Friday, November 17, 2017

Review Diet Herbalife (Not A Supplier or A Coach)

Before this, diet has never came across my mind. Karena dari kecil saya kurus. Popo saksinya, dari awal pacaran dulu saya makan dikit, sampe dia risih liat saya makan seiprit-seiprit.

Tapi akhirnya saya mulai ngerasa kelebihan berat badan. I believe the trigger are pregnancy and breastfeeding. Selama hamil dan nyusui (total 2 tahun 9 bulan) saya bisa makan 5-6x sehari. Dan tetep kurus. Namanya juga nyusuin. Pas hamil juga saya tipe yang gede perutnya doank.

Duh, jaman hamil di Jogja, jam 11 malem itu bisa minta dianterin Yang Kung beli gudeg mercon Yu Tinah, nasi goreng Bu Ita, gudeg ceker. Banyak lah. Enggak heran Zedd mirip Yang Kung, secara beliau yang nurutin ngidam-ngidamnya.

Anywhoo, setelah ngerasa terlalu berat, difoto jadi jelek, nyari baju juga susah, mulai kepikir untuk diet. Tapi ya gitu, cuma berhenti sampai sebatas niat doank.

Sampai ada satu waktu, teman kantor saya, Arrum, ngajakin, yuk ikut diet Herbalife. Kebetulan ada lagi temen kantor kami yang coach Herbalife. Akhirnya saya ubah niat diet yang udah ada lamaaaaaa, buat dieksekusi.

Pertama kami ditimbang dan diukur sama Coach Risia. Enggak cuma beratnya, tapi ukuran pinggang, payudara, sampai kadar air dalam tubuh. Banyak lah pokoknya. Beberapa istilah juga saya enggak paham.

Yang saya paham,
1. Saya harus turun 6-12 kg untuk mencapai berat badan ideal saya.
2. Metabolisme saya kayak orang umur 39 tahun, padahal nyampe 30 aja belum. Huhuhu...

Coach ngitung-ngitung dan keluar lah angka ajaib saya yaitu 1300 kalori. Meaning, I can only eat that much for one whole day.

To get the idea how much that is,
1 hamburger itu 500 kalori.
1 piring lontong sayur sekitar 537 kalori.
1 mangkuk mie rebus 310 kalori.
1 gelas susu itu sekitar 61 kalori.
1 gelas teh itu 80 kalori.

Jadi kebayang ya kalau sarapan lontong sayur - makan siang nasi rames - sore ngemil pop mie karena ujan dan pengen anget-anget - malam makan sate ayam.

Ditambah minuman manis macam Nu Green Tea atau Teh Kotak, bisa 2000an kalori per hari, kelebihan kalori nya bisa 700an kalori! Enggak heran saya menggemuk. Hahaha...

Metode dari Coach Risia awalnya terlihat enak banget.
Pagi minum shake Herbalife
Siang makan biasa
Sore minum shake
Malam makan biasa

Ini lebih enak dibanding metode WRP yang pernah saya coba diet iseng waktu zaman kuliah.
Pagi minum WRP
Jam 10 makan cookies
Siang makan
Sore makan cookies
Malam minum WRP

Metode ini enggak cocok buat saya karena saya enggak doyan cookies dan bakal laper di jam-jam kritis. Nah, metode Coach ini makannya 2 kali, jadi saya tertarik. Ternyata saya salah. Metode ini emang enggak terlalu menyiksa dibanding yang sekali makan, tapi enggak mudah juga.

Karena menu makan saya fix, antara nasi/seporsi sayur+ayam/ikan. Sounds good, right? Tapi harus dilihat juga pantangannya. Enggak boleh makan makanan lain selain itu. Jadi telur, daging-dagingan, sea food (kecuali ikan), tepung-tepung, lemak, semua enggak boleh. That includes fruits!

Selama ikut program 10 hari itu, saya mayan menderita karena bosan dengan makanan yang itu-itu aja. Mungkin karena enggak sempat masak sendiri juga, ya. Akhirnya sempat cheating beberapa kali.

Saya bukan orang yang disiplin, tapi diet ini saya ngikutin aturan. Karenaaaa SAYANG DUITNYA!!!

Arrum selalu ngingetin, “bayangin, cuma gara-gara lu cheating Indomie yang harganya enggak seberapa, program Herbalife 400 ribu ini bisa melayang.”

Dan terbukti, metode “sayang uangnya” itu berhasil. Tiap mau cheating, duh pengen makan kulit nih. Inget 400 ribu, inget 400 ribu. Hahahaha...

Terus

Hasilnya: SAYA TURUN 2 KG DALAM 10 HARI! HORE!!!

Walaupun sukses, saya memutuskan buat enggak lanjut program Herbalife karena beberapa alasan. Pertama pastinya karena dana yang enggak mumpuni. Kedua karena saya enggak tahan dengan batasan-batasan makanan yang ditetapkan.

Sempet mikir mau ganti metode keto diet aja, karena diet ini basisnya makan lemak. Tapi diliat lagi, beneran no karbo. Berarti enggak boleh nasi, kentang, tepung bumbu kobe gitu kan? Waaahhh alamat gagal lagi itu sih. Secara saya anaknya tepung and nasi banget.

