Sunday, May 10, 2020

Pengalaman Hidup sama ODP/PDP

Still a post about Corona virus atau Covid-19, cause it’s just a gonna be a new normal. So let’s normalize it by talking about it. 

Disclaimer: saya enggak berniat menyalahkan pihak manapun, although i have a feeling that i might look like it. Ini virus baru, semua pihak juga belajar soal ini. Jadi wajar ada loophole. Again, here I’m just telling my story,  my personal experience.

Awal Maret, Popo ada undangan training di sebuah hotel selama seminggu, dengan total peserta kurang lebih 200 orang. Popo nginep di hotel dan deket sama beberapa orang. Yakali seminggu deket sama 200 orang yakan. 

Salah satu orang yang cukup deket sama Popo adalah X. Usianya 2 tahun lebih muda (late 20s) dan sekamar sama Popo di hari pertama training. Yang bikin mereka deket, selain karena sekamar, karena mereka sama-sama suka desain grafis.

Hari kedua, panitia mulai ngubah susunan kamar dan Popo enggak lagi sekamar sama Mas X. Tapi tiap hari, mereka ada di ruang training yang sama, beda meja. 

I believe, at this point, you can already guess the ending. But let me continue the story. Hari terakhir training, karena Mas X beda kota sama Popo, mereka pun salaman perpisahan. Pertemuan selanjutnya mungkin entah kapan. Habis pamitan, Popo pulang ke apartemen, ketemu saya dan anak-anak. That was March 15.


Senin, 16 Maret 2020 (H+1)
Beberapa orang udah wfh (work from home), tapi kantor Popo belum. Feeling istri emang bener ya. Saya khawatir, apa bijak buat tetep ke kantor pas corona lagi hype gini? His answer, “lha aku kan enggak sakit. Mau ngomong apa sama bos?”

Di minggu-minggu ini, Popo masih wasapan sama Mas X, yang udah sampai di kota asalnya. Mereka ada project bareng soalnya. Semua normal, cuma Mas X ngerasa enggak enak badan, mungkin kecapekan. 


Selasa, 17 Maret 2020 (H+2)
Kantor Popo mulai wfh. Belum full, jadi dia kebagian masuk hari Selasa dan Kamis. Rutinitasnya kira-kira gitu sampai akhirnya full wfh minggu depannya.



Rabu, 25 Maret 2020 (H+11)
Grup wasap berisi peserta training tiba-tiba dikunci. Admin ngabarin bahwa ada beberapa peserta yang mungkin terkena covid. Beberapa japri dan mengira-ngira siapa yang kena. Ada Pak A yang lagi opname karena kelelahan juga, mungkin Pak A? Atau Pak B, yang juga lagi enggak enak badan?

Enggak ada test atau sejenisnya. Karena waktu itu, buat bisa dites enggak mudah. Wisma Atlet baru dibuka dan antre panjang. Apalagi peserta training ini dari berbagai kota. Ya gimana mau organisir tes? Apa ya admin/panitia suruh ngontak  banyak RS di berbagai kota?



Kamis, 26 Maret 2020 (H+12)
Kabar duka datang dari grup, Mas X meninggal karena covid-9. Popo langsung lemes, saya apalagi. Sungguh enggak ada yang mengira Mas X adalah orang yang dimaksud di grup, sehari sebelumnya. Dia umur 20an, baru menikah, dan masih wasapan sama Popo seminggu sebelumnya. 

Kami berusaha tenang, well saya sih, Popo langsung pake masker di rumah. WOY UDAH TELAT WOY!! Kan udah bareng dari lamaaa... kami juga bobo bareng anak-anak. 

Saya berusaha tenang. Googling, cari vitamin dan ubo rampe yang diminum pasien covid yang sembuh, thanks to Twitter. Telp 119 yang enggak berhasil nyambung selama 2 hari. Telpon Sipa buat precautious kalo Popo atau saya harus isolasi dan anak-anak enggak bisa ikut.

