Showing posts with label apartemen. Show all posts
Showing posts with label apartemen. Show all posts

Monday, March 27, 2017

Mahalnya Hidup Normal di Jakarta


Emang bener kata orang, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Not that I ever have a step mom sih. Tapi liat Ashanti kayaknya ibu tiri baik yah?

Back to ibukota, sejak mau lulus skripsi, saya dan Popo sepakat mau kerja di Jakarta. Alasannya banyak, more opportunity, more money, more challenges, more adventurous.

And we did. Kami berdua dapat kerja di Jakarta sampai sekarang.

Dari awal kerja, kami udah mulai denger pola hidup orang Jakarta. Kebanyakan harus menempuh perjalanan berjam-jam buat pulang pergi kantor-rumah. Enggak main-main, berangkat bisa jam 5-6 pagi dan nyampe rumah jam 8-9 malem.

Contoh gampang, ibu asuh Zedd di daycare. Dia berangkat dari rumahnya jam 5.30 pagi dan nyampe rumah jam 9 malem. Dia enggak sempat masak dan nyuci baju diselesaikan pas hari libur. Can you imagine how she handles the housework.

Buat kami hal tersebut enggak normal. Lha kapan ketemu keluarga kalau kayak gitu? Belum lagi ngurusin rumah. Kan dikit banget waktunya. Apalagi papa-papa kami berangkat kerja jam 7 pagi dan pulang jam 3-5 sore. Then again, kami tinggal di daerah, bukan di ibukota.

Awal kerja, kami masih pacaran dan enggak perlu mikir soal itu. Saya kos di Jakarta Pusat, Popo di Jakarta Barat. Agak jauh tapi masih santai.

Pas udah nikah, kami 'dipaksa' mikir mau tinggal dimana. Kami sepakat kalau kami masih pengen hidup 'normal' versi kami. Gampangnya kami pengen hidup di Jakarta denga rasa Jogja. Kami belum mau liat-liat ke BoDeTaBek. Masih pengen di Jakarta aja.

Hasilnya, ya kami hanya mampu nyewa apartemen mungil. Dengan segala kesederhanaannya, kami masih bisa hidup normal... sampai sekarang. Popo berangkat jam 7 pagi, saya berangkat jam 8 pagi (kadang jam 9). Jam 7 malem saya udah di rumah, Popo agak lebih lama karena macet. Emang sih enggak bisa bener-bener kayak di Jogja yang bisa di rumah sebelum Magrib. Tapi, buat versi Jakarta, ini udah mending banget.

Yang enggak kami perhitungkan adalah, hidup di dalam Jakarta itu MAHAL. Dan hidup di tempat SEMPIT itu juga MAHAL. Siapa yang sangka coba? Saya kira tinggal di tempat sempit means less stuff. Wrong! Ini beberapa hal yang lebih mahal di Jakarta, sepanjang saya tinggal di sini.

1. Biaya makan lebih mahal.
Kerja dan ada toddler bukan kombinasi yang baik buat masak. Jadi kadang harus jajan kan. Saya selalu sempetin masak nasi, tapi lauknya kadang enggak sempat. Nah, di Jakarta atau at least sekitaran apartemen saya, harga makanannya mahal. Standar makan di mall itu 50-70 ribu per orang. Kalau mau agak murah, di warung-warung bawah apartemen yang harganya 30-50 ribu. Mau murah lagi, saya harus jalan 200-300 meter buat jalan ke samping apartemen yang banyak pedagang kaki lima dengan harga makanan 20-30 ribu.

Jalan 300 meter itu mayan loh. Apalagi kalau abis kehujanan dan kejebak macet. Badan lemes banget. Belum lagi kalau Zedd udah keburu tepar.


2. Biaya daycare lebih mahal
Kami memilih buat nitipin Zedd ke daycare dalam apartemen biar dia enggak usah digotong naik motor pagi-pagi. Enggak tega. Risikonya ya harga mahal. Ada daycare yang lebih murah, tapi Zedd harus ikut saya naik ojek. Lha kalau hujan gimana? Naik taksi bukan opsi karena dia juga akan rewel di dalem taksi yang kejebak macet pas ujan.