Sekarang saya masih diet dengan cara paling klasik, ngurangin makan. Hehehehe... Selain itu, saya juga masih mempraktekkan beberapa gaya hidup sehat dari Herbalife, seperti:
1. Enggak lagi minum minuman manis, karena bahkan teh dan kopi pun ada kalorinya.
2. Mulai pindah jadi tim dada ayam, setelah jadi tim paha dan tim sayap selama ini.
3. Mulai ngitung kalori, walopun ngawang-ngawang.
4. Mulai sarapan oats setelah sebelumnya enggak doyan. Oats itu bikin kenyang dan rendah kalori.
5. Mulai perbanyak jalan. Saya sekarang turun di seberang apartemen tiap pulang kantor. Jadi saya harus naik turun JPO dan jalan sedikit lebih panjang. Udah beberapa ojek online yang heran. “Udah, Mbak. Saya anterin sampe depan apartemen aja, biar mbaknya enggak usah nyebrang.” Dan selalu saya jawab, emang pengen jalan pak, biar sehat.


Ke depannya, saya berniat bujukin Popo supaya parkir mobil di Basement 2, jadi harus naik 2 kali. Hehehe...

Friday, November 10, 2017

(Rant) Working Moms, Set Your Limit!

Waxing adalah waktunya saya buat nulis, karena lama nunggunya.

Kali ini mau curhat separo share tips separo mau ngebawel. Soal kerjaan. Hahahaha...

I believe I've written so many times both here or in my Instagram about how much I love my job. Still loving it, tapi tetep yah, enggak mungkin tiap hari berbunga dan muncul pelangi gitu, kan.

Jadi Jumat malem, saya lagi makan sama Popo and Zedd, hp bunyi soal kerjaan. Fyi, kerjaan saya itu tipe yang gampang diakses, kasarannya pakai hp juga bisa gitu. Bukan kerjaan yang harus buka laptop gitu, enggak kayak Popo sama ArcGis nya atau Sipa sama Microsoft Excel nya.

Saya bisa-bisa aja sih ngerjain itu right on the spot. But it's Friday night and I was having dinner with my family. So I politely asked my co-worker to wait until tomorrow or Monday. And thankfully, he was fine with that.

Kerja zaman sekarang itu susah, karena email bisa langsung dibuka, sekedar pdf atau word juga bisa akses dari hp. Walaupun mempermudah kerjaan, tapi jadi bikin blur waktu kerja. Apalagi yang kerjaannya bisa dari hp kayak saya.

Pasti ada lah yang mikir, lha itu bisa wasapan, upload foto, dll, masa enggak bisa ngurusin kerjaan yang juga sama-sama dari hp?

Bisa, tapi saya enggak mau. Karena saya udah kerja di jam kantor. Jadi saya bikin batasan sendiri. Di luar jam kantor, sebisa mungkin saya enggak mau ngurus kerjaan.

Tapi saya konsekuen kok, #ngelesniyeee. Kerjaan saya selalu selesai. Alhamdulilah belum pernah miss deadline. Kalau ada yang request di luar jam kantor, itu emang dadakan dari pihak lain, bukan karena saya telat dari batas waktu.

Menurut saya penting buat bikin batasan, terutama karena zaman now itu email bisa lebih mudah diakses.

Pernah dalam suatu event, saya denger petinggi Gojek, seorang ibu 2 anak, share tips serupa. Bahwa harus ada time limit.

Si ibu ini pun ngaku kalau dia kadang email anak buahnya malem-malem karena kebetulan inget suatu hal penting. But still she always wrote ‘you do not need to reply this right now.’ Karena penting buat nge-set jam kerja.

Sure, it’s okay to squeeze in some working time during Zedd’s nap, but disturbing me while Zedd is up and playing with me, is non negotiable.

So far, kerjaan saya sekarang aman-aman aja. Tapi, kalau pun suatu saat saya kena masalah karena membuat batasan waktu kerja, I don’t mind to resign or being fired.

Cause no matter what my position career wise, I am a mother first.

Friday, October 20, 2017

Review Combi Cozy

Right to the point, saya mau review Combi Cozy punya Zedd. Stroller ini adalah stroller kedua setelah saya ngejual Coco Latte Spin-R Zedd, karena enggak cukup di apartemen mini kami.



Harga
Combi Cozy ini saya beli di IMBEX 2016 dengan diskon 30%. Harganya Rp 2.9 jutaan.
It's quite a bargain mengingat Combi itu harganya Rp 3 jutaan ke atas. Yang bagus bisa sampai Rp 6 juta.

Merk
Combi ini merk asal Jepang. Kalau sering liat YouTube and drama-drama Jepang gitu, emang keliatan kalau Japanese tend to live small and simple.

Kayak Youtuber Tokidoki Traveler, Emma, yang pernah tinggal di apartemen seluas 8meter persegi di Tokyo. Mobil juga model Karimun yang emang compact. So, enggak heran kalau merk-merk stroller asal Jepang itu minimalis alias compact, termasuk Combi. Enggak cuma stroller, car seat Combi pun mungil lho. But, mind this article dan yang baru ini.

Merk asal Jepang yang lain itu Aprica, tapi di IMBEX harganya aja Rp 5 jutaan udah diskon. Huhuhu... it's obviously a premium brand.