Sambil mikir, 2 hari lagi, 2 hari lagi, 2 hari lagi udah 14 hari setelah Popo kontak fisik terakhir sama almarhum X. Kami cuma harus sehat 2 hari lagi. 
Status: ODP (orang dalam pemantauan)


Jumat, 27 Maret 2020 (H+13)
Popo radang tenggorokan. Panik! Tanya Deli, spupu saya yang dokter, baca buku pedoman Kemenkes, Googling, tanya dokter yang disediakan pihak panitia training via wasap. It was crazy.

Kami takut ke RS karena banyak yang ditolak. Kami juga takut gimana kalo di sana malah jadi ketularan. Waktu itu belum kayak sekarang, banyak banget cerita menakutkan. Ditolak RS, APD enggak ada, di ruang isolasi enggak ada air atau makanan. Trus anak-anak kami gimana?

Akhirnya kami putuskan di rumah. Popo minum madu, vitamin C, sambil berharap Popo cuma serak karena tidur ngorok. Lha saya kawin sama dia 7 tahun. Ngorok itu tiap hari, tapi enggak pernah serak. Halahhh...

Popo selalu dipantau tim dokter dari penyelenggara training via wasap. Kenapa wasap, karena peserta dari berbagai kota. Dokter ini yang lalu ngasi status ODP dan PDP ke Popo.
Status: PDP (pasien dalam pemantauan)


Sabtu, 28 Maret 2020 (H+14)
Kami memutuskan datang ke dokter di klinik apartemen. Walaupun dokter ini dokter umum, tapi dia teliti dan kami sekeluarga cocok sama dia. Bahkan Zedd enggak pernah lagi ke dokter anak, karena pake obat dokter ini sudah sembuh.

Singkat cerita Popo kena infeksi bakteri dan harus dikasi antibiotik. Dokter enggak melihat ada tanda-tanda covid. 
Status: PDP (pasien dalam pemantauan)

——-
Singkat cerita, antibiotik itu ngefek dan Popo sembuh setelah 3-5 hari. ALHAMDULILAH. 
Status turun jadi ODP setelah Popo sembuh dan bener-bener selesai “dalam pemantauan” 14 hari setelah sembuh.

Lha status saya sebagai istri gimana? Jujur ku pun tak tahu. Technically saya dan anak-anak ODP juga. Tapi enggak ada yang declare, ya gimana donk? Apa saya masuk data ODP di website Covid? You tell me lah.


Collateral Damage
Pas tahu Popo kontak sama almarhum Mas X yang positif Covid, kami langsung ngasi kabar orang-orang yang kontak sama kami. Yup, Popo masih ngantor kan? Enggak cuma ngantor, dia juga meeting sama banyak orang. 

Alhamdulilah Popo kerja di kantor yang baik dan kekeluargaan. Semua langsung gercep tracing trus bantu ngurusin Popo dan kami, keluarganya. We are forever in debt sama kantor ini. 

I can’t spare you the detail for privacy reason, but we finally got tested for Rapid Test dan beberapa tes lain yang bukan swab, semua secara mandiri. 

Alhamdulilah 2x tes, hasilnya non-reaktif. 

Cuma di sini saya ngerasa ada loophole soal Covid. Karena waktu Popo tahu dia ODP, itu udah H+13. Selama 13 hari, dia udah meeting sama orang banyak, ketemu tante dan om kami, juga kontak sama penghuni-penghuni apartemen.

Trus gimana cara handle loophole nya? I honestly don’t know. Mungkin massive test? Mungkin langsung wfh di 15 Maret? I’m just happy we are alive and well.

And also, Al Fatihah to X. Hope you’re in a better place now.

Monday, April 13, 2020

Corona yang Bikin Bingung

This is gonna be a dark post.

Sungguh kukira masa-masa galau enggak bisa tidur sudah berakhir ketika udah lewat masa puber. Akhir-akhir ini jadi flash back zaman SMA, waktu enggak bisa tidur karena berantem sama Popo. 

