Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts

Monday, July 29, 2019

Barang Bayi buat Apartemen Mini(malis)


Dari hamil - sekarang punya 2 anak, saya tinggal di apartemen minimalis yang kuecil banget. Jadi saya udah ngalamin 2 kali ngurusin bayi di temen pat sempit. 

Pemilihan barang jadi point penting di sini. Lha wong space nya apartemen minimalis ini bener-bener terbatas. Alhamdulilah saya punya anak di zaman modern, jadi barang-barangnya juga beragam banget. 

Dulu waktu zamannya Zedd saya bikin beberapa kesalahan, milih barang bayi asal aja. Yang penting Zedd nyaman. 

Sekarang, buat Elle, agak beda. Walaupun kenyamanan tetep prioritas, tapi space juga jadi pertimbangan. 

So, let’s get to it.
  1. Stroller
Di postingan-postingan sebelumnya, udah pernah saya bahas, kayak di tulisan Tipe Stroller dan Tips Hidup di Apartemen.

Intinya sih, pilih stroller yang kalo dilipet jadi kecil. Travel stroller kayak pockit misalnya. Atau umbrella stroller kayak MacLaren. Combi dan Aprica juga bisa jadi pilihan.

Karena tiap masuk apartemen, idealnya stroller itu dilipet, saya milih yang ngelipetnya gampang, kayak Combi yang sekarang kami pakai. Enggak perlu 
 jongkok dan bisa pakai 1 tangan. 



Masih kepake sampai sekarang. Awet.


2. Bak Mandi
Gaes, bak mandi bayi itu gede ya. Tiga tahun lalu sih, Zedd masih aman pakai bak bayi yang gede/XL. Soalnya ada Eyang yang nyewa 1 unit. Jadi bak mandi dan freezer asi disimpen di situ. 

Lha sekarang? Mana cukup, apalagi mainan Zedd makin banyak. Trus gimana dong? Jawabannya bak Karibu karena bisa dilipet. Hooray!!!

Kalau udah dilipet tinggal digantung deh pake gantungan yang dibeli di Miniso. Biar bisa digantung, kasi tali rafia dulu. 

Karibu yang saya punya ukurannya gede. Tapi kemarin pas ke ITC, ada yang kecil lho. Enggak tahu deh, itu merk Karibu atau bukan. 

Harga bak karibu ini mihil yes, 400-500 ribuan kalo enggak salah. But it’s worth it buat yang ruangannya kecil. Alhamdulilah juga punya adek makmur, jadi bisa minta dikado bak ini. Hehehehe.....




Monmaap kotor. Enggak sempat pencitraan.



3. Boon Drying Rack
Nama aslinya macem-macem, intinya rak pengering botol dari Boon yang kayak rumput.

Mirip Karibu, harga Boon ini juga mahal, sekitar 300 ribu. Tapi lagi-lagi ini sepadan. Saya tahu karena sebelumnya saya beli drying rack murah yang harganya enggak nyampe 100 ribu. Sebenernya enggak ada yang salah sama drying rack itu. Cuma enggak muat aja di apartemen mini.

Akhirnya drying rack itu dipakai Sipa, karena rumahnya lebih gede. Trus saya beli Boon deh. 

Bentuk drying ini biasanya begini:


Ignore yang boon ya. Itu lho yang kayak tiang-tiang atau akar pohon. Kan gampang kesenggol. (Source: Google) 


Enaknya Boon ini, datar dan pendek (ya iyalah, rumput gitu lho). Jadi botol-botol sejajar. Enggak makan space vertikal. Enaknya lagi, drying rack ini bisa masuk laci dapur saya. Laci ini custom, tapi di Ikea juga ada. Namanya laci, but it’s deep. Jadi muat minyak 2 liter dan panci gede. Muat juga buat drying rack + botol-botolnya.
Karena udah enggak ada yang pakai botol, sekarang kepake buat tumbler sama mason jar.