Bentuk
Sebelum beli Combi, saya udah riset sampe enggak terhitung. Mulai dari website nya The Children Store (distributor resmi Combi di sini) plus YouTube. Website asalnya enggak saya baca, karena pakai huruf Jepang.


(Bobo abis nemenin Mommy kerja.)

Hasilnya sungguh membingungkan. Di mata saya, tipe satu dan lainnya sama aja. Perbedaan yang saya temui cuma ada di berat stroller yang beragam.

Hampir semua tipe Combi bisa one hand fold dan bisa berdiri sendiri. Secara flow, saya bisa gendong Zedd dari stroller, lipet stroller, trus benerin posisi gendongan (sementara stroller berdiri), trus tarik/angkat stroller nya deh.


(Ini tombol/tuas yang buat ngelipet. Just put your hand there, geser pake jempol, tarik stroller, kelipet deh.)

Enggak perlu jongkok sama sekali. Kalau dibandingin sama stroller compact lain ya, macam umbrella stroller atau Babyzen Yoyo sekalipun, orang masih harus jongkok buat ngelipet, ngangkat, atau buka stroller lho. Sementara si Combi ini enggak, saya bisa lipet dan bawa dengan posisi berdiri. So, Combi is definitely a winner for me.


(Tuh, bisa berdiri sendiri dan super ringkes.)

Waktu di IMBEX, mumpung ada staff tokonya, saya tanya dong apa bedanya. Ternyata, mereka juga enggak bisa jelasin. Hahahahahaha...

Dengan budget Rp 2-3 jutaan, yang masuk budget saya itu Combi Cozy. Karena enggak bisa tahu beda tipenya 1 sama lain, ya saya beli si Cozy yang paling murah. Hehehehe...

Kanopinya guede... bisa dilihat di foto kalau itu bisa nutup sampai membentuk sudut 180 derajat. And if you notice, itu bentuk khas Combi. Pas kanopi diturunin, keliatan lah kalo itu Combi.

Buat material, karena Combi Cozy ini termasuk lightweight stroller, ya bahannya sejenis plastik and aluminum gitu. Durabilitynya keren sih. Sampe setahun ini baru ada 1 scratch yang saya temuin.



(Maapin muka bobo Zedd ikutan nongol)



Performa
+ Beneran super light weight. Apalagi sebelumnya saya pakai Coco Latte Spin-R yang lumayan berat ye.

Jadi dulu kalau dorong pakai tenaga, sekarang harus dikurangin tenaganya. Masalahnya pas dorong Combi, kok strollernya enggak gerak. Menurut Popo, itu karena saya terlalu kuat dorongnya, dan arah ndorong agak miring ke bawah. Yang pada bawa stroller berat, coba dibayangin deh. Pas dorong, pasti otomatis kita ada tenaga ke bawah.

Nah, itu yang bikin Combi enggak jalan. Kalau dorong Combi, cukup dorongin tangan ke depan.
Susah dijelasin sih. Tapi semua cuma masalah kebiasaan.

+ Karena lightweight, enaknya bukan cuma pas ndorong, tapi juga pas ngangkat. Gampang banget deh. Beda sama waktu ngangkat Spin-R.

- Kekurangan dari light weight stroller itu masalah jalan jelek. Enggak usah jalan jelek deh, ada tanjakan 2-3 cm aja, stroller akan njungkel ke depan.

Jadi, kalau ada tanjakan, saya injek pijakan kaki di belakang, trus naikkin strollernya.


(Saya tahan batang silver itu pakai kaki, trus naikkin strollernya)

- Kekurangan Combi lainnya ada di fabric. Cepet kotor. Saya pernah liat Combi parkir di daycare Zedd dan lusuh banget. So, I'm actually already prepared for this.

Beda sama si Spin-R yang warnanya emang agak washed out, tapi enggak cepet lusuh.


(Ini foto Oktober 2017, jadi setelah hampr setahun pakai. Belinya IMBEX, November 2016.)

Solusinya ya beli yang warna hitam. Tapi ternyata Combi warna item itu beda tipe dan harganya lebih mahal. 😞

+ Balance Combi ini ternyata bagus lho. Walaupun enggak dikunci (pake foot step itu lho), si Combi ini bisa berdiri dengan tegap dan enggak gampang terjungkal.

Lho? Stroller lain juga begitu bukan?

Nah, saya sadarnya waktu Zedd berhasil manjat stroller itu. Jadi saya siap-siap ke daycare, stroller saya siapin, and then I went into my bedroom to grab some diapers. Pas balik, Zedd udah di atas stroller. Jadi dia bisa manjat, dan Combi enggak mundur atau terjungkal ke depan. Of course this kind of behavior was dangerous and Zedd shouldn't do that. Tapi, untungnya Combi ternyata cukup kokoh buat dipanjat balita berat 11kg.


(Ini Zedd habis manjat sendiri loh. Dan stroller enggak maju-mundur sama sekali. 😮)

- Ngomong-ngomong soal kokoh, kalau saya pegang Combi, karena ringan, jadi kerasa ringkih. Coba aja goyang-goyangin, rasanya kayak bakal copot tuh stroller. Tapi so far enggak ada satu pun yang copot, jadi cuma keliatannya aja ringkih.