Yup, I’m having insomnia again, after 15 years. Thanks to Corona.

Ini virus beneran bikin bingung LITERALLY EVERYBODY. Saya sampe capek liat semua kebingungan ini.

  • Mulai dari yang kecil ya, soal jam jemur. Awalnya jam 10 pagi, trus saya turun tuh buat jemur. Rame, banyak anak-anak juga pada jemur. Enggak lama ada lagi pendapat bahwa yang bagus itu jemur di jam 8-9. Beneran besokannya langsung sepi. Apparently everybody reads or watch social media nowadays.

  • Soal bilik antiseptik juga enggak kalah heboh. Semua heboh sediain bilik antiseptik. Pas biliknya udah banyak banget disediakan, sampai mall bawah apartemen nyediain. Eh, ternyata itu bilik bahaya buat orang-orang. Lah kenapa baru dibilangin malih? Itu beneran mall bawah baru sediain lho, besokannya enggak ada. 

  • Hari ini, 7 April 2020, tante kirim video yang menurut saya valid sumbernya, menteri agama ngomong kalau masyarakat boleh sholat taraweh. Malemnya buka twitter, ada berita online yang nulis soal edaran pemerintah kalau sholat taraweh di rumah aja dan tidak ada sholat ied. This happened in like hours. 
  • Update: kemaren go ride dan grab bike juga sempet ilang, sekarang udah ada lagi.

I am fully aware that all of this confusion is normal. Covid-19 ini baru, semua juga bingung. Toh semua perubahan-perubahan yang cepet banget itu juga demi keselamatan dan kesehatan semua. 

Walaupun demi kebaikan, this has been causing such emotional roller coaster for me. Bahkan tanpa hal-hal itu aja, udah naik turun emosi saya. 

Tanpa mengecilkan orang-orang lain yang beda status, jadi orang tua dari 2 anak balita di era covid ini is so F-ing crazy. Bukan karena harus 24 jam bareng atau homeschooling, tapi karena takut gimana kalau ada apa-apa sama kami, orangtua nya? Not too mention,  I’m not working. Buat yang mau nyalahin “salah sendiri resign?” Please don’t! I resigned cause we couldn’t afford childcare, not because I’m lazy.

Back to corona, semua pikiran negatif dan gelap itu selalu datang, tapi biasanya Zedd bakal teriak “Mami, aku sayang banget sama Mami!” Disusul Elle yang minta nenen. Saya pun harus balik ke mommy-mode, senyum dan kembali nemenin mereka main. They deserve life as normal as it can be right now. As for me, I can’t even process anything. 

Apalagi kalau liat mereka lagi main di taman atau jemur. Perasaan senang lihat mereka main langsung kecampur sama perasaan sedih pas liat tamannya kosong. Padahal biasanya banyak anak-anak. Berasa ada di post-apocalyptic film, which is very depressing for me. 

Zedd sendiri memroses ini pake caranya sendiri. But he definitely feels the tension. Celetukan kayak “kok mall-nya pada tutup sih? Kan masih ada matahari?” Yang kalau ditranslate maksudnya, kenapa mall sepi amat dan pada tutup toko-tokonya, padahal masih siang. 

Celetukan lain itu soal Eyang Uti dan Yang Kung yang enggak muncul-muncul, padahal biasanya 2-3 minggu datang ke Jakarta. “Eyang ke sini, dong. Nanti kan bisa cuci tangan biar enggak kena virus.” These just breaks my heart. 

Apa yang saya rasain ini mungkin hal yang enggak sensitif buat beberapa orang. Diantara banyaknya PHK, banyak yang susah makan, apa boleh saya yang sehat dan suami masih wfh ngeluh soal hal-hal di atas?

I have to be grateful for a lot of things but I’m very frustrated at the same time. 

This pandemic will go on for a long time, no matter how many people write “semoga wabah ini segera berakhir.” Yet it won’t. A lot, and I mean a lot of people will get this virus. The number is out there, many experts have many calculations and scenarios. 

