Sunday, August 27, 2017

Berapa sih Harga Jasa Financial Planner?

Jujur, saya jadi enggak pernah mikir apa-apa soal keuangan. I let it flow. Kebetulan saya dibesarkan dengan gaya hidup yang biasa aja dan diajarin nabung. Alhamdulilah nya, abis kawin pun, gaji saya dan Popo, cukup.

Sampai 1 titik, saya enggak kerja lagi. Income cuma dari Popo. Langsung berasa, OMG, I need money!

Disitu saya baru ngerasa melek tentang pentingnya ngelola keuangan. Itu awal perkenalan saya dengan profesi financial planner. Enggak, saya enggak langsung pakai jasa mereka. Gile aja. Nganggur malah pakai jasa financial planner (FP). Hahahaha...

Saya mulai dari baca buku keuangan. Jangan pikir buku keuangan yang rumit yah. Saya enggak paham kalau udah mulai rumit. Buku yang saya baca pertama kali itu karangan Prita Ghozie, yang ternyata cocok banget buat emak-emak kayak saya.


Selain dibahas soal dasar bikin perencanaan keuangan, dibahas juga soal pendidikan anak, liburan keluarga, beli gadget. Things that are already in the back of my head but I don't know what to do with it.

Seru baca, saya beli lagi buku karangan Prita dan Farrah Dini. Dua-duanya sama cewek, tapi buku karangan Farrah ini lebih cewek lagi, karena bahas soal kebutuhan kita nih, para cewek dari yg abg-uzur, buat ngafe, spa, perawatan, jajan yang hits.

Apa terus dengan baca buku, saya jadi bisa merencanakan keuangan? I'm proud to say, lumayan lho. Setelah saya enggak kerja, kami tetep bisa survive, bahkan nambah aset guna dan tabungan. Malah kerasa lebih banyak nabung setelah saya enggak kerja.

Tapiiiii... tetep enggak bisa kayak yang ditulis di buku-buku itu. Emang aset nambah, tapi enggak signifikan. Ya iya lah ya. Masa dari buku doank terus saya bisa setara sama mbak Prita dan mbak Farrah yang sekolah khusus buat jadi FP.

Hal lain yang menggelitik itu, semua buku-buku itu ngasi tau betapa penting dan gampangnya buat investasi reksadana dan saham. Apalagi jaman sekarang, jauuuuuh lebih mudah daripada dulu. Reksa dana bisa dari 500 ribu-1 juta (malah kayaknya kurang dari itu deh.) Saham juga start dari segituan. Tapi kami selalu mentok di baca dan niat doank. Intinya, kami tetep enggak dong! Huhuhu...

Tahun 2016 kemarin saya memberanikan diri ngontak FP, iseng aja nanya. Sebenernya harganya berapa sih? Kan selama ini kayaknya ngawang banget bayangin biaya FP. Saya bahkan mikir kalau jasa FP ini akan saya butuhkan kalau saya dapat undian 100 juta atau 1 milyar gitu, dan bingung uangnya mau diapain. Hehehehe...

Kembali ke ngontak FP, saya nanya berapa gaji minimal baru bisa pakai jasa FP. Soalnya kalau tanya harga, pasti jawabannya bakal ngambang juga. Macam tanya harga ke desainer kebaya.

Enggak pakai lama ada email masuk yang ngasi jawaban tentang gaji minimal. Dan ternyata angkanya enggak beda jauh dari UMR Jakarta lho.

FP ini pun ngajak ketemuan buat tahu lebih lanjut. Saya masih ragu-ragu, karena balik lagi kami ini cuma keluarga kecil dengan duit seadanya. Setelah diskusi sama Popo, udahlah coba ketemu dulu aja. Lihat gimana.

Beberapa minggu setelahnya, saya ketemu sama FP, ada 2 orang dari mereka, 1 senior 1 junior. Ngobrol, saya kasih tau keadaan keuangan kami dan apa-apa aja yang kami inginkan.

Karena udah baca buku-buku keuangan, saya tahu target kami itu,
- dana pendidikan Zedd
- Investasi buat pensiun
- Misc kayak liburan, hp, laptop, renov apartemen dll.

Dari ngobrol itu, FP jelasin kalau ada 2 jenis service, mau per paket aja, kayak, tolong itungin dana pendidikan, atau tolong itungin dana beli rumah, dll. Atau kontrak setahun, dimana keuangan kami akan dipantau berkala dan mencangkup semuanya. Kelar meeting, mereka bilang akan kirim email penawaran harga.

Balik diskusi lagi sama Popo setelah nerima penawaran harga. The price is quite expensive for us. Tapi kalau dibagi per bulan, ya enggak segitunya sih. Dan karena mereka yang akan ngatur, slot dana buat bayar biaya itu, mereka yang ngurus.

Saya sempat mikir, duh duit segitu buat bayar FP dapat dari mana? Eh, ternyata mereka yang mikirin.

Saya juga sempet tanya langsung sama mbak FP, soal kekhawatiran saya soal "layak enggak sih orang dengan duit pas-pasan gini pakai FP?"

Jawabannya masih saya inget lho. She said, kalau duitnya udah ada mau, kerjaan saya gampang dong mbak, tinggal masuk-masukin duitnya. Justru tugas FP adalah mastiin kalau duit kami bisa dialokasikan secara maksimal dan syukur-syukur bisa nambah aset.

Hehehehe... mbaknya bisa aja.

Oiya, menurut mbak FP, keuangan saya ini relatif simple. Karena kami enggak punya hutang atau pajak atau apalah. Kalau misalnya keuangan saya lebih rumit, ya fee FP nya juga bakal rumit.