+ Keranjang bawah stroller is actually quite big. Bisa buat nyimpen banyak barang. Kadang malah bisa dilipet pas ada barang-barang di situ.


(Tuh, gede kan?)

- Combi ini bisa dipakai newborn, jadi bisa full reclined (jadi datar kayak tempat tidur gitu). Masalahnya, 'si kasur' itu enggak empuk. Saya bandingin sama Spin-R yang jauh lebih empuk. Gampangnya sih, tinggal beli alas stroller. Zedd sendiri enggak pakai alas stroller karena udah umur 13 bulan waktu start pakai Combi, dan bisa-bisa aja tidur. Udah ngantuk kali? Hahahaha...


(Keep in mind kalau kaki Zedd nggantung ya.)

Kesimpulan
Overall I really love Combi and for me it's a perfect stroller for:
- Small house/apartment
- Ibu-ibu yang enggak punya nanny
Yang mana itu saya banget.

Price wise, harga segitu udah cocok banget buat stroller sekelas Combi. Saran saya, always hunt expensive baby gears waktu pameran kayak IMBEX atau MBFair.

Kualitas barang Jepang enggak akan bohong yah. Kalau dihitung-hitung, udah hampir setahun saya pakai Combi Cozy. Pernah jatuh dari bagasi mobil beberapa kali dan masih oke. Enggak ada scratch dimanapun, padahal saya pakai itu di jalanan apartemen yang kadang becek, kadang berdebu, dan enggak mulus. So it's really good quality.




(Masih mulus)

That's all my review for Combi.

(All photos are taken by me)


Sunday, September 3, 2017

Gampangnya Perpanjang SIM di SIM Keliling

Walaupun saya udah lama enggak bawa motor atau nyetir, tetep penting bagi saya buat punya SIM A dan SIM C. Just in case...
Nah, kata Uti, kalau mau perpanjang SIM itu harus di alamat SIM-nya. Duh, udah pusing deh saya. Enggak cuma saya harus minta cuti, saya juga harus ngeluarin biaya pulang Jogja yang enggak sedikit. Fyi, tiket ke Jogja itu bisa lebih mahal daripada ke Singapore lho. Dan ngomong-ngomong soal ke Singapore, saya bokek kek karena abis liburan ke sana beberapa minggu sebelumnya.
Untungnya, Mbak Bos bilang bahwa sekarang udah bisa kok perpanjang di mana aja. Wah, bisa hemat dong!
Akhirnya hari Sabtu, sehari sehabis Idul Adha, saya ke mobil SIM Keliling, sambil Bismillah. Kalau enggak bisa ya emang harus pulang Jogja.
Berangkat jam 7 pagi dari apartemen dan ke depan TMP Kalibata, karena sering lihat bus polisi gitu plus buanyak orang ngantri. Pas datang, udah ada 5-10 orang dan bus nya belum ada. Hahahaha... di google emang tulisannya jam 8 sih. Bus datang trus ngeluarin meja, saya pun tanya, eh ternyata itu buat perpanjang STNK.
Si Bapak yang saya tanya itu bilang coba cari ke kampus STEKPI. Itu kampus literally di belakang kantor polisi itu. Setelah sebelumnya setengah mati nyari fotokopian yang buka, saya ke STEKPI (sekarang jadi Universitas Trilogi), dan si bus SIM Keliling udah siap! Woohoo...
Alhamdulilah nya, yang ngantri enggak sebanyak di bus STNK Keliling. Saya deg-degan nanya, boleh enggak saya perpanjang di Jakarta walaupun alamat saya di Jogja. Jawabannya: BOLEH!!
Untung saya udah fotokopi walaupun sekenanya. Yang dibutuhkan cuma fotokopi KTP doank. Karena saya perpanjang SIM A dan C, ya saya harus nyediain 2 fotokopi KTP.
Langsung saya kasih dan antri sebentar. Dipanggil, terus foto, dan cetak SIM, kelar deh.
Gampang banget!!
Saya bayar sekitar Rp 345 ribu buat perpanjang 2 SIM itu. Enggak perlu khawatir pungutan aneh, wong ditulis kok biaya semuanya di pintu Bus.
Sekarang ternyata perpanjang SIM bener-bener dipermudah karena udah online. Ini berlaku juga buat Popo.
Jadi KTP Popo itu udah berubah alamat, ngikutin KK kami. Tapi SIM nya masih alamat orang tua Popo. Dulu, kalau gini kasusnya, Popo harus ke kantor polisi lalu lintas (please correct me if I'm wrong, pokoknya kantor polisi yang ngurusin SIM) di Sleman, tarik berkas, trus masukkin berkas itu ke kantor yang di kota Jogja.
Sekarang enggak perlu. Popo bisa perpanjang SIM di bus itu dan sekalian ditulis alamat baru ngikutin KTP. Waaa... enaknyaaa...
Percayalah, hal sekecil ini penting buat anak rantau. Hehehe...
To sum up, ini yang harus disiapin buat perpanjang SIM di bus SIM Keliling.
- siapin fotokopi KTP beberapa lah, buat jaga-jaga.
- Datang pagi biar enggak lama antrinya (atau biar ada waktu nyari bus yang bener kalau ternyata salah bus kayak saya).
- Siapin uang.
- Dandan biar enggak kucel kayak saya.
Nah, waktu saya perpanjang itu, sempet ada kendala. Listrik di bus sempat mati, karena ada gangguan listrik di daerah situ.
Salutnya, petugas langsung sigap beli bensin dan nyalain listrik pak tenaga bus itu sendiri. Pas banget itu giliran SIM saya dicetak. Dalam waktu 10-15 menit, listrik udah nyala lagi dan saya langsung dapat SIM.
Respect deh sama bapak-bapak petugas di sana. 😄

Sunday, August 27, 2017

Berapa sih Harga Jasa Financial Planner?

