Showing posts with label pengalaman beli properti. Show all posts
Showing posts with label pengalaman beli properti. Show all posts

Friday, January 13, 2017

Pengalaman Beli Properti, Beli Apartemen Second

Ini kelanjutan postingan Jodoh Enggak Kemana. Disini, saya coba share teknis pembelian apartemen second. 

Jujur, saya enggak begitu paham, sih. Tapi saya coba jelasin sebisa saya, plus tambahan info dari Popo.

So we found the unit that we'd like to purchase. Sebenarnya ini unit udah sering dikontrakin. Terkahir dikontrak sama Yang Uti and Yang Kung. Lantainya cukup tinggi. 

Intinya, ini bukan unit ideal kami. Kami pengennya yang lantai rendah and belum pernah ditempati. Tapi apa daya, harga juga yang bicara. Hahahaha...

Kami udah setahun tinggal di lantai yang sama. Saya juga sering ngabisin waktu di unit itu waktu masih jadi stay at home mom.  Kami cukup betah dan enggak menemukan kendala yang berarti. Jadi Bismillah, semoga emang jodoh kami ya apartemen mungil ini.

Saya udah googling sebelumnya soal beli properti/apartemen in general. Agak nakutin sih. Kayaknya rawan penipuan dll. Saya juga pernah diceritain macem-macem sama salah satu agen properti di apartemen ini, yang intinya harus hati-hatiiiii banget kalau beli apartemen second. (Intinya sih belinya lewat dia aja biar aman, halah.)

Tapi ternyata semua ketakutan saya enggak ada yang terbukti lho. In fact the process was somewhat simple. Yah go with the flow gitu. 

Alhamdulillah juga ketemu langsung sama pemilik yang kooperatif. Beneran deh kalau properti itu pulung (jodoh). 

Pertama soal proses jual beli apartemen secara umum. Waktu apartemen dibeli sama pemilik pertama, developer ngasi yang namanya PPJB. Menurut bahasa saya sih, ini surat tanda apartemen udah jadi punya pemilik.

PPJB ini nanti akan jadi AJB (akta jual beli) yang udah setara sertifikat. Nah, bank enggak akan mau nerima PPJB sebagai jaminan. Inilah alesan saya enggak bisa KPA dan harus beli apartemen cash. Lha enggak ada jaminannya.

Bank baru mau nerima kalau udah AJB. Masalahnya kalau udah AJB dan bisa dicicil pakai KPA, harganya bisa naik dobel-dobel. Rumit, kan? Hukum ekonomi gitu deh (sok tau) (kayaknya sih enggak juga). 

AJB sendiri keluar setelah semua unit kejual, which is why it takes so long. Apartemen yang saya beli ini udah 5 tahun berdiri dan belum keluar AJB nya.

Kalau ada orang yang mau jual pas apartemen ini masih PPJB statusnya, ya PPJB antara developer dan pemilik dibatalkan, dan digantikan sama PPJB baru antara developer sama pembeli (saya).

Prosesnya lumayan lama. Jadi saya and Popo ngumpulin berkas-berkas kayak fotokopi KK, KTP, NPWP. Kayaknya itu aja deh. 

Sementara itu, Pemilik sedikit lebih rempong buat nyiapin dokumen-dokumen dari pihak dia. Karena harus ngumpulin lebih banyak, kayak persetujuan dari anak-anak pemilik+pasangannya, surat domisili yang harus diurus ke kelurahan, dll.

Kata mbak developer sih, pernah ada orang mau jual apartemennya dan punya 9 anak, nyebar se-Indonesia, ya tetep harus ada tanda tangan 9 anak itu+suami/istri mereka. Kalau yang udah almarhum, harus ada surat kematian, dll. It was a lot of paper.

Selain surat, unit ini juga harus dilunasi semua tagihan, kayak maintenance, listrik, pajak, dll. Buat kasus saya, pemilik minta kami yang lunasin, yang nanti akan dikurangin di harga apartemen. Si bapak emang oke lah.