I just wish we make it out alive. 
Bismillah, may Allah SWT protect us. 

Sunday, March 8, 2020

Jadi Ibu Minimalis

Bingung mau nulis apa saking udah lamanya enggak nulis. But I have this urge to write and, somehow, all the kids are sleeping right now. 

So I thought I share one thing that kinda makes me happy and, hopefully, be a better person. Yah, enggak one thing juga sih, tapi mirip-mirip gitu. Yaitu jadi Minimalist. 

Ini maksudnya bukan kayak rumah cluster minimalis yang jauh dari arti minimalis sebenernya ya. Bikin rumah kecil warna warni bukan berarti rumahnya minimalis, itu rumahnya mini aja. 

Minimalis ini lebih ke gaya hidup. Jujur kalo disuruh jelasin di sini soal sejarah dan penemu gitu, saya enggak capable. Bisa di gugel ajah. Saya sendiri kenal minimalism  atau minimalisme waktu kuliah arsitektur minimalisme ini. Arah minimalisme ini ke zen life yang calming dan efeknya ke bangunan, yang jadi bangunan yang minim ornamen atau perintilan, kadang termasuk warna. 

And then that’s it. Saya enggak tertarik lebih lanjut soal minimalism ini. 

Sampai beberapa tahun lalu saya nonton video Youtube nya Raditya Dika, gimana dia berubah jadi minimalis karena nonton Minimalism di Netflix. Pada saat yang bersamaan, saya tinggal di apartemen mini dan mulai overwhelmed. Waktu itu saya enggak tahu kalo saya overwhelmed sama barang-barang, saya cuma tau rasanya kepala penuh aja.

Videonya Radit bisa ditonton sendiri, tapi yang ngena banget di saya itu soal jam. Gimana awalnya dia suka koleksi jam-jam mahal, trus sejak kenal minimalism, jamnya dikurangin jadi 1 aja yang paling dia suka, plus beberapa jam yang dikasi orang-orang terdekatnya.

Enggak lama sebelum itu, saya baca Maria Kondo yang The Life Changing Method of Tidying Up. Simply karena penasaran, gimana ceritanya buku soal cara ngerapiin barang, bisa jadi New York Times Best Seller, trus diomongin di seluruh dunia. It is indeed life changing sih. Baca buku itu bikin saya ngeliat barang atau materi itu berbeda. 

Sebenernya si Konmari (Marie Kondo) ini enggak ngajarin minimalism. Dia lebih fokus ke seni rapiin barangnya. Tapi ada 1 point yang mirip sama minimalism, which is to surround yourself with things you actually love.

Daripada punya banyak baju sale yang mursida, mending punya beberapa baju yang kualitas bagus, staple, trus emang beneran cuci kering pake karena sesuka itu.

And then it hit me,
Konmari+Minimalism+Apartemen Mini=PERFECT MATCH.

Pelan-pelan saya mulai metode pertama Konmari, decluttering alias ngurangin barang. Di situ banyak berantem ama Popo, karena dia penganut Ikea, yang memanfaatkan semua sudut apartemen buat jadi storage. Sampe sekarang kami masih mencari happy medium. 

Baju-baju mulai berkurang, mainan anak-anak juga, and guess what, I feel happier and calmer. Mungkin karena pas masuk rumah, rasanya lega gitu, atau karena saya emang dikelilingi barang-barang yang sparks joy (baca Konmari and you’ll understand the “spark joy”).

Gimana soal anak-anak? Sejujurnya Zedd belum terlalu paham. Tapi ketika mainannya berkurang, dia bisa dibilang enggak ngeh sih. Pada akhirnya mungkin ngajarin minimalism ini ke anak bagus juga ya. So they learn to be happy with what they have.

Buat cara ngurangin barang, saya pake metode paling simple which is to limit the space. Saya punya lemari, ketika saya beli baju baru dan lemari penuh, ya bajunya dikurangin. Metode ini dipake ke seluruh storage. Ada mainan baru, ya mainan lama keluar. Ada piring baru, ya piring lama keluar. 