Temen saya di Depok juga bayar daycare sampai separuh yang saya bayar. Tapi di Depok.


3. Ongkos ojek saya yang besar
Alhamdulilah saya dapat kantor yang jam kerja agak fleksibel dan lokasinya enggak di tengah kota. Jadi saya bisa berangkat agak siang dan enggak macet.

Masalahnya, saya harus naik ojek dan itu quite expensive. Kalau saya naik kereta sambung bis, akan lebih murah. Kalau ojek saya bisa menghabiskan 30 ribu lebih buat PP. Sementara itu, kalau naik kereta sambung bis, enggak akan nyampe 20 ribu buat PP. Tapi, saya jadi harus berangkat lebih pagi, karena nunggu kereta dan bis kan enggak bisa diprediksi.

Misal: saya berangkat jam 8 pagi pakai ojek dan sampai kantor jam 8.45. Kalau pakai kereta, saya harus berangkat jam 7 or even earlier.

Sure it's okay when it's just me and Popo. Tapi ini kan ada Zedd. Saya juga pengen mandiin, nyuapin, dan main sama Zedd sebelum kerja. Apalagi Zedd itu bangunnya jam 8an. Berangkat jam 7, berarti bangunin ini balita pas lagi pules. Enggak tegaaaa...

Dokumentasi pribadi


4. Maintenance dan parkir
Ini enggak dirasain temen saya yang ngontrak di Depok atau Kalimalang. Enggak ada maintenance yang nominalnya mencapai 5 juta per tahun, atau biaya parkir per bulan. Saya enggak tahu gimana kalau yang lain sih, tapi yang saya rasain, di Jakarta ini dimana-mana bayar parkir.

Enggak cuma di apartemen, Popo juga bayar parkir motornya di kantor. Yup, parkir motor di kantor Popo itu sistem langganan juga. Nanti pas weekend jalan-jalan ke mall atau tempat rekreasi, bayar parkir juga.

Beda sama di Jogja, yang paling enggak, di kantor dan di rumah enggak usah bayar parkir. Di Jakarta, parking fee is almost everywhere.



5. Perlengkapan rumah yang spesifik
- Saya enggak bisa punya bed cover 2 karena enggak ada tempat untuk nyimpennya. Alhasil saya harus beli quilt yang relatif mahal.

- Saya enggak bisa pakai rak botol yang murah, karena tempatnya kesempitan. Rak botol yang muat adalah Boon drying rack yang harganya Masya Allah mahal. Dan saya masih berusaha menjual rak pengering botol Munchkin yang enggak muat di dapur saya.

--

Baru-baru ini kami pakai jasa financial planner dan kami dipaksa ngeliat kenyataan bahwa biaya operasional kami cukup tinggi. Tapi kalau disuruh ngurangin, kami enggak bisa. Semua demi gaya hidup 'normal' yang kami pengenin.

Saya enggak bisa ngurangin biaya transportasi dan kami enggak tega mindah Zedd ke daycare yang lebih affordable. Sekarang saya cuma usaha lebih sering masak walaupun sesederhana telur dadar.

Sekarang kami masih bisa sarapan dan makan malem bareng. Zedd juga masih bangun pas Popo pulang kantor. Kami enggak harus berangkat subuh-subuh dan pulang mendekati tengah malem.

Saya enggak naif sih. Deep down saya enggak yakin bisa hidup gini terus. One day, we have to live in a bigger place. A proper house. And I'm not sure we can afford a house in our current neighborhood.

But for now, this kind of normal is more than I can ask. Alhamdulilah.

Sunday, October 23, 2016

Pengalaman Beli Properti; Jodoh Emang Enggak Kemana

Alhamdulilah, setelah jadi kontraktor selama 4 tahun, kami diberi rezeki buat beli properti pertama kami. Seperti udah pernah saya tulis di post sebelumnya, saya sama Popo milih apartemen instead of rumah, karena beberapa hal. Lengkapnya ya di postingan ituh. Monggo dibaca kalau tertarik. Enggak ada adsense-nya kok... hehehe...

