Sunday, March 8, 2020

Jadi Ibu Minimalis

Bingung mau nulis apa saking udah lamanya enggak nulis. But I have this urge to write and, somehow, all the kids are sleeping right now. 

So I thought I share one thing that kinda makes me happy and, hopefully, be a better person. Yah, enggak one thing juga sih, tapi mirip-mirip gitu. Yaitu jadi Minimalist. 

Ini maksudnya bukan kayak rumah cluster minimalis yang jauh dari arti minimalis sebenernya ya. Bikin rumah kecil warna warni bukan berarti rumahnya minimalis, itu rumahnya mini aja. 

Minimalis ini lebih ke gaya hidup. Jujur kalo disuruh jelasin di sini soal sejarah dan penemu gitu, saya enggak capable. Bisa di gugel ajah. Saya sendiri kenal minimalism  atau minimalisme waktu kuliah arsitektur minimalisme ini. Arah minimalisme ini ke zen life yang calming dan efeknya ke bangunan, yang jadi bangunan yang minim ornamen atau perintilan, kadang termasuk warna. 

And then that’s it. Saya enggak tertarik lebih lanjut soal minimalism ini. 

Sampai beberapa tahun lalu saya nonton video Youtube nya Raditya Dika, gimana dia berubah jadi minimalis karena nonton Minimalism di Netflix. Pada saat yang bersamaan, saya tinggal di apartemen mini dan mulai overwhelmed. Waktu itu saya enggak tahu kalo saya overwhelmed sama barang-barang, saya cuma tau rasanya kepala penuh aja.

Videonya Radit bisa ditonton sendiri, tapi yang ngena banget di saya itu soal jam. Gimana awalnya dia suka koleksi jam-jam mahal, trus sejak kenal minimalism, jamnya dikurangin jadi 1 aja yang paling dia suka, plus beberapa jam yang dikasi orang-orang terdekatnya.

Enggak lama sebelum itu, saya baca Maria Kondo yang The Life Changing Method of Tidying Up. Simply karena penasaran, gimana ceritanya buku soal cara ngerapiin barang, bisa jadi New York Times Best Seller, trus diomongin di seluruh dunia. It is indeed life changing sih. Baca buku itu bikin saya ngeliat barang atau materi itu berbeda. 

Sebenernya si Konmari (Marie Kondo) ini enggak ngajarin minimalism. Dia lebih fokus ke seni rapiin barangnya. Tapi ada 1 point yang mirip sama minimalism, which is to surround yourself with things you actually love.

Daripada punya banyak baju sale yang mursida, mending punya beberapa baju yang kualitas bagus, staple, trus emang beneran cuci kering pake karena sesuka itu.

And then it hit me,
Konmari+Minimalism+Apartemen Mini=PERFECT MATCH.

Pelan-pelan saya mulai metode pertama Konmari, decluttering alias ngurangin barang. Di situ banyak berantem ama Popo, karena dia penganut Ikea, yang memanfaatkan semua sudut apartemen buat jadi storage. Sampe sekarang kami masih mencari happy medium. 

Baju-baju mulai berkurang, mainan anak-anak juga, and guess what, I feel happier and calmer. Mungkin karena pas masuk rumah, rasanya lega gitu, atau karena saya emang dikelilingi barang-barang yang sparks joy (baca Konmari and you’ll understand the “spark joy”).

Gimana soal anak-anak? Sejujurnya Zedd belum terlalu paham. Tapi ketika mainannya berkurang, dia bisa dibilang enggak ngeh sih. Pada akhirnya mungkin ngajarin minimalism ini ke anak bagus juga ya. So they learn to be happy with what they have.

Buat cara ngurangin barang, saya pake metode paling simple which is to limit the space. Saya punya lemari, ketika saya beli baju baru dan lemari penuh, ya bajunya dikurangin. Metode ini dipake ke seluruh storage. Ada mainan baru, ya mainan lama keluar. Ada piring baru, ya piring lama keluar. 


Beyond Minimalism, Living Enviromental Friendly.
Setelah mulai nyemplung ke minimalism dan spark joy-nya Konmari, saya mulai bersinggungan sama hal lain, kayak zero waste, less waste, capsule wardrobe atau project 333, dan gaya hidup cinta lingkungan lainnya. 