Jujur, saya jadi enggak pernah mikir apa-apa soal keuangan. I let it flow. Kebetulan saya dibesarkan dengan gaya hidup yang biasa aja dan diajarin nabung. Alhamdulilah nya, abis kawin pun, gaji saya dan Popo, cukup.

Sampai 1 titik, saya enggak kerja lagi. Income cuma dari Popo. Langsung berasa, OMG, I need money!

Disitu saya baru ngerasa melek tentang pentingnya ngelola keuangan. Itu awal perkenalan saya dengan profesi financial planner. Enggak, saya enggak langsung pakai jasa mereka. Gile aja. Nganggur malah pakai jasa financial planner (FP). Hahahaha...

Saya mulai dari baca buku keuangan. Jangan pikir buku keuangan yang rumit yah. Saya enggak paham kalau udah mulai rumit. Buku yang saya baca pertama kali itu karangan Prita Ghozie, yang ternyata cocok banget buat emak-emak kayak saya.


Selain dibahas soal dasar bikin perencanaan keuangan, dibahas juga soal pendidikan anak, liburan keluarga, beli gadget. Things that are already in the back of my head but I don't know what to do with it.

Seru baca, saya beli lagi buku karangan Prita dan Farrah Dini. Dua-duanya sama cewek, tapi buku karangan Farrah ini lebih cewek lagi, karena bahas soal kebutuhan kita nih, para cewek dari yg abg-uzur, buat ngafe, spa, perawatan, jajan yang hits.

Apa terus dengan baca buku, saya jadi bisa merencanakan keuangan? I'm proud to say, lumayan lho. Setelah saya enggak kerja, kami tetep bisa survive, bahkan nambah aset guna dan tabungan. Malah kerasa lebih banyak nabung setelah saya enggak kerja.

Tapiiiii... tetep enggak bisa kayak yang ditulis di buku-buku itu. Emang aset nambah, tapi enggak signifikan. Ya iya lah ya. Masa dari buku doank terus saya bisa setara sama mbak Prita dan mbak Farrah yang sekolah khusus buat jadi FP.

Hal lain yang menggelitik itu, semua buku-buku itu ngasi tau betapa penting dan gampangnya buat investasi reksadana dan saham. Apalagi jaman sekarang, jauuuuuh lebih mudah daripada dulu. Reksa dana bisa dari 500 ribu-1 juta (malah kayaknya kurang dari itu deh.) Saham juga start dari segituan. Tapi kami selalu mentok di baca dan niat doank. Intinya, kami tetep enggak dong! Huhuhu...

Tahun 2016 kemarin saya memberanikan diri ngontak FP, iseng aja nanya. Sebenernya harganya berapa sih? Kan selama ini kayaknya ngawang banget bayangin biaya FP. Saya bahkan mikir kalau jasa FP ini akan saya butuhkan kalau saya dapat undian 100 juta atau 1 milyar gitu, dan bingung uangnya mau diapain. Hehehehe...

Kembali ke ngontak FP, saya nanya berapa gaji minimal baru bisa pakai jasa FP. Soalnya kalau tanya harga, pasti jawabannya bakal ngambang juga. Macam tanya harga ke desainer kebaya.

Enggak pakai lama ada email masuk yang ngasi jawaban tentang gaji minimal. Dan ternyata angkanya enggak beda jauh dari UMR Jakarta lho.

FP ini pun ngajak ketemuan buat tahu lebih lanjut. Saya masih ragu-ragu, karena balik lagi kami ini cuma keluarga kecil dengan duit seadanya. Setelah diskusi sama Popo, udahlah coba ketemu dulu aja. Lihat gimana.

Beberapa minggu setelahnya, saya ketemu sama FP, ada 2 orang dari mereka, 1 senior 1 junior. Ngobrol, saya kasih tau keadaan keuangan kami dan apa-apa aja yang kami inginkan.

Karena udah baca buku-buku keuangan, saya tahu target kami itu,
- dana pendidikan Zedd
- Investasi buat pensiun
- Misc kayak liburan, hp, laptop, renov apartemen dll.

Dari ngobrol itu, FP jelasin kalau ada 2 jenis service, mau per paket aja, kayak, tolong itungin dana pendidikan, atau tolong itungin dana beli rumah, dll. Atau kontrak setahun, dimana keuangan kami akan dipantau berkala dan mencangkup semuanya. Kelar meeting, mereka bilang akan kirim email penawaran harga.

Balik diskusi lagi sama Popo setelah nerima penawaran harga. The price is quite expensive for us. Tapi kalau dibagi per bulan, ya enggak segitunya sih. Dan karena mereka yang akan ngatur, slot dana buat bayar biaya itu, mereka yang ngurus.