Beyond Minimalism, Living Enviromental Friendly.
Setelah mulai nyemplung ke minimalism dan spark joy-nya Konmari, saya mulai bersinggungan sama hal lain, kayak zero waste, less waste, capsule wardrobe atau project 333, dan gaya hidup cinta lingkungan lainnya. 

Zero waste= tidak menghasilkan sampah. Kalo saya tiap hari buang sampah 1-2 plastik, para zero waste enggak buang sampah. Sampahnya cuma 1 toples, itu juga bisa bertahun-tahun baru penuh

Project 333= sebuah movement dimana kita hanya punya 33 clothing items, udah include sepatu + aksesoris kayak topi anting dll.

Kalo mau disambungin mungkin gini ya:
Gaya hidup minimalism itu membuat kita mengurangi barang-barang yang kita enggak butuh, berarti less shopping, berarti ngurangin sampah yang beredar. Hal ini bikin minimalism bersinggungan sama gaya hidup ramah lingkungan. 

Makin sering terpapar sama video atau film yang kayak di atas, saya jujur makin terinspirasi. Saya sekarang mulai pakai snack bag buat beli snack dan pake tas belanja kalo beli groceries dan sayur. 

Buat baju saya masih ngumpulin koleksi staples saya. Enggak semudah kelihatannya, banyak trial and error, karena saya enggak familiar sama bahan dan potongan baju yang sesuai sama saya. But I’ll get there. Kalo cek IG @nadiasarasati mungkin kelihatan kalo baju saya itu-itu aja.

Bawa tumbler juga diusahakan, karena ngerasa bersalah kalo buang gelas/botol plastik. Tapi sejujurnya, saya mulai kerepotan karena harus bawa 3 tumbler, buat saya, Zedd, Elle. Jadi yaaaa kadang-kadang bawa 1-2 doank. 

Saya juga punya cita-cita buat composting dan bikin lubang biopori kalo one day udah tinggal di landed house. Enggak cuma ramah lingkungan, misahin sampah makanan kayak gini kan bikin rumah lebih bersih juga. Bismillah semoga tercapai ya Allah. 

Yang sulit dan enggak terlintas buat dilakukan itu soal popok dan pembalut. Saya enggak sanggup nyuci cloth diaper atau pembalut kain. Pakai menstrual cup (gelas plastik yang dimasukkin ke vagina buat nampung haid) juga serem. Huks, pake tampon aja saya sulit. Semoga ada solusi nantinya yang saya bisa coba terkait hal ini. 



Wednesday, January 1, 2020

Booster Seat vs High Chair

Positngan pertama tahun 2020. Dibuat lamaaa bangte, tapi baru sempet upload sekarang. Huks...

Kembali ke mini review barang-barang bayi, setelah sekian lama ya. Maklum, Elle baru MPASI nih.

Jadi, karena harga tiket pesawat mahal + ada kerabat yang mau nikah 1 bulan setelah lebaran, we thought, let’s stay in Jogja while Popo went back to Jakarta. Hemat, sekalian Eyang bisa quality time sama Elle. Kebetulan bulan Juni 2019 juga waktunya Elle MPASI. 

Mumpung di Jogja yang space nya gede, saya nyewa high chair. Eyang juga inisiatif ngeluarin booster seat bekas Zedd dari gudang. Akhirnya ada 2. Jadi saya bisa langsung bandingin. 

Yang dibandingin adalah Nuna Zaaz High Chair vs Ingenuity Booster Seat. Kalo mau baca review Ingenuity 2 tahun lalu, monggo ke sini. 


Why Nuna?
Buat saya Nuna itu brand asal luar yang oke. Produk-produknya unik dan desainnya elegan. Kalo pake produk Nuna, rumah kesannya sophisticated gitu. Contohnya Nuna Leaf yang dulu heits banget. Nah, Nuna Zaaz high chair juga kayak gitu. 