Zero waste= tidak menghasilkan sampah. Kalo saya tiap hari buang sampah 1-2 plastik, para zero waste enggak buang sampah. Sampahnya cuma 1 toples, itu juga bisa bertahun-tahun baru penuh

Project 333= sebuah movement dimana kita hanya punya 33 clothing items, udah include sepatu + aksesoris kayak topi anting dll.

Kalo mau disambungin mungkin gini ya:
Gaya hidup minimalism itu membuat kita mengurangi barang-barang yang kita enggak butuh, berarti less shopping, berarti ngurangin sampah yang beredar. Hal ini bikin minimalism bersinggungan sama gaya hidup ramah lingkungan. 

Makin sering terpapar sama video atau film yang kayak di atas, saya jujur makin terinspirasi. Saya sekarang mulai pakai snack bag buat beli snack dan pake tas belanja kalo beli groceries dan sayur. 

Buat baju saya masih ngumpulin koleksi staples saya. Enggak semudah kelihatannya, banyak trial and error, karena saya enggak familiar sama bahan dan potongan baju yang sesuai sama saya. But I’ll get there. Kalo cek IG @nadiasarasati mungkin kelihatan kalo baju saya itu-itu aja.

Bawa tumbler juga diusahakan, karena ngerasa bersalah kalo buang gelas/botol plastik. Tapi sejujurnya, saya mulai kerepotan karena harus bawa 3 tumbler, buat saya, Zedd, Elle. Jadi yaaaa kadang-kadang bawa 1-2 doank. 

Saya juga punya cita-cita buat composting dan bikin lubang biopori kalo one day udah tinggal di landed house. Enggak cuma ramah lingkungan, misahin sampah makanan kayak gini kan bikin rumah lebih bersih juga. Bismillah semoga tercapai ya Allah. 

Yang sulit dan enggak terlintas buat dilakukan itu soal popok dan pembalut. Saya enggak sanggup nyuci cloth diaper atau pembalut kain. Pakai menstrual cup (gelas plastik yang dimasukkin ke vagina buat nampung haid) juga serem. Huks, pake tampon aja saya sulit. Semoga ada solusi nantinya yang saya bisa coba terkait hal ini. 



Wednesday, January 1, 2020

Booster Seat vs High Chair

Positngan pertama tahun 2020. Dibuat lamaaa bangte, tapi baru sempet upload sekarang. Huks...

Kembali ke mini review barang-barang bayi, setelah sekian lama ya. Maklum, Elle baru MPASI nih.

Jadi, karena harga tiket pesawat mahal + ada kerabat yang mau nikah 1 bulan setelah lebaran, we thought, let’s stay in Jogja while Popo went back to Jakarta. Hemat, sekalian Eyang bisa quality time sama Elle. Kebetulan bulan Juni 2019 juga waktunya Elle MPASI. 

Mumpung di Jogja yang space nya gede, saya nyewa high chair. Eyang juga inisiatif ngeluarin booster seat bekas Zedd dari gudang. Akhirnya ada 2. Jadi saya bisa langsung bandingin. 

Yang dibandingin adalah Nuna Zaaz High Chair vs Ingenuity Booster Seat. Kalo mau baca review Ingenuity 2 tahun lalu, monggo ke sini. 


Why Nuna?
Buat saya Nuna itu brand asal luar yang oke. Produk-produknya unik dan desainnya elegan. Kalo pake produk Nuna, rumah kesannya sophisticated gitu. Contohnya Nuna Leaf yang dulu heits banget. Nah, Nuna Zaaz high chair juga kayak gitu. 

Selain desainnya yang beda dari high chair kebanyakan, alasan sewa ini, karena adanya ini. Enggak ada Pegperego, 4Mom, Beaba, atau Babybjorn. Merk-merk mahal yang bikin kepo gitu.

  • Desain
Udah dibahas di atas, desain Nuna tuh selalu lain dari yang lain. Begitu juga dengan si Nuna Zaaz. Usut punya usut, ternyata high chair ini didesain dari baby sampai dewasa. 