Saya sempat mikir, duh duit segitu buat bayar FP dapat dari mana? Eh, ternyata mereka yang mikirin.

Saya juga sempet tanya langsung sama mbak FP, soal kekhawatiran saya soal "layak enggak sih orang dengan duit pas-pasan gini pakai FP?"

Jawabannya masih saya inget lho. She said, kalau duitnya udah ada mau, kerjaan saya gampang dong mbak, tinggal masuk-masukin duitnya. Justru tugas FP adalah mastiin kalau duit kami bisa dialokasikan secara maksimal dan syukur-syukur bisa nambah aset.

Hehehehe... mbaknya bisa aja.

Oiya, menurut mbak FP, keuangan saya ini relatif simple. Karena kami enggak punya hutang atau pajak atau apalah. Kalau misalnya keuangan saya lebih rumit, ya fee FP nya juga bakal rumit.

Alhamdulilah... berarti saya dan Popo masih bisa ngatur keuangan lah. Enggak besar pasak daripadan tiang gitu.

Habis meeting sama saya, FP akan kasih penawaran harga dan habis itu saya lepas tangan, alias semua udah masuk ke ranahnya Popo. Hahahahaha... Singkat cerita (panjang sih aslinya), kami akhirnya milih untuk kontrak setahun. Dan sekarang masih proses.

I'll write more about what changes after we have our own FP.

Tuesday, July 18, 2017

Barang-Barang Bayi yang Kepakai dan Enggak Kepakai

Zedd udah balita, jadi saya udah bisa bilang saya khatam ngurusin bayi newborn. Alhamdulillah, 1 step parenting terlewati dan Zedd masih sehat walafiat. 

Karena udah khatam, sama mau share pengalaman saya tentang beberapa barang bayi yang kepakai dan enggak kepakai. Semoga postingan ini membantu buibu yang sekarang lagi hamil.

This postingan also dedicated to my friend who's pregnant right now. ☺

So, do not invest on these items.
- baby crib
I think i speak for almost everybody when i said every moms want their baby to sleep in the crib.

Saya pun paling excited sama baby crib/baby box waktu hamil. Ini barang pertama yang saya browsing dan beli. Saya juga mikir pokoknya baby nanti harus tidur di crib. Enggak boleh co-sleeping.

Ternyata oh ternyata, enggak bisa. Apparently not all baby bisa/mau tidur sendiri. Ini karena saya bandingin Zedd sama Hanhan. Zedd nangis kalau ditaruh di crib nya. Tapi Hanhan anteng aja.

My suggestion, sewa dulu aja lah. Lihat apakah baby tipe yang bisa tidur sendiri atau harus co-sleeping. 

Jangan mikir "ah, nanti kan bisa sleep training." Karena sleep training juga enggak bisa buat semua bayi. Again, Zedd as an example. Sampe berdarah, literally, gara-gara sleep training dan masih belum berhasil.

Next suggestion is to use playpack instead of baby crib yang dari kayu. Dari postingan ini, saya cerita gimana akhirnya saya berhenti CIO karena Zedd nangis heboh kepentok kayu, sampe berdarah. And I already put bumper lho.

Waktu Zedd umur 8-9bulanan. Dikelilingi bumper pun tetep aja kejeduk. 



- infant car seat 
Oke, ini bakal jadi ilegal di luar negeri karena di beberapa negara, yang developed tentunya, bayi keluar rumah sakit itu harus pakai car seat. Tapi di Indonesia sih enggak ada aturannya, CMIIW.

Alesannya mirip-mirip sama baby crib. Enggak semua bayi mau ditaruh di car seat. Alasan kedua, karena cuma sebentar dipakainya dan harganya mayan.

Alasan ketiga karena ada artikel ini. Ternyata enggak boleh lama-lama, cuma boleh setengah jam. 

And, lebih gampang nyusuin kalau enggak di car seat. 

Kalau mau pakai car seat, mending sekalian yang bisa buat toddler sampai kid nanti. But not the infant one, IMO.


-Toiletries
Alhamdulillah banyak yang sayang sama Zedd. Kami dapat banyak kado lahiran, termasuk toiletries. Sampai sekarang umur Zedd 23 bulan, saya masih punya cadangan bedak bayi sampe 3 bedak, yang gede pula. 

Of course enggak semuanya bertahan23 bulan. Sabun, shampo, cologne, itu paling cepet habis. Bedak, hair lotion, baby oil, diaper cream, dan lotion, itu termasuk yang irit. 

Tapi secepet-cepetnya, tetap bisa bertahan sampai 2-3 bulan dari toiletries hadiah. 

Syaratnya apa? Enggak picky. Saya bukan orang yang picky, even for my firstborn. Sabun is sabun. Bedak is bedak. Jadi merk apapun juga saya pakai. Ada cussons, johnson n johnson, pigeon. Semua saya pakai. Alhamdulillah kulit Zedd juga tambeng, jadi enggak ada reaksi alergi.


- Earmuffs 
Alasannya masih sama, belum tentu bayinya mau dan belum tentu butuh. Zedd naik pesawat pertama sekitar umur 9 bulan (kalau saya enggak salah inget) dan sampai sekarang dia anteng kalau take off-landing. 