Lha kok masuk laci? Apa enggak lembab? Ya lembab. Jadi kami kasih serap air + bau. 

Bagusnya lagi, si Boon ini bisa dipake walaupun sesi minum susu pake botol udah selesai. Tuh, masih bisa dipake buat ngeirngin tumbler-tumbler kami. Kalo yang lain, dikasi tumbler starbak, ngguling kali ya?

Mahal sih, tapi lama kepakenya.

4. Booster Seat
Saya pakai merk Ingenuity, review nya udah bikin di sini zaman Zedd MPASI. 

Ingenuity booster seat ini barang turunan dari Zedd. As much as I want to use regular high chair for Elle, enggak mungkin. Terlalu besar buat apartemen mini. 

Sempet riset high chair minimalis atau high chair yang bisa dilipet. Ada Peg Perego Siesta yang harganya 3 jutaan. Sempet tergoda, tapi akirnya pake Ingenuity aja yang udah ada. 

Alasannya, selain harga, karena tetep kelihatan enggak compact. Lipetnya ribet, dan pakainya paling cuma bentar. Pengalaman sama Zedd, kursi makan paling lama dipake sampai umurnya 1.5 tahun. 

—
Kayaknya 4 barang itu yang baiknya dipilih kalau tinggal di apartemen minimalis nan sempit. Di luar itu, ada beberapa tips and trik. 

-  Jumlah Barang Ngikutin Space
Selain 4 item di atas, beberapa barang sebenernya sama aja, mau di tempat sempit atau gede. Kayak peralatan makan, peralatan mandi, atau mainan. Hal-hal itu sih, fokus ke jumlah aja. Jangan terlalu banyak. 

Triknya adalah barang ngikutin space. Saya punya kotak yang isinya mainan. Kalau kotak itu penuh, artinya enggak beli mainan lagi. Kalau mau beli, ya isi kotak itu dikurangi dulu. 

So I’m constantly decluttering. 

- Maksimalkan Sewa
Enaknya zaman sekarang itu ada persewaan barang-barang bayi. Kalau ibu-ibu sewa barang karena pengen nyobain dulu, lain halnya sama saya, ibu yang tinggal di apartemen mini. 

Saya nyewa karena enggak ada tempat nyimpennya. Personally, saya dulu nyewa Nuna Leaf dan Lion Walker yang femes pada zamanya, buat Zedd. Buat Elle, so far saya sewa Mamaroo. Box bayi sempet mau sewa, tapi akhirnya urung karena tetep enggak muat. 

Baby walker, baby box, jump-a-roo, dan bouncer, masa pakainya buat saya singkat banget, tapi gede-gede. Jadi sewa lah solusinya.

Kalau ada yang rajin, mau beli trus jual lagi ya bisa. Tapi agak repot dan saya males repot

—
That’s how we cope with small spaces, while raising 2 children 

Is it doable? Yes.

Is it cheap? Unfortunately not. 
Hampir semua yang saya tulis di atas termasuk mahal buat saya. 

Is it ideal? Depends. 
Zedd dan Elle pastinya enggak sebebas anak-anak yang punya playroom sendiri. 

Mainannya terbatas, buku-bukunya terbatas, dan saya jarang banget mainan craft atau coloring karena takut kotornya kebawa kemana-mana. 

But we adapt. Alhamdulilah paud/pre-school nya mengakomodir mainan kotor-kotor itu. Trus kalo pengen main pasir, ya ke playground di luar. 

Balik lagi, I am constantly trying to make my babies smile and happy despite living in small space. Trying to focus on other things, kayak becanda bareng, nyanyi bareng. Main yang enggak perlu pake alat atau bikin kotor lah. 

Saturday, January 13, 2018

Tips Mendekor Apartemen Sempit

Ngomongin soal ngedekor apartemen atau rumah, saya mungkin enggak ada apa-apanya dibanding buibu home decor influencer di Instagram yang punya puluhan sampai ratusan ribu followers.

