Jujur, saya enggak begitu paham, sih. Tapi saya coba jelasin sebisa saya, plus tambahan info dari Popo.
So we found the unit that we'd like to purchase. Sebenarnya ini unit udah sering dikontrakin. Terkahir dikontrak sama Yang Uti and Yang Kung. Lantainya cukup tinggi.
Intinya, ini bukan unit ideal kami. Kami pengennya yang lantai rendah and belum pernah ditempati. Tapi apa daya, harga juga yang bicara. Hahahaha...
Kami udah setahun tinggal di lantai yang sama. Saya juga sering ngabisin waktu di unit itu waktu masih jadi stay at home mom. Kami cukup betah dan enggak menemukan kendala yang berarti. Jadi Bismillah, semoga emang jodoh kami ya apartemen mungil ini.
Saya udah googling sebelumnya soal beli properti/apartemen in general. Agak nakutin sih. Kayaknya rawan penipuan dll. Saya juga pernah diceritain macem-macem sama salah satu agen properti di apartemen ini, yang intinya harus hati-hatiiiii banget kalau beli apartemen second. (Intinya sih belinya lewat dia aja biar aman, halah.)
Tapi ternyata semua ketakutan saya enggak ada yang terbukti lho. In fact the process was somewhat simple. Yah go with the flow gitu.
Alhamdulillah juga ketemu langsung sama pemilik yang kooperatif. Beneran deh kalau properti itu pulung (jodoh).
Pertama soal proses jual beli apartemen secara umum. Waktu apartemen dibeli sama pemilik pertama, developer ngasi yang namanya PPJB. Menurut bahasa saya sih, ini surat tanda apartemen udah jadi punya pemilik.
PPJB ini nanti akan jadi AJB (akta jual beli) yang udah setara sertifikat. Nah, bank enggak akan mau nerima PPJB sebagai jaminan. Inilah alesan saya enggak bisa KPA dan harus beli apartemen cash. Lha enggak ada jaminannya.
Bank baru mau nerima kalau udah AJB. Masalahnya kalau udah AJB dan bisa dicicil pakai KPA, harganya bisa naik dobel-dobel. Rumit, kan? Hukum ekonomi gitu deh (sok tau) (kayaknya sih enggak juga).
AJB sendiri keluar setelah semua unit kejual, which is why it takes so long. Apartemen yang saya beli ini udah 5 tahun berdiri dan belum keluar AJB nya.
Kalau ada orang yang mau jual pas apartemen ini masih PPJB statusnya, ya PPJB antara developer dan pemilik dibatalkan, dan digantikan sama PPJB baru antara developer sama pembeli (saya).
Prosesnya lumayan lama. Jadi saya and Popo ngumpulin berkas-berkas kayak fotokopi KK, KTP, NPWP. Kayaknya itu aja deh.
Sementara itu, Pemilik sedikit lebih rempong buat nyiapin dokumen-dokumen dari pihak dia. Karena harus ngumpulin lebih banyak, kayak persetujuan dari anak-anak pemilik+pasangannya, surat domisili yang harus diurus ke kelurahan, dll.
Kata mbak developer sih, pernah ada orang mau jual apartemennya dan punya 9 anak, nyebar se-Indonesia, ya tetep harus ada tanda tangan 9 anak itu+suami/istri mereka. Kalau yang udah almarhum, harus ada surat kematian, dll. It was a lot of paper.
Selain surat, unit ini juga harus dilunasi semua tagihan, kayak maintenance, listrik, pajak, dll. Buat kasus saya, pemilik minta kami yang lunasin, yang nanti akan dikurangin di harga apartemen. Si bapak emang oke lah.
Next, kami nunggu. Udah kayak nunggu hasil pengumuman lolos kerja aja. Kalau lolos, nanti diminta datang buat proses jual-beli. Kalau belum, ya ada revisi yang diminta.
Proses nunggu-nya sih 1-2 minggu. Masalahnya banyak berkas yang ternyata perlu dibenerin dari pihak pemilik, which was soal tanda tangan salah satu anak mantunya gitu sama surat dari kelurahan kalau enggak salah. Jadi saya nunggu 1 bulanan.
Akhirnya kami dapat kabar kalau udah bisa tanda tangan. Kami juga dikabarin buat bayar pajak sebelum ttd. Pajak ini udah kesepakatan saya dan pemilik, kalau yang bayar saya. Bayarnya kayak bayar pajak pada umumnya, lewat bank. Jadi sehari sebelum tanda tangan, saya ke bank buat bayar pajak ini.
Waktu hari tanda tangan, kami datang pagi dan nunggu dapat giliran di lobi gitu. Dipanggil namanya, terus kami (saya, Popo, pemilik dan anak-anaknya) nunggu lagi di ruangan berbeda yang udah ada meja kursinya.