Again, tiap bayi beda-beda. Lebih baik nyewa dulu buat memastikan tipe anak kita itu yang kayak apa.


- Baby bumper
Selain harganya yang mahal, pengalaman saya nunjukkin bahwa bumper ini enggak safe-safe banget. Buktinya, Zedd tetep terluka waktu sleep training/CIO. Liat aja foto di atas.



Do invest on these items
+ Baby carrier
Tapi cari yang udah ada infant insert nya yah. 

Ergo itu infant insertnya terpisah. Meanwhile Boba udah include infant insert. That way, bisa lebih hemat. 

Gendongan ini penting karena sooner or later akan ada masanya saya harus bawa Zidane pergi sendirian, tanpa Eyang, tanpa Popo, apalagi nanny yang saya enggak mampu bayar. ðŸ˜£

When that happens, I need my two hands. Buat angkat belanjaan, stroller, dan kawan-kawannya lah. Jadi gendongan modern ini penting banget. 

Bisa aja sih pakai jarik dan tangannya bebas. Kayak Nyai (mertua Sipa) kalau gendong Hanhan. Tapi kayaknya enggak semua orang bisa pakai jarik kayak Nyai. Itu emang #jarikgoals deh.


+ Daster yang bukaannya sampe tengah
Karena kayaknya enggak ada daster menyusui, beli lah banyak-banyak daster yang kancingnya sampai tengah. 

First time breastfeeding is rough. I was alway hungry, it was painful, I sweat every time I breastfeeding. Intinya lusuh suh suh.   Jadi punya stok daster itu ngebantu banget.

Kadang newborn juga gampang banget kena rash di bagian bokong. Kalau udah gitu, saya and Yang Uti enggak tega pakein popok. Karena pake popok kain, Jadi ya basah kemana-mana. Thus, the daster...


Stylish nursing dress
Setelah beberapa bulan, breastfeeding will turn from the most painful activity into the happiest moments. And when that happens, life will be so much easier.

Kalau ke mall atau ke rumah sakit atau kemana lah, jadi gampang. Enggak perlu bawa botol, susu, dkk. Cukup buka baju kelar. Anak nangis-nangis rewel, buka baju, kelar. Dan ini akan berjalan cukup lama. ASI kan dianjurkan sampai 2 tahun.

Jadi belilah baju-baju menyusui yang cakep-cakep. Alhamdulillah, sekarang buanyak banget yang jual dan cepet banget sold out. Mayan buat dipakai selama 2 tahun. Lagian, kalau faktanya dibalik, apa mau pakai baju berkancing terus selama 2 tahun? 

Apron menyusui memang bisa jadi pilihan, tapi enggak semua bayi mau ditutupin pakai apron menyusui, like my baby boy. Nursing room juga enggak selalu available. Jadi nursing dress is a must. 

Jangan lupa stok 1-2 biji buat kondangan. Rempong bok kalau kondangan pakai dress biasa yang resleting belakang. Saya pernah pakai, terus pas nyusuin jadi harus buka baju and ngumpet di mobil. 

My favorite itu @mamayara, @d_amora_nursing_wear, and @matroishka. Ada juga yang bagus but too expensive for me kayak @nyonya_nursingwear. Duh Nyonya itu koleksi kondangannya lucuuuu. Sayang saya enggak mampu beli.

Saya pernah beberapa kali pakai baju menyusui dan temen kantor nanya beli dimana. Padahal mereka belum menikah. Hehehehe... mereka kira it's just a regular cloth. Beberapa saya pajang di akun IG saya @nadiasarasati.


+ Stroller 
Stroller ini buat jangka panjang, jadi pastikan pilih yang cocok dan bagus. If I could give more suggestions, pilih beberapa stroller yang populer. Ibarat mobil, pilih yang Avanza gitu. Biar gampang dijual. 

Stroller Cocolatte ini udah pindah tangan ke temennya Popo. Semoga berguna.


Saya punya stroller yang lumayan populer, Cocolatte Spin R. Sering papasan sama orang yang pakai itu. Pas dijual juga alhamdulillah gampang. Sekarang sih pakai Combi, yang belum pernah ketemu kembarannya. Moga-moga nanti gampang kalau dijual. 

Oiya, yang mahal belum tentu yang cocok loh. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum beli stroller dan tiap orang butuhnya beda. Lengkapnya saya share di sini dan di sini.


+ Selimut
Selimut itu lumayan bulky. Saran saya pilih yang tipis dan harga terjangkau. Terus beli beberapa sekaligus. Buat saya, harus ada 3 selimut stand by, rumah, stroller, mobil. Selain itu ya harus ada back up nya kalau dicuci. 

Memang sih 5-6 selimut buat 1 bayi itu kayaknya banyak yah. Kalau mau, bisa aja pakai 1 tapi dibawa kemana-mana. And believe me, enggak gampang loh bawa-bawa selimut gitu. Sering lupa.

Oiya, saya enggak beli yang muslin dengan harga fantastis itu ya, sekitar 300-400ribu. My baby's happy enough with his cheap and decent blankets.


Enggak ada selimut, sarung pun jadi. Yang penting anget. Meanwhile, selimut ijo itu kado dari teman yang ternyata malah jadi favorite Zedd. Bahkan sampe suka berebut sama temennya di daycare.