Next, kami nunggu. Udah kayak nunggu hasil pengumuman lolos kerja aja. Kalau lolos, nanti diminta datang buat proses jual-beli. Kalau belum, ya ada revisi yang diminta.

Proses nunggu-nya sih 1-2 minggu. Masalahnya banyak berkas yang ternyata perlu dibenerin dari pihak pemilik, which was soal tanda tangan salah satu anak mantunya gitu sama surat dari kelurahan kalau enggak salah. Jadi saya nunggu 1 bulanan.

Akhirnya kami dapat kabar kalau udah bisa tanda tangan. Kami juga dikabarin buat bayar pajak sebelum ttd. Pajak ini udah kesepakatan saya dan pemilik, kalau yang bayar saya. Bayarnya kayak bayar pajak pada umumnya, lewat bank. Jadi sehari sebelum tanda tangan, saya ke bank buat bayar pajak ini.

Waktu hari tanda tangan, kami datang pagi dan nunggu dapat giliran di lobi gitu. Dipanggil namanya, terus kami (saya, Popo, pemilik dan anak-anaknya) nunggu lagi di ruangan berbeda yang udah ada meja kursinya.

Di ruangan itu kami ketemu Mbak Developer yang ngumpulin berkas pemilik yang kurang. Sekalian ngecek semua berkas pemilik dan saya. Setelah semua dicek, kami pindah ruangan yang udah ada notaris.

Nah, disini sebenarnya notaris expect saya udah bayar, jadi dia tinggal ngurusin pembatalan PPJB Developer-Pemilik. Tapi saya belum bayar karena takut bayar duluan.

Intermezzo: ternyata jual beli properti macem-macem. Uti dulu cerita kalau beliau and Yang Kung transfer ke rekening notaris, habis balik nama, baru notaris transfer uang ke pihak satunya, macam rekber gitu deh. Pernah juga pembeli dan penjual dan notaris bareng-bareng ke bank buat ngawasin proses transfer. 

Kebetulan pas kasus saya, pembeli harus transfer dulu sehari sebelum urusan tanda tangan ini. Cuma, ya itu, saya serem aja kalau saya uda transfer, terus besoknya pemilik enggak datang ke developer gimana?

Alhamdulillah pemilik berbaik hati, dia back up kami dan bilang kalau memang persetujuannya tanda tangan dulu. Jadi notaris enggak masalah. Cuma minta dikabarin kalau proses transfer udah selesai.

Intermezzo: ada beberapa blog yang menyarankan buat pakai notaris sendiri biar lebih secure. Lha disini saya enggak ngerasa punya ruang buat nyari atau masukkin notaris sendiri. Lebih ke ngikutin prosedur yang udah dipakai developer.

Habis tanda tangan, saya bayar biaya-biaya sekitar Rp 4 juta ke kasir developer. Habis itu kelar urusan saya-pemilik-notaris. Sampai sini, PPJB pertama developer-pemilik udah batal.

Saya diminta nunggu beberapa minggu buat ttd PPJB baru antara developer-kami.

Kelar proses di developer. Saya langsung transfer uang ke rekening pemilik. Dan kami saling sms notaris di tempat saat itu juga. Jadi aman. 

Nah, ini urusan kami sama pemilik lama udah kelar. He was free to go. Saya? 
.......
Tentu belum.

Jujur saya sempat deg-degan. Developer enggak ngasi saya selembar kertas atau kwitansi atau apalah. Saya cuma megang kuitansi dari pemilik lama yang saya ragu ada gunanya atau enggak di mata hukum atau developer.

Dan, waktu berjalan cepat. Beberapa minggu kemudian, kami dipanggil lagi buat tanda tangan PPJB baru. Kelar tanda tangan,  kami masih enggak pegang apa-apa. Katanya nanti suruh ngecek tagihan listrik bulan depan buat lihat apa nama pemilik udah berubah.

Sebulan kemudian, tagihan listrik masuk ke handphone kami and namanya udah berubah jadi nama kami. Alhamdulillah!!!

Proses selesai....dan SAYA MASIH ENGGAK PEGANG APA-APA. Hahahahaha...