Yup, saya and Popo juga bisa pakai. Makannya pas saya angkat, berat ugak!

Walaupun bisa dipakai buat orang dewasa, saya kok ngerasa enggak perlu sampai segitunya ya?

Mungkin kesan pertamanya adalah “wah, irit, bisa buat anak kita sampe dia SMA.” But if you really think about it, itu Nuna Zaaz bakal ada diantara kursi-kursi makan?

Desain futuristik, tapi enggak masuk ke kursi klasik di rumah Eyang


Mungkin saya yang terlalu concern sama dekor, atau terlalu type A, yang mana semuanya harus sama.

Tapi misalnya Nuna Zaaz yang item nan futuristik ada diantara kursi-kursi coklat klasik gini, trus didudukin sama Zedd yang udah remaja, kan gak masuk akal juga ya?

Dibandingin sama desain Ingenuity, lucuan Si Nuna. Ingenuity Booster Seat ini kelihatan anak-anak banget, karena emang buat anak-anak sih, hahaha... kursi ini secara desain cuma dipakai sampai anak bisa pakai kursi makan biasa. 

Desain Ingenuity juga lebih simple dan ringan. Meja di bagian bawah. Gampang keluar masuk. Gampang juga dibawa-bawa. 

Lagi-lagi, karena saya termasuk emak-emak yang concern soal dekor rumah, agak gengges aja liatnya. Diantara kursi-kursi Ikea, nongol si Ingenuity. 

Kalau saya punya rumah luas dan bisa milih, saya milih Nuna Zaaz. Tapi saya cuma bakal pakai Zaaz sampai Zedd cukup besar buat pakai kursi makan standar. 

Kenyataannya, saya tinggal di apartemen mini. Nuna Zaaz jelas coret. Ingenuity wins!


  • Harga
Karena saya nyewa, jadi enggak bisa komen soal harga ya. Cek di market place sih, sekitar 2 juta. Emang kisaran Nuna segitu sih. 

Ingenuity saya juga bekas Zedd dari tahun 2016, jadi enggak bisa komen juga. Hwahahahaha... 

Dulu saya beli sekitar 600-700an. Cek di market place, sekarang masih segituan. 

Jadi dari segi harga, jelas Ingenuity menang lagi. Murah. 


  • Durability 
Nah, ini berhubungan sama harga. Ingenuity menang karena dengan harga segitu, barangnya awet. Warna enggak pudar, putihnya juga enggak berubah jadi kuning. Ada noda sedikit, tapi di foto ini hampir enggak keliatan.






On the other hand, Nuna ini malah keliatan lusuh. Padahal warnanya item. Mungkin karena ada faktor barang sewaan juga kali ya. Tapi setiap mau pakai itu highchair, saya selalu lap lagi. Berasa pakai highchair di mall deh. 






Di bagian kursi Nuna juga ada retak panjang, deket buckle bawah. Yah, tetep aja sih ini barang sewaan dan saya enggak tahu umur pastinya. Tapi dengan harga 2 jutaan, harusnya tetep awet enggak sih?


Retakannya gak jauh dari tangan saya. Deket buckel. 


Once again, surprisingly, Ingenuity wins karena lebih durable buat saya. 


  • Operational
Somehow saya enggak bisa memaksimalkan fungsinya Si Nuna Zaaz ini. Susah buat lepas meja dan lepas pembatas kakinya. Jadi kursi yang harusnya bisa dipakai juga sama Zedd, akhirnya ya cuma Elle yang pake. Mungkin karena saya sewa dan tempat nyewanya enggak ngajarin. Either way, susah.

On the other hand, Ingenuity lebih gampang. Ya memang saya udah pakai waktu Zedd mpasi. Tapi emang lebih simpel secara teknis juga. 

Again, Ingenuity menang buat saya 

—
Kesimpulannya, Ingenuity menang banyak dibanding Nuna. Walaupun Ingenuity booster seat ini enggak sekeren si Nuna Zaaz.

Kalo ada moral of the story dari cerita ini, as I grow older, prioritas berubah dari aesthetics ke functionality. Ibaratnya dulu masih mau pake high heels atau tas super kecil yang cuma muat hp doank, sekarang pakenya comfy shoes sama diaper bag yang durable namun tak secantik sling bag ala Korea. 

