchenology buat finishing duco (kami memang pengen yang duco, bukan HPL). 

Yang bikin kami mundur itu, prosesnya pasangnya yang mencapai seminggu. Duh, mungkin paksu ceritanya enggak jelas yah. Apa itu buat pasang kitchen set yang gede? Secara kitchen set kami kan mini banget. Tapi ngeliat begitu populernya ini vendor dan proses masang yang lama, kami terpaksa mundur, karena enggak cukup sabar nunggu beberapa bulan.

3. Ichigo Idea
Ini juga enggak kalah populer dari Jendela Putih. 

Harganya buat finishing duco sekitar 2.8 juta per meter. Ada biaya kirim tapi masih oke lah menurut saya. Reviewnya juga oke. 

Yang bikin saya mundur adalah karena adminnya kurang responsif. Don't get me wrong yah. Semua wa saya dibales, tapi cukup lama. Ada yang jeda beberapa hari dan itupun harus saya tanya lagi. Tapi ya dibales. Mungkin karena populer banget, jadi adminnya kewalahan. 

4. Calio Design
Responsif dan harga bersahabat banget. Reviewnya juga cukup banyak di internet. Instagram juga aktif. 

Sebelumnya kami pernah bikin wall panel tv juga sama Mbak Dian dan prosesnya cepet, murah, trus udah plus lampu. Masalahnya bukan ke lampunya sih. Tapi lebih ke niatan Calio buat bikin wall panel kami jadi bagus, bahkan tanpa kami minta. 

Lha secara saya and Popo enggak ngeh yah kalo panel itu bisa lebih bagus pakai lampu. Sama pihak Calio, bahasa jawanya: ditata'ke, jadi tambah bagus. Dengan sistemnya Calio yang kayak gitu, harapannya kitchen set kami juga bakal dibikin bagus.

--
Sekarang kami masing mikir-mikir mau pakai vendor yang mana. Semoga kitchen set impian saya bisa terwujud.

Sunday, October 23, 2016

Pengalaman Beli Properti; Jodoh Emang Enggak Kemana

Alhamdulilah, setelah jadi kontraktor selama 4 tahun, kami diberi rezeki buat beli properti pertama kami. Seperti udah pernah saya tulis di post sebelumnya, saya sama Popo milih apartemen instead of rumah, karena beberapa hal. Lengkapnya ya di postingan ituh. Monggo dibaca kalau tertarik. Enggak ada adsense-nya kok... hehehe...

Disclaimer: saya bukan mau pamer atau riya. Cuma pengen share cause sharing is caring. Dan saya juga ngerasain browsing internet buat nyari tahu lebih jelas soal beli apartemen, cause, as I thought before, ini enggak kayak beli kacang atau baju kan. It's complicated, at least for me and Popo. 

Di sini, saya mau cerita gimana perjalanan saya dan Popo sampai akhirnya bisa beli ini apartemen.

Sebenernya kami udah niat beli apartemen sejak masih tinggal di Jakarta Barat. Apartemen yang kami sewa di sana was A.M.A.Z.I.N.G. Enggak luas banget, sekitar 36 m2. Tapi kami dapet kolam renang, taman tempat nongkrong, plus the best view ever. Not to mention, sebelah tower saya itu sungai. Seriously, kayak tinggal di manaaaa gitu. 

My view back then. (Foto: dok. Pribadi). 

Tapi, enggak tahu kenapa, saya enggak fit in sama neighbourhoodnya. Mall deket, bioskop banyak, rumah sakit juga ada. Tapi kayak ada magnet yang selalu narik saya buat ke Jakarta Selatan. Entah karena deket kantor Popo dan pernah setahun kos di Benhil, pokoknya tiap ngemall, saya selalu ke arah Kuningan atau Semanggi. 

Sempet diskusi panjang (on and off ya) sama Popo. Dari mulai masih berdua, sampai hamil, sampai ada Zedd. Akhirnya sepakat, ya hati kami sreg-nya di Selatan. Dan ini step-step yang kami lakukan.

1. Hunting Apartemen
Mulailah berburu apartemen. Pertama mulai dari internet pastinya. Habis itu liat lokasi. Yang jadi pertimbangan itu luasnya, harganya, lingkungan sekitar, kelengkapan fasilitas dll.