Disclaimer: saya bukan mau pamer atau riya. Cuma pengen share cause sharing is caring. Dan saya juga ngerasain browsing internet buat nyari tahu lebih jelas soal beli apartemen, cause, as I thought before, ini enggak kayak beli kacang atau baju kan. It's complicated, at least for me and Popo. 

Di sini, saya mau cerita gimana perjalanan saya dan Popo sampai akhirnya bisa beli ini apartemen.

Sebenernya kami udah niat beli apartemen sejak masih tinggal di Jakarta Barat. Apartemen yang kami sewa di sana was A.M.A.Z.I.N.G. Enggak luas banget, sekitar 36 m2. Tapi kami dapet kolam renang, taman tempat nongkrong, plus the best view ever. Not to mention, sebelah tower saya itu sungai. Seriously, kayak tinggal di manaaaa gitu. 

My view back then. (Foto: dok. Pribadi). 

Tapi, enggak tahu kenapa, saya enggak fit in sama neighbourhoodnya. Mall deket, bioskop banyak, rumah sakit juga ada. Tapi kayak ada magnet yang selalu narik saya buat ke Jakarta Selatan. Entah karena deket kantor Popo dan pernah setahun kos di Benhil, pokoknya tiap ngemall, saya selalu ke arah Kuningan atau Semanggi. 

Sempet diskusi panjang (on and off ya) sama Popo. Dari mulai masih berdua, sampai hamil, sampai ada Zedd. Akhirnya sepakat, ya hati kami sreg-nya di Selatan. Dan ini step-step yang kami lakukan.

1. Hunting Apartemen
Mulailah berburu apartemen. Pertama mulai dari internet pastinya. Habis itu liat lokasi. Yang jadi pertimbangan itu luasnya, harganya, lingkungan sekitar, kelengkapan fasilitas dll.

Buat kami, yang penting itu grocery, entah indormaret, alfamart, supermarket, atau pasar.Pokoknya harus ada yang walking distance. Ini penting kalau Popo pas ke kebon dan saya sendirian. Atau tiba-tiba popok abis. Tambahannya, harus gampang cari galon, gas, dan laundry. Saya pernah maen ke apartemen temen saya, apartemen elit sih. Laundry dan galon cuma 1. Hzzz... dia sih nyuci sendiri dan balkonnya cukup buat jemuran.

Akses juga pasti jadi pertimbangan yah. Gampang enggak nyari taksi? Stasiun atau busway terdekat ada apa enggak. Emang sih sekarang ada ojek and taksi online. But still, just for back up and options.

Karena saya udah punya anak, rumah sakit juga harus deket yah. Apalagi kalau Zedd panas dan malem itu juga harus ke dokter. huhuhu... jadi reminiscing.

Parkir, maintenance fee, listrik, air, dan banjir juga masuk itungan yah. Ada apartemen yang pakai pulsa, ada juga yang enggak. Personally enak yang pakai pulsa sih. Nah, hal-hal ini pasti kami tanyain pas kami liat unit apartemen.

Jadi setelah kami liat-liat dari internet, kami datengin tuh masing-masing apartemen, termasuk yang di luar budget kami. Just to see the difference and what we're getting into. Kami milih buat datang ke broker, karena mereka punya banyak pilihan dan bisa langsung liat kapan aja. Kalau langsung nyari pemilik, lebih ribet karena harus janjian.


2. Budget
Sambil browsing apartemen, kami juga browsing soal KPA dan biaya cicilan, berapa lama ngutang.

Kesimpulan riset budget itu adalah, kami susah beli apartemen yang udah jadi. Harus beli apartemen yang masih...how do you call it? early bird? pokoknya beli yang masih tanah atau masih dalam tahap pembangunan. 

Masalahnya, kalau kami nyicil apartemen yang belum jadi, lha kami tidur mana? Budget kami ya cuma cukup buat nyicil, enggak cukup buat nyicil + ngontrak rumah. 