Ekspektasi saya, saya bakal pegang kertas bukti, kalau apartemen ini punya kami. Ternyata enggak ada. 

Kata Popo: ini karena PPJB masih harus ditanda tangani direktur developer dan akan mulai proses AJB, jadi nanggung kalau PPJB dikasih ke kami. 

So that's the process. To sum up, saya bayar beberapa kali:
Sebelum tanda tangan
1. Dp ke pemilik
2. Maintenance ke developer
3. Pajak
Setelah tanda tangan
4. Biaya-biaya termasuk notaris, ke kasir developer
5. Transfer uang seharga apartemen ke pemilik
6. Tanda tangan PPJB baru dengan nama pemilik baru
7. Cek apa tagihan listrik masuk ke handphone pemilik baru dan nama berubah ke pemilik baru.

Alhamdulilah proses lancar. Kami mulai pelan-pelan menata apartemen nan mungil ini. Semoga kedepannya enggak ada masalah.

Sunday, October 23, 2016

Pengalaman Beli Properti; Jodoh Emang Enggak Kemana

Alhamdulilah, setelah jadi kontraktor selama 4 tahun, kami diberi rezeki buat beli properti pertama kami. Seperti udah pernah saya tulis di post sebelumnya, saya sama Popo milih apartemen instead of rumah, karena beberapa hal. Lengkapnya ya di postingan ituh. Monggo dibaca kalau tertarik. Enggak ada adsense-nya kok... hehehe...

Disclaimer: saya bukan mau pamer atau riya. Cuma pengen share cause sharing is caring. Dan saya juga ngerasain browsing internet buat nyari tahu lebih jelas soal beli apartemen, cause, as I thought before, ini enggak kayak beli kacang atau baju kan. It's complicated, at least for me and Popo. 

Di sini, saya mau cerita gimana perjalanan saya dan Popo sampai akhirnya bisa beli ini apartemen.

Sebenernya kami udah niat beli apartemen sejak masih tinggal di Jakarta Barat. Apartemen yang kami sewa di sana was A.M.A.Z.I.N.G. Enggak luas banget, sekitar 36 m2. Tapi kami dapet kolam renang, taman tempat nongkrong, plus the best view ever. Not to mention, sebelah tower saya itu sungai. Seriously, kayak tinggal di manaaaa gitu. 

My view back then. (Foto: dok. Pribadi). 

Tapi, enggak tahu kenapa, saya enggak fit in sama neighbourhoodnya. Mall deket, bioskop banyak, rumah sakit juga ada. Tapi kayak ada magnet yang selalu narik saya buat ke Jakarta Selatan. Entah karena deket kantor Popo dan pernah setahun kos di Benhil, pokoknya tiap ngemall, saya selalu ke arah Kuningan atau Semanggi. 

Sempet diskusi panjang (on and off ya) sama Popo. Dari mulai masih berdua, sampai hamil, sampai ada Zedd. Akhirnya sepakat, ya hati kami sreg-nya di Selatan. Dan ini step-step yang kami lakukan.

1. Hunting Apartemen
Mulailah berburu apartemen. Pertama mulai dari internet pastinya. Habis itu liat lokasi. Yang jadi pertimbangan itu luasnya, harganya, lingkungan sekitar, kelengkapan fasilitas dll.

Buat kami, yang penting itu grocery, entah indormaret, alfamart, supermarket, atau pasar.Pokoknya harus ada yang walking distance. Ini penting kalau Popo pas ke kebon dan saya sendirian. Atau tiba-tiba popok abis. Tambahannya, harus gampang cari galon, gas, dan laundry. Saya pernah maen ke apartemen temen saya, apartemen elit sih. Laundry dan galon cuma 1. Hzzz... dia sih nyuci sendiri dan balkonnya cukup buat jemuran.

Akses juga pasti jadi pertimbangan yah. Gampang enggak nyari taksi? Stasiun atau busway terdekat ada apa enggak. Emang sih sekarang ada ojek and taksi online. But still, just for back up and options.

Karena saya udah punya anak, rumah sakit juga harus deket yah. Apalagi kalau Zedd panas dan malem itu juga harus ke dokter. huhuhu... jadi reminiscing.