Sebut aja @bebydevlin, @babydinata, @hanibii, @nugrohouse, dan masih banyak lagi. Yang saya sebut itu, buibu yang lahan rumahnya juga terbatas, ya

Tapi saya tetep berharap tips and trik mendekor apartemen dari saya ini bisa berguna. Saya hidup di apartemen super kecil, lebih kecil dari ruang display Ikea yang 36 m2. Saya sering papasan dengan sesama ibu-ibu muda (eciyeh, pede amat). Jadi, menurut saya, banyak yang kayak saya, new small family who couldn’t afford a proper house but still wants to live in the middle of this city. 

So, for those women, this post is for you. 

1. Buat yang Punya Bayi-Balita, Pilih Stroller Kecil

Banyak banget bayi di apartemen saya. Saking banyaknya, sampai ada posyandu dan 2 daycare. Jadi stroller ini pasti bakal jadi masalah. 

Saya tahu, semua ibu pasti pengen anaknya nyaman. Dan nyaman itu identik sama stroller gede. Tapi apartemennya kan kecil. Ya mau enggak mau, harus adapt. 

Saya pernah nulis sekilas di post bawah ini,


Ibu yang tinggal di apartemen, lebih baik milih stroller kecil, lightweight stroller, atau travel friendly stroller. Intinya stroller yang kalau dilipet jadi kecil. 
Ini posisi enggak dilipet. Mayan makan space, yes?


Ini pas dilipet, much better kan?



Saya pribadi prefer yang bentuknya mirip Combi, Aprica, Joie Sma Baggi/Joie Mirus. Karena lipetnya gampang, kalau dilipet enggak makan tempat, dan bisa full reclined. Jadi bayi newborn bisa rebahan.

Empuknya gimana? Ya, keras lah. Sebelum Combi saya pakai Coco Latte Trip-R yang mantab. Itu kasurnya emang empuk. Jadi saya akalin dengan beli alas stroller. Saya beli yang standar di MBFair. Tapi kalau budgetnya ada sih, ada lah alas stroller yang mihil nan empuk.

Lebih jelasnya baca di sini, Review Combi Cozy.

Itu juga yang saya tekankan, hidup di tempat sempit alias living small ini, mahal lho. Alas stroller itu baru satu contoh. Ke bawah, akan lebih banyak lagi.

Anywhoo, Zedd bisa bobo nyenyak bahkan tanpa alas stroller. 

Pilihan stroller lain, menurut saya adalah MacLaren, karena kecil dan bisa full reclined setahu saya. Ada juga beberapa temen daycare Zedd (daycare nya di apartemen, jadi temen daycare Zedd juga tinggal di apartemen, beda tower aja) yang pakai stroller Pockit. Walaupun kecil, saya kurang suka karena rempong lipetnya dan anaknya enggak bisa tidur rebahan.


2. Customize Your Furniture 
Walaupun ada beberapa dekorasi rumah yang emang mungil dan bisa langsung dibeli,  kalo buat furniture gede, saya milih custom. Misalnya kayak sofa, lemari. 

I learned it the hard way. Waktu itu saya pesen sofa 2 seater di pameran di Mall Ambassador. Murah emang, tapi jadinya kegedean dan enggak pas sama sekali. Setelah denial beberapa bulan, akhirnya sofa itu kami kasihin ke kerabat. 

Belajar dari situ, saya kapok beli furniture jadi. Apalagi saya pernah ngontrak di 2 apartemen sempit, keduanya punya kolom yang nongol. Jadi dindingnya enggak rata. Thus, ya harus custom.

3. Make Them Fit

Di post saya di bawah ini,


Saya cerita susahnya nyari kontraktor buat kitchen set. Alasannya adalah apartemen kami terlalu kecil. Saking kecilnya, ukuran-ukuran standar pun enggak masuk.