Ngubek-ubek google lagi, kami ternyata bisa beli apartemen yang udah jadi tapi dari tangan kedua, alias second. So we set our mind on that apartment.

Akhirnya kami udah tahu budget apartemen maksimal yang bisa kami beli cause partemen yang diincer juga udah ada. Setelah baca bukunya Prita Ghozie, saya sama Popo sepakat mau ngutang ke Bank Syariah aja karena cicilannya tetap. 

Pas kesana, ketemu sama sepupu saya yang emang kerja di bank syariah dan ngurusin KPA/KPR. Kami konsultasi ke si Mas. Dan baru tahu kalau APARTEMEN SECOND ITU ENGGAK BISA DICICIL. Hwahahahaha...

Ada pengecualian kalau ada kerja sama. Lha bank Mas Sepupu saya ini malah kerja sama apartemen yang di Kebon Jeruk. Yaaahhh...

Pas fase ini kami mentok. Ya gimana, uangnya enggak ada. Waktu itu saya lagi hamil juga. Uang buat persiapan lahiran dan perlengkapan bayi juga enggak sedikit. Dengan berat hati, kami pending dulu niatan beli apartemen ini dan kembali nyewa 1 unit apartemen selama setahun.

--
Jalan setengah tahun, kami masih lost soal beli apartemen. Waktu ini, kami juga liat-liat rumah dan makin manteb buat enggak beli rumah dulu, at least for the next couple of years. Kebetulan waktu itu Yang Uti dan Yang Kung masih nemenin saya dan Sipa di apartemen inceran.

So this was where fate intervened.

Pemilik unit yang disewa sama Eyang, nawarin apartemennya. Waaaa... padahal kami lagi enggak nyari. Moreover, harganya murah.

Buat gambaran, pas saya hamil (2014), harga apartemen di internet di broker sekitar x00 juta.
Yang ditawarin sama si Mas ini  x00 - 40 juta (2016).
Kalau perbedaan sama di Internet bisa sampai 70 juta lebih murah.
Padahal udah beda tahun lho.

More intervention from Allah SWT: Popo dapet promosi dan bonus yang cukup besar buat standar kami. Alhamdulilah...

Saya jadi ngerasain apa yang dulu sering diomongin orang-orang. Beli properti itu emang pulung (bahasa Jawa). Kalau udah jodoh, enggak akan kemana. Keinginan kami buat beli apartemen dari 2013 yang enggak punya budget sama sekali, 2014 udah ada DP tapi ternyata enggak bisa dicicil, 2015 totally lost, 2016 kami akhirnya dipertemukan sama our first 'home.' Can't say Alhamdulillah enough for this blessing.

Next mau ngomongin detail and proses belinya. Ini harus nanya-nanya Popo dulu, karena saya enggak begitu ngerti.

Monday, March 21, 2016

Review go-clean bersihin apartemen

Jadi seminggu ini virus flu berkeliaran di rumah. Mulai dari Daddy Bapao, trus ketularan ke Pipi Bapao, trus kena ke saya. 

Puncaknya Pipi Bapao demam sampai 39 derajat setelah 4 hari-an batuk pilek. Yah walaupun katanya bayi ASI itu kuat, ternyata tumbang juga. 

Saya pikir ini pasti karena virus dan bakterinya masih ada di dalam apartemen. Yah gimana mau ngeluarinnya coba?

Saya tinggal di lantai 18. Jendela kamar mati (yah, serem juga sih kalau bisa dibuka), pintu keluar ya ke balkon sama ke hallway. 

Akhirnya saya memutuskan untuk sewa go-clean cause I think I need profesional cleaner to get rid of this dust and virus and bacteria.

Saya klik klik pesen yang detailnya kira-kira sebagai berikut:
1. Jam nya
Ternyata bisa pesen in advance jam berapa hari itu juga. Akhirnya saya milih dadakan karena masih ada urusan. Daripada mbaknya datang dan saya masih belum siap. 