Same thing goes with baby chair. Kalo mau keren di foto sih, pake Nuna Zaaz. Cuma lebih function Ingenuity. 

Monday, December 16, 2019

5 Merk Baju Menyusui/Nursing Wear Favorit: Murah, Bagus, Modis


Waktu saya menyusui Zedd tahun 2015, brand baju menyusui yang saya tahu terbatas. Harga dan model juga enggak banyak pilihan. 

Semua berubah setelah saya punya anak kedua. Enggak jelas alesannya apa, tapi buat saya, ini hikmah berhijab sih.

Jadi setelah saya berhijab, saya nyari baju-baju panjang yang bisa buat menyusui. Dan di situlah saya menemukan, brand-brand baju menyusui yang murah dan modelnya lucuk-lucuk...

Ya Allah... ternyata selama ini mereka ngumpet di sana, di area baju-baju berhijab. Trus kenapa bisa baru ketemu?

Ternyata brand-brand ini enggak pakai #bajumenyusui dan di bio IG nya pun, enggak ada penjelasan bahwa ini menyediakan baju-baju busui. 

Tapi ada juga brand yang nulis “baju menyusui” di bio IG nya. Cuma emang enggak pake hestek. Jadi yang cari baju busui pake #bajumenyusui #nursingwear dan sejenisnya enggak akan nemu brand ini. Another reason is brand-brand ini IG nya private. I honestly don’t know why. Tapi di private aja yang beli udah berebut, gimana kalo enggak.

The good news is, modelnya yang lucu-lucu itu sebenernya bisa juga lho dipake buat yang non-hijab. Harganya juga murah-murah. Jauh sama brand baju menyusui yang udah terkenal. 

Tapi, karena IG nya banyak di-private, trus yang punya juga rata-rata celebgram berhijab, mungkin yang non-hijab juga jadi enggak masuk ke lingkaran ini. 

Janbu ini singkatan Jajanan Ibu-Ibu. Udah gitu doank bio-nya. Busui enggak akan tahu kalo ini jualan baju menyusui. Tapi kalo follow ownernya, @dinidjoemiko, bakal tahu kalo Janbu ini semua bajunya buat busui karena ada bukaan kanan kiri. 

Ini sisternya @alsjeblief and @soeiy. Tapi yang dua itu busui friendly yang resleting depan. Kalo Janbu ini bukaan kanan kiri. Bahannya kayak sejenis crepe kalo enggak salah. Agak panas, tapi enggak panas banget. Soalnya saya pernah pake yang lebih panas. Potongannya loose dan swing-swing cakep gitu.

Harga sekitar Rp 200k. Belinya berebut. 


Baju Janbu. Suka potongannya. Loose gitu. 



Zhafa ini punya nya selebgram berhijab @fairuzsakinah. Bio-nya “Your Fashion Hijab.” Lagi-lagi, enggak ada tanda-tanda buat busui. Apalagi hestek #jualbajubusuifriendly. 

Memang enggak semua produk Zhafa itu baju busui. Tapi kalo Zhafa ngeluarin produk busui, selalu dengan akses yang gampang gitu. Bisa bukaan kanan kiri. Bisa resleting di bagian payudara (PD) tapi ditutupin ruffle. Lucuk deh. 

Modelnya memang tangan panjang, tapi menurut saya kok bisa aja ya dipake non-hijab. Apalagi tunik-tuniknya. Beda dari yang lain. Banyak yang saya taksir, tapi lagi-lagi harus ditahan karena banyak kebutuhan lain.


Pake Homeydress Zhafa


Harga: Rp 100-200k.


Yang punya 2 olshop ini kakak beradik. Ciri-ciri baju dari 2 toko ini, all size. Jadi emang cenderung longgar, tapi somehow owner Iymelsayshijab (Ish), @iymel, ini bisa styling baju-baju itu dengan oke. Padahal Iymel ini kurus.