Saya ditolak beberapa vendor Kitchen Set karena saya mau lebar kabinet bawah itu 50 cm. Kenapa ditolak? Karena standarnya 60 cm. Di Ikea pun lebar kabinet bawah 60 cm. 

Saya ngotot ukuran 50 cm itu karena emang lebar dapur kami cuma segitu. Kalau dibikinin kitchen set dengan lebar 60, lha ya bakal nongol dan enggak pas di apartemen.


Lihat tembok sebelah pintu? Itu yang saya maksud lebar 50 cm. Kebayang kan kalo itu nongol 10 cm? Jadi nabrak pintu.


Ini versi close-up nya. Itu aja masih nongol dikit mejanya. Harusnya table top segaris sama backsplash. Tapi nanti sink-nya enggak muat. Ah dilema hidup di apartenen mini.


Padahal point nya custom kan biar pas. Alhamdulilah setelah nyari dan nyari, akhirnya ketemu vendor yang mau ngikutin mau kami. 

Sofa juga gitu, saya ditolak karena enggak ada yang mau ngikutin lekukan dinding. Lha, kan namanya custom yak? Mau dilekukin kayak apa, harusnya bisa. Apalagi ini cuma kolom nongol dikit, bukan yang sofa melingkar gitu. Alhamdulilah setelah nyari dengan sabar, ketemu vendor yang mau beneran custom sofanya.

Tahun depan saya mau custom lemari baju. Karena lemari baju yang sekarang itu beli dan, lagi-lagi, kedegean. Semoga enggak ada drama-drama ditolak lagi. Amin...

Pokoknya harus kekeuh cari kontraktor yang mau ngikutin ukuran ruangan apartemen. 


4. Kurangi Barang
Nah, ini saya sedikit ambil dari prinsipnya Marie Kondo atau dikenal juga sebagai Konmari. Nanti lengkapnya di bawah ya soal si Konmari ini. 

Bertentangan dengan prinsip Ikea yang maximizing storage, saya milih menggunakan metode Konmari, yaitu memilih hanya barang-barang yang saya sukai aja yang ada dalam rumah. Menurut saya, enggak usah dimaksimalin lah. Puyeng euy lihatnya. 

Jadi prinsip saya soal storage adalah:
- Semua barang harus kelihatan. 
Saya tahu ada beberapa orang yang rekomen untuk nyimpen tas dalam tas. Nyimpen barang di bawah tempat tidur atau dalam koper. 
Ini kabinet atas dapur. Sebenernya ada space lumayan dalem. Tapi saya pilih enggak maksain pakai tempat itu. Biarlah kosong, yang penting bumbu bisa diakses. And it looks pretty too...



This is a big no for me. 


Itu pontensi buat bikin barang itu jadi junk. Saya pernah coba, and guess what, enggak pernah ada yang inget kalau ada barang di situ. Jadi, instead of using that stuff, I ended up buying a new one. 

- Jangan full
Yang bagian ini, saya masih suka berantem sama Popo. Jadi saya belajar bahwa lebih enak kalau space itu enggak dipenuhin. 

Misalnya lemari baju, mending jangan full karena susah kan narik bajunya. Atau rak piring, jangan semua diisi, karena bakal susah kalau ngambil piringnya. Sisain space kosong sekitar 30 persen lah. Supaya enak diliat dan lebih gampang kalau mau diambil.

Menurut Popo, saya buang-buang space. Menurut saya, Popo terlalu maksain space.


Meja tv versi Popo

Meja tv versi saya.


Anywhoo, dengan tipikal storage kayak gitu. Saya punya jumlah maksimal barang-barang yang ada di dalam apartemen. Maksimal piring, maksimal gelas, maksimal baju, maksimal sepatu, tas, dll. 

Kalau saya belanja dan space nya mulai penuh, itu tanda saya harus ngebuang beberapa barang lama. 