Parkir, maintenance fee, listrik, air, dan banjir juga masuk itungan yah. Ada apartemen yang pakai pulsa, ada juga yang enggak. Personally enak yang pakai pulsa sih. Nah, hal-hal ini pasti kami tanyain pas kami liat unit apartemen.

Jadi setelah kami liat-liat dari internet, kami datengin tuh masing-masing apartemen, termasuk yang di luar budget kami. Just to see the difference and what we're getting into. Kami milih buat datang ke broker, karena mereka punya banyak pilihan dan bisa langsung liat kapan aja. Kalau langsung nyari pemilik, lebih ribet karena harus janjian.


2. Budget
Sambil browsing apartemen, kami juga browsing soal KPA dan biaya cicilan, berapa lama ngutang.

Kesimpulan riset budget itu adalah, kami susah beli apartemen yang udah jadi. Harus beli apartemen yang masih...how do you call it? early bird? pokoknya beli yang masih tanah atau masih dalam tahap pembangunan. 

Masalahnya, kalau kami nyicil apartemen yang belum jadi, lha kami tidur mana? Budget kami ya cuma cukup buat nyicil, enggak cukup buat nyicil + ngontrak rumah. 

Ngubek-ubek google lagi, kami ternyata bisa beli apartemen yang udah jadi tapi dari tangan kedua, alias second. So we set our mind on that apartment.

Akhirnya kami udah tahu budget apartemen maksimal yang bisa kami beli cause partemen yang diincer juga udah ada. Setelah baca bukunya Prita Ghozie, saya sama Popo sepakat mau ngutang ke Bank Syariah aja karena cicilannya tetap. 

Pas kesana, ketemu sama sepupu saya yang emang kerja di bank syariah dan ngurusin KPA/KPR. Kami konsultasi ke si Mas. Dan baru tahu kalau APARTEMEN SECOND ITU ENGGAK BISA DICICIL. Hwahahahaha...

Ada pengecualian kalau ada kerja sama. Lha bank Mas Sepupu saya ini malah kerja sama apartemen yang di Kebon Jeruk. Yaaahhh...

Pas fase ini kami mentok. Ya gimana, uangnya enggak ada. Waktu itu saya lagi hamil juga. Uang buat persiapan lahiran dan perlengkapan bayi juga enggak sedikit. Dengan berat hati, kami pending dulu niatan beli apartemen ini dan kembali nyewa 1 unit apartemen selama setahun.

--
Jalan setengah tahun, kami masih lost soal beli apartemen. Waktu ini, kami juga liat-liat rumah dan makin manteb buat enggak beli rumah dulu, at least for the next couple of years. Kebetulan waktu itu Yang Uti dan Yang Kung masih nemenin saya dan Sipa di apartemen inceran.

So this was where fate intervened.

Pemilik unit yang disewa sama Eyang, nawarin apartemennya. Waaaa... padahal kami lagi enggak nyari. Moreover, harganya murah.

Buat gambaran, pas saya hamil (2014), harga apartemen di internet di broker sekitar x00 juta.
Yang ditawarin sama si Mas ini  x00 - 40 juta (2016).
Kalau perbedaan sama di Internet bisa sampai 70 juta lebih murah.
Padahal udah beda tahun lho.

More intervention from Allah SWT: Popo dapet promosi dan bonus yang cukup besar buat standar kami. Alhamdulilah...

Saya jadi ngerasain apa yang dulu sering diomongin orang-orang. Beli properti itu emang pulung (bahasa Jawa). Kalau udah jodoh, enggak akan kemana. Keinginan kami buat beli apartemen dari 2013 yang enggak punya budget sama sekali, 2014 udah ada DP tapi ternyata enggak bisa dicicil, 2015 totally lost, 2016 kami akhirnya dipertemukan sama our first 'home.' Can't say Alhamdulillah enough for this blessing.

Next mau ngomongin detail and proses belinya. Ini harus nanya-nanya Popo dulu, karena saya enggak begitu ngerti.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...