Baju Ish semua busui, kecuali beberapa koleksi yang kemeja dan pake kancing depan. Tapi lebih banyak yang bukaan kanan kiri. Buat bahannya, ada macem-macem. Yang saya pake di bawah ini agak panas sih. Bagian leher juga agak ketat. Jadi next mau beli koleksi ISH yang loose aja.

Baru-baru ini yang bikin naksir itu, Ish ngeluarin baju busui plisket. Nah, di mana lagi coba, nyari tunik plisket ala Bangkok, tapi busui? Itu yang bikin salut sama Ish. Kalo ada baju yang lagi hits, dia bikin versi busuinya.

Selain tunik plisket, pernah juga Ish ngeluarin overall busui. ðŸ˜­ðŸ˜­ðŸ˜­

Sayang saya pas belum ada rejeki, jadi skip 2 baju itu. Tapi kebayang-bayang sih sampai sekarang. 


Dress buat lebaran tahun lalu dari ISH


Harga Rp 100-200k

Anak kampus kayaknya pada suka brand ini. Cabangnya juga dimana mana. Koleksi Mayoutfit ini murah-murah dan modis. Kayaknya emang target pasarnya anak kuliahan. Di Jogja, toko nya di Seturan, area kampus gitu.

Karena buat anak kuliah, emang koleksi busuinya enggak banyak. Tapi ada satu yang saya suka (harganya) yaitu koleksi homeydressnya yang banyak banget. Tiap minggu ada pattern baru dan busui bukaan kanan kiri. 

Harga homeydress termurah yang saya temuin: Rp 109k.

What’s the catch? 
Well, karena harga murah, pasti ada minusnya dong. Homeydress ini bahannya rayon dan nyusutnya lumayan kalo habis dicuci. Ada saku tapi enggak dalem, jadi hp saya suka jatuh dari saku. 

Tapi bahannya enggak nerawang. Saya punya paling banyak baju busui ya homeydress Mayoutfit. Soalnya murce dan cuaca Jakarta panas buanget. Enak pake dress rayon gini. Bodo amat deh dikira bajunya itu-itu doank




Nah, kalo yang ini saya jujur belum pernah coba. Beda sama 4 brand di atas yang pernah beli. Tapi dari belinya yang berebut, I’m pretty sure it’s good. 

Mirip sama brand-brand sebelumnya, Callanda ini juga enggak menunjukkan keterangan kalo dia menjual baju menyusui. Memang enggak semua koleksinya busui. Tapi banyak juga yang bukaan kanan kiri. 

Sayangnya beli ini pake web. Nah, saya suka males tuh beli pake web, karena harus registrasi dll. Enakan pake wa/line gitu. Ringkes.

Harga Rp 100-200k

—
Masih ada beberapa brand baru busui yang bermunculan. Kayak @wimi.id, @jehan.indonesia, @arunaya_id. Coba follow beberapa brand di artikel ini, biasanya algoritma IG akan mempertemukan kita dengan brand-brand sejenis.

Buat harga, semua berkisar Rp 100-200k karena saya mampunya segitu. Hehehe...

Happy shopping and breastfeeding!!!!

Tuesday, November 26, 2019

Review Learning Time Indonesia , Langganan Mainan Anak

Iyesh, sesuai judul. Sungguh anak generasi alpha (born after 2010) ini beruntung, karena zaman mereka ada langganan mainan. Kami para millenial hanya bisa langganan Bobo, Nak!

Okay, technically mungkin bukan langganan mainan. Tapi materi edukasi anak yang bentuknya interaktif, atau buat saya ya mainan edukatif, ya mainan juga. Hehehe... maapkan pola pikir saya yang terlalu simple.



Sebenernya saya udah tertarik sama langganan mainan anak ini dari zaman Zedd bayi. Tapi waktu itu kami belum mampu dan belum ngerasa harus langganan mainan. Maklum, Zedd kan cucu pertama, mainan banyak disuplai eyang-eyangnya. Popo jadi ngerasa mending uangnya buat bayar kontrakan aja. 

Fast forward 3 tahunan kemudian, saya udah punya 2 anak dan ternyata masih pengen langganan mainan, thanks to Instagram Ad yang setia mengingatkan saya soal ini (aslik ini IG Ad emang ratjun). Karena udah ditahan 3 tahun dan saya masih pengen, Popo akirnya nyerah dan ngizinin saya buat langganan. Alhamdulilah rejekinya juga sudah lebih baik.