Pas milih buat dadakan ya ternyata enggak semendadak itu juga. Saya buka app jam 15.30, pengennya buat jam 16.00, ternyata pilihan paling cepet jam 17.30. 

Jadi kayaknya paling cepet sekitar 2 jam setelah kita buka app itu.

2. Jumlah rooms dan bathrooms
Jumlah kamar ini nanti akan jadi kalkulasi waktu yang dibutuhkan buat bebersih

Saya pilih 3 'rooms' (2 kamar tidur+1 ruang tengah/dapur) dan 1 bathroom.
Kenanya 2.5 jam.

3. Ada extra buat dish washing, stove cleaning, cabinet cleaning, dll.
Nah kalau ini dicentang, kalkulasi waktunya nambah. Setiap kotak nambah setengah jam.

Karena saya enggak dong-an, saya telp ke CS nya. Tanya sebenernya dibersihin gimana kalau cabinet cleaning, terus gimana kalau ternyata enggak perlu waktu selama itu?

Jawabannya, cuma dilap-lap dan kalau ada sisa waktu ya bisa dipakai untuk bersih-bersih yang lain.

Jadi menurut saya, mending waktunya kurang trus kita nambah daripada udah kecetak di app 3 jam, ternyata 2 jam udah kelar. Tetep bayar 3 jam. 

4. Bisa milih gender
Saya milih gender sesuai saya alias cewek. Pertimbangannya ya cewek cenderung lebih pinter bersih-bersih. Cenderung ya, enggak semua cewek. 

Ternyata senjata makan tuan. Pas mbaknya datang, saya laper dan pengen turun beli makan, tapi enggak enak kalau ninggalin dia sama Daddy Bapao. Hehehe...

We ended up leaving the mbak to clean while we ate downstairs. Nothing is missing though.

5. Alamat
Nah ini agak beda sama gojek. Kebiasaan pakai gojek, jadi saya isi alamatnya cuma jalan aja. Karena di gojek kan ada form sendiri buat isi building name, floor, ect.

Ternyata di go-clean, cuma alamat doank. Hahaha...

Si mbak jadi harus sms/telp saya buat nanya tower sama lantai. Maapkeun mbaaakkk....

Akhirnya jam 19.30 rumah udah kinclong, 2 jam ajah. Masih sisa setengah jam, tapi saya udah bingung suruh si mbak ngapain lagi. 

Hasilnya puas banget
+ Kamar mandi jadi bersih banget, Daddy Bapao sampai ngaku kalah dalam bersihin kamar mandi. 

+ kamar plus ruang tengah juga bebas debu. Semua furniture yang ada dilap, termasuk rak buku kecil kami dan rak-rak gantung di dapur kami.

+ barang-barang yang berserakan diberesin. 

- mungkin ada yang enggak suka tatanan barangnya diubah. Di apartemen saya, si mbak ngubah tatanan di kamar mandi yang tadinya di bagian kanan rak, jadi di bagian kiri. Buku-buku juga diubah tatanannya, tapi tetap di slot rak yang sama.

- saya rugi setengah jam karena hitungan di app 2.5 jam, padahal 2 jam udah selesai. 

Ya emang dasarnya rumah saya rapi dan enggak banyak barang sih (pamer dikit lah). Cuma debunya itu enggak nguatin. 

--
Karena promo, kami bayar Rp 100k buat 2.5 jam. 

By the way, si mbak ini cerita kalau promo gini, dia enggak disubsidi macam gojek. Dia juga tetap bayar jasa gojek. Soalnya beda management katanya. 

Daddy Bapao enggak tega trus nambahin deh, itung-itung buat ongkos ke sini.

Nanti, kayak gojek, saya diminta mengisi form feedback dan rating buat dapat potongan di next order. 

Overall, saya dan Daddy Bapao suka sama hasilnya. Kata Daddy sih enggak apa-apalah rugi setengah jam, lha emang udah enggak ada yang bisa dibersihin (masih bisa asah-asah gelas Dad!!!)

Rencananya mau kami budget-in sebulan sekali pakai jasa ini. 

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...