Dan ternyata ngurangin barang itu susah saudara-saudara. 

Di bukunya Konmari menekankan bahwa kalau pake metodenya, maka kita cuma perlu bebersih 1x seumur hidup. Bukan bersih-bersih kayak nyapu gitu yah. Tapi bersih-bersih besar yang dilakuin setahun 2x gitu lho.

Tapi saya belum bisa tuh kayak Konmari. Mungkin karena saya dan Popo masih enggak sepaham. Tiap mau buang barang, kami selalu beda pendapat. 

Konmari pun udah memprediksi ini. Makannya dia nulis di buku The Life Changing Magic of Tidying Up, mulai lah dari baju, terus buku, baru momento-momento yang berharga.

Kasus saya problemnya di buku. Popo enggak mau buang/donasikan buku-bukunya. Padahal saya saksi hidup kalau itu buku enggak pernah dia sentuh. 




Akhirnya rak buku ini keluar juga dari apartemen minin+ buku-bukunya. Alhamdulilah enggak ada yang kebuang. Rak buku pindah tangan ke sahabat saya, dan buku nyebar ke beberapa teman-teman kami. 

Hidup di apartemen mini kayaknya akan mendorong saya buat mulai beli buku online trus dibaca di handphone atau nebeng baca di tablet-nya Popo ajah.


Ketakutan-ketakutan kayak, wah nanti kalau aku mau baca gimana? Kalau aku mau baca ulang gimana? Di situ lah Konmari minta buat megang buku itu, trus bener-bener pikirin “does this item spark joy?” 

Kalau iya, simpen. Kalau enggak, thank the book, then let it go to someone or someplace else. 

Teorinya sih gitu. Tapi Popo enggak bisa, secara dia enggak baca buku Konmari. 
-____-“



Ini beberapa hal yang sulit dibuang tapi akhirnya kami buang: atas, bungkus sim card yang kayaknya penting. Tapi yaudalah, povider or internet pasti punya infonya juga kan?

Bawah, pentunjuk penggunaan jam tangan saya dalam belasan bahasa, plus bungkusnya yang unyu. Kelengkapan barang yang dibutuhkan KALO barang itu mau dijual. Jam tangan saya basic and just a regular watch, kecil kemungkinannya dijual. Beda sama dus+printilan handpone yang pasti dijual. 



—

Well it’s a learning process. Menurut saya, kondisi apartemen kami sekarang udah jauh lebih baik dibanding apartemen kami waktu masih pengantin baru. Walaupun, masih banyak yang harus kami pelajari dan ubah to make this apartment as home.

Hidup di tempat sempit berarti ngubah gaya hidup ke minimalism, less stuff. Jangan malah ngulik bikin storage dan berharap apartemen bisa menampung semua barang kayak dulu waktu tinggal di rumah. 

Konmari nulis di bukunya, pernah enggak sih kalian ngerasa lengen bersih-bersih waktu lagi ada deadline? Kalau jawabannya pernah, well then you’re just like most people. 

Kebanyakan orang procrastination dengan bebersih. Menurut Konmari, ini karena rumah yang terlalu penuh itu kinda hide your problems. I might said it wrong, just read the book and you will be amazed. Hoalah, mung dengan resik-resik, uripku iso burbah ngene? 

Thursday, January 5, 2017

Tips Jalan-Jalan Ke Ancol Bawa Bayi


Okeh, Zedd emang udah setahun, tapi tetap saya kategorikan bayi lah ya.

Jadi ini nyambung postingan yang Tamaysa Ke Ancol Bawa Bayi. Saya and Popo ngelakuin beberapa hal dodol yang sebenarnya bisa dihindari. Tapi karena saya cuma ke Ocean Dream dan Pantai Festival, tips-nya ya akan sekitar ituh, enggak akan ada tips soal Dufan atau Sea World.