Setelah dapat lampu ijo, langsung lah saya cuss riset-riset soal toy subscription ini dan ketemu sama Learning Time Indonesia (LT). Trus semuanya kayak udah jodoh gitu, banyak “ndelalah” (bahasa Jawa: kebetulan) nya.

  • Ndelalah Learning Time ini ngundang saya buat FGD terkait launching produk terbaru mereka “The Story” yang launching hari ini alias 27 November 2019.
  • Ndelalah The Story ini pas banget sama Zedd yang usianya 4 tahun. 
  • Ndelalah mereka ada promo 11.11 buy one get one (tim #cuan). Jadi saya langganan 3 bulan, gratis 3 bulan. Kalo ada dana lebih, pengen langganan 1 tahun, biar free 1 tahun. Hahaha...
  • Ndelalah saya cocok sama produk LT. Paling enggak dari IG nya, udah keliatan mainannya selera anak-anak guwe nih.

Apa Itu Learning Time?
Oke, kita kenalan dulu sama LT. Bahasa gampang saya, LT ini langganan materi edukasi anak yang dirancang sama ahli early childhood education. Jadi tiap bulan LT akan ngirim box yang isinya mainan edukasi, buku, activity sheets, all that jazz. Semua disesuaikan umur anak dan dibikin sama ahlinya. 






Selain berbagai barang itu, LT juga menyediakan video panduan tentang cara mainnya + eksplorasi lebih jauh dari mainan-mainan itu. Sungguh cocok buat ibu yang enggak kreatif dan enggak imajinatif kaya saya. Cause let’s be honest, saya bukan tipe orang yang bisa DIY atau rajin bikin mainan edukasi Montessori gitu. Waltu kuliah, bikin maket aja belepotan. 

LT asalnya dari Hongkong, jadi mainan-mainan ini dikirim dari Hongkong. No wonder kualitasnya mainannya bagus-bagus. Tipe yang susah rusak.


Detail mainannya. High quality menurut saya. 

Icon surat yang Zedd enggak paham.



Ini penjelasan simple ala saya. For more information, cek website https://www.learningtime-id.com. Penjelasannya lebih jelas.


“The Story”
LT mulai programnya di usia 4 bulan sampe 6 tahun. Jadi dari anak umur 4 bulan, udah bisa langganan gitu. Programnya dibagi 2:

  • First Step, progam buat anak 4 bulan - 30 bulan (2.5 tahun). Program ini udah launching beberapa bulan lalu.
  • The Story, lanjutan First Step buat anak 2.5 tahun - 6 tahun.

Bedanya apa? Beda umur ya beda tujuan. First Step tujuannya stimulasi 4 area perkembangan anak (kognitif, fisik, bahasa, kemampuan sosial). Kalo The Story lebih ke persiapan masuk sekolah dan belajar lewat storytelling.


The FGD
Alhamdulilah saya dikasi kesempatan buat datang FGD bareng 3 blogger lain, Mbak Grace, Mbak Anita, dan Mbak April. Sebelumnya saya udah izin buat bawa Zedd and Elle. Lha mereka enggak ada yang jagain. Pas masuk ruangan, isinya produk-produk LT yang gemeeeees banget. Enggak cuma dari The Story, tapi dari First Step.




Karena ada Zedd dan Elle, langsung keliatan dong betapa tertariknya mereka. Duuuhh... jadi agak nyesel langganan 3 bulan gratis 3 bulan, mending langganan 6 bulan sekalian. Beneran sepanjang FGD yang sekitar 2 jam itu, Zedd enggak rungsing, enggak minta pulang, enggak minta gadget. Anteng sama bejibun mainan itu, yang puzzle, yang buku. 


Zedd di balik pohon.



Anak-anak anteng.


Salah satu tujuan LT memang meningkatkan bonding dan no gadget. Video panduan pun dibuat untuk orang tuanya (atau yang ngasuh).


FGD with Learning Time Indonesia 



Review The Story
Habis FGD yang seru dan dapet box pertama Zedd, I was super excited to try it. Semalem sebelumnya, saya nonton video panduan lewat link yang dikasi via email setelah saya daftar. 