Buat kami, yang penting itu grocery, entah indormaret, alfamart, supermarket, atau pasar.Pokoknya harus ada yang walking distance. Ini penting kalau Popo pas ke kebon dan saya sendirian. Atau tiba-tiba popok abis. Tambahannya, harus gampang cari galon, gas, dan laundry. Saya pernah maen ke apartemen temen saya, apartemen elit sih. Laundry dan galon cuma 1. Hzzz... dia sih nyuci sendiri dan balkonnya cukup buat jemuran.

Akses juga pasti jadi pertimbangan yah. Gampang enggak nyari taksi? Stasiun atau busway terdekat ada apa enggak. Emang sih sekarang ada ojek and taksi online. But still, just for back up and options.

Karena saya udah punya anak, rumah sakit juga harus deket yah. Apalagi kalau Zedd panas dan malem itu juga harus ke dokter. huhuhu... jadi reminiscing.

Parkir, maintenance fee, listrik, air, dan banjir juga masuk itungan yah. Ada apartemen yang pakai pulsa, ada juga yang enggak. Personally enak yang pakai pulsa sih. Nah, hal-hal ini pasti kami tanyain pas kami liat unit apartemen.

Jadi setelah kami liat-liat dari internet, kami datengin tuh masing-masing apartemen, termasuk yang di luar budget kami. Just to see the difference and what we're getting into. Kami milih buat datang ke broker, karena mereka punya banyak pilihan dan bisa langsung liat kapan aja. Kalau langsung nyari pemilik, lebih ribet karena harus janjian.


2. Budget
Sambil browsing apartemen, kami juga browsing soal KPA dan biaya cicilan, berapa lama ngutang.

Kesimpulan riset budget itu adalah, kami susah beli apartemen yang udah jadi. Harus beli apartemen yang masih...how do you call it? early bird? pokoknya beli yang masih tanah atau masih dalam tahap pembangunan. 

Masalahnya, kalau kami nyicil apartemen yang belum jadi, lha kami tidur mana? Budget kami ya cuma cukup buat nyicil, enggak cukup buat nyicil + ngontrak rumah. 

Ngubek-ubek google lagi, kami ternyata bisa beli apartemen yang udah jadi tapi dari tangan kedua, alias second. So we set our mind on that apartment.

Akhirnya kami udah tahu budget apartemen maksimal yang bisa kami beli cause partemen yang diincer juga udah ada. Setelah baca bukunya Prita Ghozie, saya sama Popo sepakat mau ngutang ke Bank Syariah aja karena cicilannya tetap. 

Pas kesana, ketemu sama sepupu saya yang emang kerja di bank syariah dan ngurusin KPA/KPR. Kami konsultasi ke si Mas. Dan baru tahu kalau APARTEMEN SECOND ITU ENGGAK BISA DICICIL. Hwahahahaha...

Ada pengecualian kalau ada kerja sama. Lha bank Mas Sepupu saya ini malah kerja sama apartemen yang di Kebon Jeruk. Yaaahhh...

Pas fase ini kami mentok. Ya gimana, uangnya enggak ada. Waktu itu saya lagi hamil juga. Uang buat persiapan lahiran dan perlengkapan bayi juga enggak sedikit. Dengan berat hati, kami pending dulu niatan beli apartemen ini dan kembali nyewa 1 unit apartemen selama setahun.

--
Jalan setengah tahun, kami masih lost soal beli apartemen. Waktu ini, kami juga liat-liat rumah dan makin manteb buat enggak beli rumah dulu, at least for the next couple of years. Kebetulan waktu itu Yang Uti dan Yang Kung masih nemenin saya dan Sipa di apartemen inceran.

So this was where fate intervened.

Pemilik unit yang disewa sama Eyang, nawarin apartemennya. Waaaa... padahal kami lagi enggak nyari. Moreover, harganya murah.

Buat gambaran, pas saya hamil (2014), harga apartemen di internet di broker sekitar x00 juta.
Yang ditawarin sama si Mas ini  x00 - 40 juta (2016).
Kalau perbedaan sama di Internet bisa sampai 70 juta lebih murah.
Padahal udah beda tahun lho.