Waktu hari tanda tangan, kami datang pagi dan nunggu dapat giliran di lobi gitu. Dipanggil namanya, terus kami (saya, Popo, pemilik dan anak-anaknya) nunggu lagi di ruangan berbeda yang udah ada meja kursinya.
Di ruangan itu kami ketemu Mbak Developer yang ngumpulin berkas pemilik yang kurang. Sekalian ngecek semua berkas pemilik dan saya. Setelah semua dicek, kami pindah ruangan yang udah ada notaris.
Nah, disini sebenarnya notaris expect saya udah bayar, jadi dia tinggal ngurusin pembatalan PPJB Developer-Pemilik. Tapi saya belum bayar karena takut bayar duluan.
Intermezzo: ternyata jual beli properti macem-macem. Uti dulu cerita kalau beliau and Yang Kung transfer ke rekening notaris, habis balik nama, baru notaris transfer uang ke pihak satunya, macam rekber gitu deh. Pernah juga pembeli dan penjual dan notaris bareng-bareng ke bank buat ngawasin proses transfer.
Kebetulan pas kasus saya, pembeli harus transfer dulu sehari sebelum urusan tanda tangan ini. Cuma, ya itu, saya serem aja kalau saya uda transfer, terus besoknya pemilik enggak datang ke developer gimana?
Kebetulan pas kasus saya, pembeli harus transfer dulu sehari sebelum urusan tanda tangan ini. Cuma, ya itu, saya serem aja kalau saya uda transfer, terus besoknya pemilik enggak datang ke developer gimana?
Alhamdulillah pemilik berbaik hati, dia back up kami dan bilang kalau memang persetujuannya tanda tangan dulu. Jadi notaris enggak masalah. Cuma minta dikabarin kalau proses transfer udah selesai.
Intermezzo: ada beberapa blog yang menyarankan buat pakai notaris sendiri biar lebih secure. Lha disini saya enggak ngerasa punya ruang buat nyari atau masukkin notaris sendiri. Lebih ke ngikutin prosedur yang udah dipakai developer.
Habis tanda tangan, saya bayar biaya-biaya sekitar Rp 4 juta ke kasir developer. Habis itu kelar urusan saya-pemilik-notaris. Sampai sini, PPJB pertama developer-pemilik udah batal.
Saya diminta nunggu beberapa minggu buat ttd PPJB baru antara developer-kami.
Kelar proses di developer. Saya langsung transfer uang ke rekening pemilik. Dan kami saling sms notaris di tempat saat itu juga. Jadi aman.
Nah, ini urusan kami sama pemilik lama udah kelar. He was free to go. Saya?
.......
Tentu belum.
Jujur saya sempat deg-degan. Developer enggak ngasi saya selembar kertas atau kwitansi atau apalah. Saya cuma megang kuitansi dari pemilik lama yang saya ragu ada gunanya atau enggak di mata hukum atau developer.
Dan, waktu berjalan cepat. Beberapa minggu kemudian, kami dipanggil lagi buat tanda tangan PPJB baru. Kelar tanda tangan, kami masih enggak pegang apa-apa. Katanya nanti suruh ngecek tagihan listrik bulan depan buat lihat apa nama pemilik udah berubah.
Sebulan kemudian, tagihan listrik masuk ke handphone kami and namanya udah berubah jadi nama kami. Alhamdulillah!!!
Proses selesai....dan SAYA MASIH ENGGAK PEGANG APA-APA. Hahahahaha...
Ekspektasi saya, saya bakal pegang kertas bukti, kalau apartemen ini punya kami. Ternyata enggak ada.
Kata Popo: ini karena PPJB masih harus ditanda tangani direktur developer dan akan mulai proses AJB, jadi nanggung kalau PPJB dikasih ke kami.
So that's the process. To sum up, saya bayar beberapa kali:
Sebelum tanda tangan
1. Dp ke pemilik
2. Maintenance ke developer
3. Pajak
Setelah tanda tangan
4. Biaya-biaya termasuk notaris, ke kasir developer
5. Transfer uang seharga apartemen ke pemilik
6. Tanda tangan PPJB baru dengan nama pemilik baru
7. Cek apa tagihan listrik masuk ke handphone pemilik baru dan nama berubah ke pemilik baru.
Alhamdulilah proses lancar. Kami mulai pelan-pelan menata apartemen nan mungil ini. Semoga kedepannya enggak ada masalah.
6. Tanda tangan PPJB baru dengan nama pemilik baru
7. Cek apa tagihan listrik masuk ke handphone pemilik baru dan nama berubah ke pemilik baru.
Alhamdulilah proses lancar. Kami mulai pelan-pelan menata apartemen nan mungil ini. Semoga kedepannya enggak ada masalah.