+ Booster seat/baby chair
Terlepas dari si anak mau makan di booster seat atau enggak, saya ngerasa tempat duduk ini harus ada di rumah. Pengalaman saya, Zedd mau aja duduk dan makan, terutama waktu awal MPASI. Setelah bisa jalan, lain lagi ceritanya.

Tapi tetap ada waktu-waktu dia belajar makan dan butuh kursi ini. Akan ada juga waktu dimana saya butuh Zedd untuk diem sementara saya cuci piring, nyapu, dkk, dan dia bisa didudukin di kursi ini sambil disebarin snack kayak Yummy Bites, buah potong, atau finger food. 

Jaman masih doyan makan. Sekarang udah susah. Huhuhu... :(

Begitulah kira-kira yang bisa saya tulis. Peralatan bayi sebenarnya masih banyak banget. Diakui atau enggak, tetep ada barang yang kepakai bentar tapi harus beli banyak, kayak sendok plastik buat makan di awal-awal MPASI. Atau perlak yang buanyak banget pas awal-awal lahir dan kemudian enggak dipakai setelah 6 bulanan. In my opinion, beberapa hal emang enggak bisa dihindari ya. hehehe... Hope it helps.

Saturday, July 15, 2017

Cerita Menyapih 2, What Happened to My Body

Selama ini kalau cerita soal menyapih, biasanya fokus ke si anak yah. Termasuk cerita menyapih saya sebelum ini.

Tapi, makin kesini, makin berasa efek berhenti nyusuin ke diri saya sendiri, both mentally and physically.

Ngomongin yang mental atau psikis dulu ya. Ngerasa sedih itu pasti. Dulu santai aja kalau pergi karena tinggal buka baju (duh konotasinya negatif amat yak). Enggak perlu bawa susu, beli susu, botol dan perintilannya.

Di Bandara Ahmad Yani, Semarang.


Sekarang, saya selalu bawa botol 1 dan susu UHT yang 250 ml. Masih berysukur sih karena Zedd enggak masalah minum susu suhu ruangan. Jadi enggak perlu termos atau pemanas.

Masih ke perubahan mental, saya mulai unfollow toko-toko baju menyusui di IG. Lha, buat apa? Malah bikin inget... (belum move on ceritanya). Satu persatu yang muncul di feed saya, saya unfollow dengan berat hati. Nanti waktu Zedd punya adik, (amin) saya  akal follow lagi.

Sekarang masuk nursing room juga rada sedih gimanaaaaa gitu. Dulu masuk buat nyusuin dan ganti popok, sekarang cuma ganti popo doank. Apalagi tiap masuk, pasti liat orang nyusuin kan.

Nah, ke fisik ini lumayan banyak perubahan setelah berhenti nyusuin. Pertama masalah payudara saya. Dari jaman sekolah dulu, payudara saya ini selalu sakit. Seperti kalau mau menstruasi. Tapi saya ngerasain ini sepanjang waktu. Cuma kalau mau mens, bisa lebih sakit lagi.

Karena Mbah Putri saya meninggal karena kanker payudara, dari SMA saya udah rutin ngecek ke beberapa tempat dan enggak pernah dapat jawaban, kenapa PD saya ini sakit/kenceng/ngilu terus.

Lha sejak hamil, lairan, nyusuin, PD saya ini enggak sakit lagi. Ya nyusuin emang sakit, tapi sakit luarnya. Beda kan ya sama PD sakit pas mau mens.

Ternyata rasa sakit ini balik lagi setelah saya berhenti nyusuin. Walah-walah...

Perubahan fisik kedua, apalagi kalau bukan... BERAT BADAN!!! Dari dulu saya tipe yang males olahraga tapi lumayan menjaga porsi makan.

Semenjak hamil di tahun 2014, praktis saya enggak jaga makan dong. Apalagi waktu itu dokter bilang berat badan bayi kurang, saya jadi makin semangat makan.

Sekarang 2017, jadi udah 3 tahun saya blas enggak jaga makan. Setelah stop menyusui sama sekali, keliatan banget berat badan saya nambah. Walaupun enggak ada timbangan, jeans dan baju enggak mungkin bohong kan? Sekarang saya mulai ngurangin makan dan itu susaaaaah banget. Lha gimana, 3 tahun lho bebas makan.

Sejak bebas nyusuin, saya pun bebas eksim. Entah kenapa, sejak lahiran dan lancar nyusuin, saya kena eksim. Lumayan parah dan menguras tenaga+dompet. Tapi alhamdulilah, semakin Zedd ngurangin nyusunya, eksim saya perlahan hilang.

Tangan kayak melepuh. Kena apapun sakit, air, telon, sabun, tisu basah. 


Yah, mau eksim separah apapun, emang enggak akan ngalahin nikmatnya menyusui sih. Lucu ya? Saya dulu benci banget nyusui, karena sakit yang luar biasa. Tapi sekalinya bisa, malah susah buat move on.

That's a wrap. Kalau diinget lagi, awal-awal menyusui itu rookie banget dan endingnya menyenangkan banget. Moga-moga waktu adeknya Zedd akan lebih lancar. Jadi dari awal udah happy. Amin.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...