So, here's my tips.
1. Cek Groupon
Saya dapat diskon 50 persen tiket masuk Ocean Dream Samudra lewat Groupon. Berangkatnya hari Minggu, saya beli Groupon nya hari Sabtu. Baca terms and conditions-nya yah. Kadang enggak berlaku pas libur tertentu.


2. Enggak Usah Antre Di Gerbang Depan
Waktu nyampe depan Ocean Dream, antrian tiket udah lumayan panjang. Dari situ nanti jalan lagi sampai ketemu gerbang tinggi tempat petugas ngecek tiket kita.

Nah, ternyata dekat gerbang tinggi itu, ada tempat beli tiket yang jauh lebih sepi. Jadi, pas udah sampe sana, langsung aja jalan ke gerbang masuk. 

Oke, ini emang bukan gerbang tiketnya. Tapi cari aja gerbang tiket yang deket gerbang di belakang itu yah.


3. Antri Tornado Of Fish Setengah Jam Sebelumnya
Sebenarnya Ocean Dream udah ngepasin jadwal-jadwal pertunjukan. Jadi habis nonton A, bisa langsung nonton B. Masalahnya, saya lihat beberapa show itu lebih membludak pengunjungnya.

Termasuk si putri duyung yang namanya Tornado Of Fish. Pertunjukan pertamanya itu jam 12.30. Tapi khusus yang ini, mending udah antri dari jam 12 atau malah sekalian aja ada di antrian belakang. Tapi ada kemungkinan penuh dan harus nunggu show selanjutnya.

Soalnya kasian bayi-nya kalau ada di tengah antrian yang sumpek.


4. Manfaatkan Ruang Ibu Anak
Seperti saya tulis di postingan sebelumnya. Walaupun minim fasilitas, ruang ibu anaknya adem. Jadi kalau mau istirahat dan pastinya sambil ganti popok yah, Zedd bisa muter-muter kayak setrikaan sambil ngisis. 


5. Untuk Yang Nginep, Tanyakan Tiket Masuk Ancol
Ternyata untuk tamu hotel Discovery, bebas masuk Ancol. Saya baru tahu pas baca pamflet hotel waktu check out. Yup, the receptionist didn't even have the courtesy to inform me about this.

Waktu saya tanyakan, ternyata saya bisa gratis masuk Ancol (tiket orang+mobil), kalau memperlihatkan bukti fisik bookingan hotel, alias di print. 

Yang bikin tambah bete, prosedur itu HARUS dilakukan sebelum masuk. Jadi kalau saya udah check in, apalagi udah check out, itu uang enggak bisa diminta lagi. Itu informasi dari resepsionis hotel yang saya dapat yah.

Di Ancol ada beberapa hotel lain. Mendingan telpon in advance, terus tanya soal kemungkinan gratis masuk komplek Ancol. Biar enggak kayak saya.


6. Nginep
Kalau memungkinkan, lebih enak nginep di hotel-hotel dalam komplek Taman Impan Jaya Ancol. Soalnya banyak yang bisa dikunjungi dan waktunya enggak cukup seharian. Kalaupun dipaksain supaya cukup, kasian baby/balita nya, takut kecapekan.

Buat dapat harga lebih murah, selalu cari promo. Aplikasi seperti Traveloka, Pegipegi, dkk, selalu ada pilihan promo. Tinggal masukin kode, dapat deh potongan harga.


7. Datang Pagi
Emang sih, hari libur itu enggak enak kalau bangun pagi. Tapi kalau enggak, antrian bakal panjang. Keep in mind kalau bayi enggak akan nyaman antre desek-desekan.

--
Kayaknya itu aja tips dari saya. In the end, menurut saya Taman Impian Jaya Ancol ini cocok buat staycation warga Jakarta. Walaupun ya pasti ada kurangnya, but we had so much fun there.

Santai kayak di pantai...


Next pengen ke sana lagi buat explore sea world.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...