Selain desainnya yang beda dari high chair kebanyakan, alasan sewa ini, karena adanya ini. Enggak ada Pegperego, 4Mom, Beaba, atau Babybjorn. Merk-merk mahal yang bikin kepo gitu.

  • Desain
Udah dibahas di atas, desain Nuna tuh selalu lain dari yang lain. Begitu juga dengan si Nuna Zaaz. Usut punya usut, ternyata high chair ini didesain dari baby sampai dewasa. 

Yup, saya and Popo juga bisa pakai. Makannya pas saya angkat, berat ugak!

Walaupun bisa dipakai buat orang dewasa, saya kok ngerasa enggak perlu sampai segitunya ya?

Mungkin kesan pertamanya adalah “wah, irit, bisa buat anak kita sampe dia SMA.” But if you really think about it, itu Nuna Zaaz bakal ada diantara kursi-kursi makan?

Desain futuristik, tapi enggak masuk ke kursi klasik di rumah Eyang


Mungkin saya yang terlalu concern sama dekor, atau terlalu type A, yang mana semuanya harus sama.

Tapi misalnya Nuna Zaaz yang item nan futuristik ada diantara kursi-kursi coklat klasik gini, trus didudukin sama Zedd yang udah remaja, kan gak masuk akal juga ya?

Dibandingin sama desain Ingenuity, lucuan Si Nuna. Ingenuity Booster Seat ini kelihatan anak-anak banget, karena emang buat anak-anak sih, hahaha... kursi ini secara desain cuma dipakai sampai anak bisa pakai kursi makan biasa. 

Desain Ingenuity juga lebih simple dan ringan. Meja di bagian bawah. Gampang keluar masuk. Gampang juga dibawa-bawa. 

Lagi-lagi, karena saya termasuk emak-emak yang concern soal dekor rumah, agak gengges aja liatnya. Diantara kursi-kursi Ikea, nongol si Ingenuity. 

Kalau saya punya rumah luas dan bisa milih, saya milih Nuna Zaaz. Tapi saya cuma bakal pakai Zaaz sampai Zedd cukup besar buat pakai kursi makan standar. 

Kenyataannya, saya tinggal di apartemen mini. Nuna Zaaz jelas coret. Ingenuity wins!


  • Harga
Karena saya nyewa, jadi enggak bisa komen soal harga ya. Cek di market place sih, sekitar 2 juta. Emang kisaran Nuna segitu sih. 

Ingenuity saya juga bekas Zedd dari tahun 2016, jadi enggak bisa komen juga. Hwahahahaha... 

Dulu saya beli sekitar 600-700an. Cek di market place, sekarang masih segituan. 

Jadi dari segi harga, jelas Ingenuity menang lagi. Murah. 


  • Durability 
Nah, ini berhubungan sama harga. Ingenuity menang karena dengan harga segitu, barangnya awet. Warna enggak pudar, putihnya juga enggak berubah jadi kuning. Ada noda sedikit, tapi di foto ini hampir enggak keliatan.






On the other hand, Nuna ini malah keliatan lusuh. Padahal warnanya item. Mungkin karena ada faktor barang sewaan juga kali ya. Tapi setiap mau pakai itu highchair, saya selalu lap lagi. Berasa pakai highchair di mall deh. 






Di bagian kursi Nuna juga ada retak panjang, deket buckle bawah. Yah, tetep aja sih ini barang sewaan dan saya enggak tahu umur pastinya. Tapi dengan harga 2 jutaan, harusnya tetep awet enggak sih?


Retakannya gak jauh dari tangan saya. Deket buckel. 


Once again, surprisingly, Ingenuity wins karena lebih durable buat saya. 


  • Operational
Somehow saya enggak bisa memaksimalkan fungsinya Si Nuna Zaaz ini. Susah buat lepas meja dan lepas pembatas kakinya. Jadi kursi yang harusnya bisa dipakai juga sama Zedd, akhirnya ya cuma Elle yang pake. Mungkin karena saya sewa dan tempat nyewanya enggak ngajarin. Either way, susah.