Ternyata, monmaap, saya cuma kuat nonton beberapa, karena buat 1 box LT, videonya banyak. Memang dari 1 box aja, ada 3 “concept,” tiap konsep ada 2-3 activities. 


5 dari seratus activities, buat main sebulan? Bisa banget.


Akirnya di video ke-5 saya berhenti. Rencananya saya bakal nonton lagi dalam bulan ini. Saya mikirnya ini kan box bulanan. Berarti activities ini bisa dicicil. Hahahaha....

Videonya oke, selain cara main, mas mbak bule di video juga memperkenalkan diri dan background. Small details that I appreciate, karena saya kepo-an, pengen tahu yang dibilang expert ini kayak apa. Hehehe...


Instructor menjelaskan background dan pengalaman mereka di early childhood education.


Besoknya saya dan Zedd semangat buka box LT pertamanya. Tema yang Zedd dapet community helper. Sungguh lucuk! Tema ini disesuaikan sama usia. Yang menyesuaikan siapa? Pihak LT lewat sistem di web mereka. 



Kami dapet 2 mainan, 1 buku, 1 activity sheet. Zedd suka banget sama puzzle community helpernya. Buat mainan neighborhood nya, Mami masih harus nonton video-nya lagi. Tapi 1.5 jam waktu kami abis buat mainan ini. Enggak bosen-bosen dia. Alhamdulilah Elle si adek lagi bobo, jadi saya beneran berasa quality time sama Zedd. 


Puzzle community helper. Kayak boneka kertas, tapi bahannya bagus.

Next bakal nonton video-videonya lagi, trus siapin materi DIY, yang udah ada juga di videonya. Udah kayak ngikutin resep masakan, cuma ini DIY bareng anak.

—
Sejauh ini puas banget pake LT. Pertama pastinya karena anak-anak suka. That’s like the most important things. 

Kedua karena ini didesain sama expert, jadi lega gitu. Berasa mainnya bermanfaat. Kalo saya kasih mainan biasa atau jatah nonton Nussa di Youtube, Zedd juga bahagia sih. Tapiiiii... kan bikin nagih gadget and video itu. Kalo ini, dia bahagia dan belajar.

Ketiga, saya bukan tipe ibu yang kreatif. Udah coba lirik internet, follow mom influencer buat berusaha jadi teman main anak yang lebih baik, tapi saya malah bingung. Not to mention, saya ngurusin rumah+2 anak tanpa mbak dan nanny. LT ini cocok buat ibu lempeng nan sibuk kaya saya yang pengen ngajarin anak macem-macem. Tinggal buka box sama video, dapet deh inspirasinya. 

Kalo ada masukkan, paling enggak buat yang box community helper ini, lebih update di bagian profesi. Saya sempat kesulitan ngajarin Zedd soal pak pos dan surat. Zedd ternyata enggak tahu bentuk surat kayak apa. Hahahaha.... saking enggak pernah dapet surat juga kali ya?

Last but not least, mainannya ini kepake lama. Di FGD ada banyak mainan First Step yang buat anak usia 4 bulan - 2.5 tahun, dan Zedd suka, walaupun udah lewat umur mainnya. In my situation, Learning Time nya Zedd bisa dipake Elle. Hehehehe... #cuan.


Atas The Story, bawah First Step. 

Btw, karena ngeliat mainannya selucu itu, saya juga langganan First Step buat Elle. Bwehehehe.... Jadi mainannya Elle bisa buat Zedd. Teteup #cuan.

Review yang First Step menyusul yah. Saya juga bakal posting sedikit video-video di IG story tentang The Story nya Learning Time Indonesia, biar lebih gampang masukkinnya dan enak ditonton.

Buat harga dan detailnya, cek IG atau kontak admin aja. Mereka ramah and very helpful. The Story launching hari ini, siapa tahu ada promo yang oke dan bisa cuan kayak saya. Hehehe... Saya sendiri subscribe via whatsapp trus dapet email konfirmasi. 


Di Kantor Learning Time Indonesia

Hope it helps.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...