More intervention from Allah SWT: Popo dapet promosi dan bonus yang cukup besar buat standar kami. Alhamdulilah...

Saya jadi ngerasain apa yang dulu sering diomongin orang-orang. Beli properti itu emang pulung (bahasa Jawa). Kalau udah jodoh, enggak akan kemana. Keinginan kami buat beli apartemen dari 2013 yang enggak punya budget sama sekali, 2014 udah ada DP tapi ternyata enggak bisa dicicil, 2015 totally lost, 2016 kami akhirnya dipertemukan sama our first 'home.' Can't say Alhamdulillah enough for this blessing.

Next mau ngomongin detail and proses belinya. Ini harus nanya-nanya Popo dulu, karena saya enggak begitu ngerti.

Wednesday, April 27, 2016

Apartment life, with a baby

Dari awal nikah saya dan Daddy milih tinggal di apartemen. Pertimbangannya klasik: kami dari kampung, enggak kuat sama perjalanan desek-desekan di krl/bus atau naek motor sampe 1 jam lebih tiap hari.

Plus minus tinggal di apartemen udah banyak yang tahu. Deket kemana-mana tapi sempit. Fasilitas lengkap tapi apa-apa mahal. Dan perspektif lainnya, termasuk bagaimana apartemen enggak ideal untuk bayi. 

Pemandangan dari apartemen pertama yang kami sewa. Sebelahnya sungai and we could see Jakarta from the top... Best-view-ever!

Menurut saya, apartemen justru pas buat bayi dan ibu yang tanpa ART, menurut saya yah... Ini yang saya rasain sebagai ibu baru yang enggak punya ART. 

Alasan pertama saya suka apartemen itu laundry. Saya enggak punya waktu buat nyuci, jemur, setrika (keren lah kalau ada new mommy yang bisa, saya kewalahan). Jadi saya tinggal telpon, laundry diambil dan dianter. Ini juga berlaku buat galon dan gas.

Coba kalau saya di landed house, saya harus keluar rumah, gendong bayi, bawa ke laundry naek motor. Widihhh... Enggak kebayang.

Alasan kedua, saya bisa jalan kaki buat belanja, mau itu belanja harian atau belanja dadakan. Misalnya popok abis, saya enggak perlu keluar naek motor. Cukup pake Ergo atau bawa stroller, turun ke bawah buat ke mini market 24 jam atau ke supermarket di bawah. Tinggal milih. 

Ya sekarang emang ada jasa anter ojek itu sih, tapi tetep lebih cepet kalau saya turun dan beli sendiri ke mini market. 

Alasan ketiga itu aman. Oke ini emang enggak mesti. Namanya orang jahat dimana-mana ada. Tapi in general, saya ngerasa lebih aman karena di bawah ada security dan access card buat naik. Jadi kalau Daddy pulang malem atau dinas luar, saya ngerasa lebih tenang. 

Lantai saya juga tinggi, jadi enggak mungkin ada yang bisa manjat.

Selain security, di bawah banyak toko dan mini market yang buka 24 jam. Jadi lingkungan sekitar saya rame terus.

Alasan keempat, ada posyandu. Ihiiyy... Posyandu ini katanya diinisiasi ibu-ibu di apartemen yang kerja sama dengan dinas setempat. Ini info yang saya dapet waktu ngobrol sama bidan posyandu itu. 

Jadi tiap bulan bisa diukur tumbuh kembangnya baby Zedd. Pas imunisasi juga bisa disini dengan bayar seikhlasnya. Uang ini pun setahu saya untuk operasional posyandu, karena ibu-bayi juga dapet makanan pendamping. Asik deh...

Saya sendiri termasuk ibu-ibu yang percaya sama bidan dan instansi pemerintah (karena saya tahu ada yang imunisasi nya harus ke dsa, termasuk si Sipa). Wong sekarang jadi pns itu susah bener. 

Sejauh ini Pipi Bapao sehat. Yah mantep-mantepnya orang tua aja sih.

--

Sekarang saya enjoy tinggal di apartemen dengan segala plus minus nya. Belum tahu mau sampai kapan. Yang jelas, worst case scenario, kami masih di apartemen ini sampai Zedd mulai sekolah, di sini juga ada preschool dan tk kok. Hehehe...

Pemandangan pas ujan...


Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...