On the other hand, Ingenuity lebih gampang. Ya memang saya udah pakai waktu Zedd mpasi. Tapi emang lebih simpel secara teknis juga. 

Again, Ingenuity menang buat saya 

—
Kesimpulannya, Ingenuity menang banyak dibanding Nuna. Walaupun Ingenuity booster seat ini enggak sekeren si Nuna Zaaz.

Kalo ada moral of the story dari cerita ini, as I grow older, prioritas berubah dari aesthetics ke functionality. Ibaratnya dulu masih mau pake high heels atau tas super kecil yang cuma muat hp doank, sekarang pakenya comfy shoes sama diaper bag yang durable namun tak secantik sling bag ala Korea. 

Same thing goes with baby chair. Kalo mau keren di foto sih, pake Nuna Zaaz. Cuma lebih function Ingenuity. 

Monday, December 16, 2019

5 Merk Baju Menyusui/Nursing Wear Favorit: Murah, Bagus, Modis


Waktu saya menyusui Zedd tahun 2015, brand baju menyusui yang saya tahu terbatas. Harga dan model juga enggak banyak pilihan. 

Semua berubah setelah saya punya anak kedua. Enggak jelas alesannya apa, tapi buat saya, ini hikmah berhijab sih.

Jadi setelah saya berhijab, saya nyari baju-baju panjang yang bisa buat menyusui. Dan di situlah saya menemukan, brand-brand baju menyusui yang murah dan modelnya lucuk-lucuk...

Ya Allah... ternyata selama ini mereka ngumpet di sana, di area baju-baju berhijab. Trus kenapa bisa baru ketemu?

Ternyata brand-brand ini enggak pakai #bajumenyusui dan di bio IG nya pun, enggak ada penjelasan bahwa ini menyediakan baju-baju busui. 

Tapi ada juga brand yang nulis “baju menyusui” di bio IG nya. Cuma emang enggak pake hestek. Jadi yang cari baju busui pake #bajumenyusui #nursingwear dan sejenisnya enggak akan nemu brand ini. Another reason is brand-brand ini IG nya private. I honestly don’t know why. Tapi di private aja yang beli udah berebut, gimana kalo enggak.

The good news is, modelnya yang lucu-lucu itu sebenernya bisa juga lho dipake buat yang non-hijab. Harganya juga murah-murah. Jauh sama brand baju menyusui yang udah terkenal. 

Tapi, karena IG nya banyak di-private, trus yang punya juga rata-rata celebgram berhijab, mungkin yang non-hijab juga jadi enggak masuk ke lingkaran ini. 

Janbu ini singkatan Jajanan Ibu-Ibu. Udah gitu doank bio-nya. Busui enggak akan tahu kalo ini jualan baju menyusui. Tapi kalo follow ownernya, @dinidjoemiko, bakal tahu kalo Janbu ini semua bajunya buat busui karena ada bukaan kanan kiri. 

Ini sisternya @alsjeblief and @soeiy. Tapi yang dua itu busui friendly yang resleting depan. Kalo Janbu ini bukaan kanan kiri. Bahannya kayak sejenis crepe kalo enggak salah. Agak panas, tapi enggak panas banget. Soalnya saya pernah pake yang lebih panas. Potongannya loose dan swing-swing cakep gitu.

Harga sekitar Rp 200k. Belinya berebut. 


Baju Janbu. Suka potongannya. Loose gitu. 



Zhafa ini punya nya selebgram berhijab @fairuzsakinah. Bio-nya “Your Fashion Hijab.” Lagi-lagi, enggak ada tanda-tanda buat busui. Apalagi hestek #jualbajubusuifriendly. 

Memang enggak semua produk Zhafa itu baju busui. Tapi kalo Zhafa ngeluarin produk busui, selalu dengan akses yang gampang gitu. Bisa bukaan kanan kiri. Bisa resleting di bagian payudara (PD) tapi ditutupin ruffle. Lucuk deh. 

Modelnya memang tangan panjang, tapi menurut saya kok bisa aja ya dipake non-hijab. Apalagi tunik-tuniknya. Beda dari yang lain. Banyak yang saya taksir, tapi lagi-lagi harus ditahan karena banyak kebutuhan lain.


Pake Homeydress Zhafa


Harga: Rp 100-200k.


Yang punya 2 olshop ini kakak beradik. Ciri-ciri baju dari 2 toko ini, all size. Jadi emang cenderung longgar, tapi somehow owner Iymelsayshijab (Ish), @iymel, ini bisa styling baju-baju itu dengan oke. Padahal Iymel ini kurus.

Baju Ish semua busui, kecuali beberapa koleksi yang kemeja dan pake kancing depan. Tapi lebih banyak yang bukaan kanan kiri. Buat bahannya, ada macem-macem. Yang saya pake di bawah ini agak panas sih. Bagian leher juga agak ketat. Jadi next mau beli koleksi ISH yang loose aja.

Baru-baru ini yang bikin naksir itu, Ish ngeluarin baju busui plisket. Nah, di mana lagi coba, nyari tunik plisket ala Bangkok, tapi busui? Itu yang bikin salut sama Ish. Kalo ada baju yang lagi hits, dia bikin versi busuinya.

Selain tunik plisket, pernah juga Ish ngeluarin overall busui. ðŸ˜­ðŸ˜­ðŸ˜­

Sayang saya pas belum ada rejeki, jadi skip 2 baju itu. Tapi kebayang-bayang sih sampai sekarang. 


Dress buat lebaran tahun lalu dari ISH


Harga Rp 100-200k

Anak kampus kayaknya pada suka brand ini. Cabangnya juga dimana mana. Koleksi Mayoutfit ini murah-murah dan modis. Kayaknya emang target pasarnya anak kuliahan. Di Jogja, toko nya di Seturan, area kampus gitu.

Karena buat anak kuliah, emang koleksi busuinya enggak banyak. Tapi ada satu yang saya suka (harganya) yaitu koleksi homeydressnya yang banyak banget. Tiap minggu ada pattern baru dan busui bukaan kanan kiri. 

Harga homeydress termurah yang saya temuin: Rp 109k.

What’s the catch? 
Well, karena harga murah, pasti ada minusnya dong. Homeydress ini bahannya rayon dan nyusutnya lumayan kalo habis dicuci. Ada saku tapi enggak dalem, jadi hp saya suka jatuh dari saku. 

Tapi bahannya enggak nerawang. Saya punya paling banyak baju busui ya homeydress Mayoutfit. Soalnya murce dan cuaca Jakarta panas buanget. Enak pake dress rayon gini. Bodo amat deh dikira bajunya itu-itu doank




Nah, kalo yang ini saya jujur belum pernah coba. Beda sama 4 brand di atas yang pernah beli. Tapi dari belinya yang berebut, I’m pretty sure it’s good. 

Mirip sama brand-brand sebelumnya, Callanda ini juga enggak menunjukkan keterangan kalo dia menjual baju menyusui. Memang enggak semua koleksinya busui. Tapi banyak juga yang bukaan kanan kiri. 

Sayangnya beli ini pake web. Nah, saya suka males tuh beli pake web, karena harus registrasi dll. Enakan pake wa/line gitu. Ringkes.

Harga Rp 100-200k

—
Masih ada beberapa brand baru busui yang bermunculan. Kayak @wimi.id, @jehan.indonesia, @arunaya_id. Coba follow beberapa brand di artikel ini, biasanya algoritma IG akan mempertemukan kita dengan brand-brand sejenis.

Buat harga, semua berkisar Rp 100-200k karena saya mampunya segitu. Hehehe...

Happy shopping and breastfeeding!!!!

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...