Alhamdulilah... berarti saya dan Popo masih bisa ngatur keuangan lah. Enggak besar pasak daripadan tiang gitu.

Habis meeting sama saya, FP akan kasih penawaran harga dan habis itu saya lepas tangan, alias semua udah masuk ke ranahnya Popo. Hahahahaha... Singkat cerita (panjang sih aslinya), kami akhirnya milih untuk kontrak setahun. Dan sekarang masih proses.

I'll write more about what changes after we have our own FP.

Tuesday, July 18, 2017

Barang-Barang Bayi yang Kepakai dan Enggak Kepakai

Zedd udah balita, jadi saya udah bisa bilang saya khatam ngurusin bayi newborn. Alhamdulillah, 1 step parenting terlewati dan Zedd masih sehat walafiat. 

Karena udah khatam, sama mau share pengalaman saya tentang beberapa barang bayi yang kepakai dan enggak kepakai. Semoga postingan ini membantu buibu yang sekarang lagi hamil.

This postingan also dedicated to my friend who's pregnant right now. ☺️

So, do not invest on these items.
- baby crib
I think i speak for almost everybody when i said every moms want their baby to sleep in the crib.

Saya pun paling excited sama baby crib/baby box waktu hamil. Ini barang pertama yang saya browsing dan beli. Saya juga mikir pokoknya baby nanti harus tidur di crib. Enggak boleh co-sleeping.

Ternyata oh ternyata, enggak bisa. Apparently not all baby bisa/mau tidur sendiri. Ini karena saya bandingin Zedd sama Hanhan. Zedd nangis kalau ditaruh di crib nya. Tapi Hanhan anteng aja.

My suggestion, sewa dulu aja lah. Lihat apakah baby tipe yang bisa tidur sendiri atau harus co-sleeping. 

Jangan mikir "ah, nanti kan bisa sleep training." Karena sleep training juga enggak bisa buat semua bayi. Again, Zedd as an example. Sampe berdarah, literally, gara-gara sleep training dan masih belum berhasil.

Next suggestion is to use playpack instead of baby crib yang dari kayu. Dari postingan ini, saya cerita gimana akhirnya saya berhenti CIO karena Zedd nangis heboh kepentok kayu, sampe berdarah. And I already put bumper lho.

Waktu Zedd umur 8-9bulanan. Dikelilingi bumper pun tetep aja kejeduk. 



- infant car seat 
Oke, ini bakal jadi ilegal di luar negeri karena di beberapa negara, yang developed tentunya, bayi keluar rumah sakit itu harus pakai car seat. Tapi di Indonesia sih enggak ada aturannya, CMIIW.

Alesannya mirip-mirip sama baby crib. Enggak semua bayi mau ditaruh di car seat. Alasan kedua, karena cuma sebentar dipakainya dan harganya mayan.

Alasan ketiga karena ada artikel ini. Ternyata enggak boleh lama-lama, cuma boleh setengah jam. 

And, lebih gampang nyusuin kalau enggak di car seat. 

Kalau mau pakai car seat, mending sekalian yang bisa buat toddler sampai kid nanti. But not the infant one, IMO.


-Toiletries
Alhamdulillah banyak yang sayang sama Zedd. Kami dapat banyak kado lahiran, termasuk toiletries. Sampai sekarang umur Zedd 23 bulan, saya masih punya cadangan bedak bayi sampe 3 bedak, yang gede pula. 

Of course enggak semuanya bertahan23 bulan. Sabun, shampo, cologne, itu paling cepet habis. Bedak, hair lotion, baby oil, diaper cream, dan lotion, itu termasuk yang irit. 

Tapi secepet-cepetnya, tetap bisa bertahan sampai 2-3 bulan dari toiletries hadiah. 

Syaratnya apa? Enggak picky. Saya bukan orang yang picky, even for my firstborn. Sabun is sabun. Bedak is bedak. Jadi merk apapun juga saya pakai. Ada cussons, johnson n johnson, pigeon. Semua saya pakai. Alhamdulillah kulit Zedd juga tambeng, jadi enggak ada reaksi alergi.


- Earmuffs 
Alasannya masih sama, belum tentu bayinya mau dan belum tentu butuh. Zedd naik pesawat pertama sekitar umur 9 bulan (kalau saya enggak salah inget) dan sampai sekarang dia anteng kalau take off-landing. 

Again, tiap bayi beda-beda. Lebih baik nyewa dulu buat memastikan tipe anak kita itu yang kayak apa.


- Baby bumper
Selain harganya yang mahal, pengalaman saya nunjukkin bahwa bumper ini enggak safe-safe banget. Buktinya, Zedd tetep terluka waktu sleep training/CIO. Liat aja foto di atas.



Do invest on these items
+ Baby carrier
Tapi cari yang udah ada infant insert nya yah. 

Ergo itu infant insertnya terpisah. Meanwhile Boba udah include infant insert. That way, bisa lebih hemat. 

Gendongan ini penting karena sooner or later akan ada masanya saya harus bawa Zidane pergi sendirian, tanpa Eyang, tanpa Popo, apalagi nanny yang saya enggak mampu bayar. ðŸ˜£

When that happens, I need my two hands. Buat angkat belanjaan, stroller, dan kawan-kawannya lah. Jadi gendongan modern ini penting banget. 

Bisa aja sih pakai jarik dan tangannya bebas. Kayak Nyai (mertua Sipa) kalau gendong Hanhan. Tapi kayaknya enggak semua orang bisa pakai jarik kayak Nyai. Itu emang #jarikgoals deh.


+ Daster yang bukaannya sampe tengah
Karena kayaknya enggak ada daster menyusui, beli lah banyak-banyak daster yang kancingnya sampai tengah. 

First time breastfeeding is rough. I was alway hungry, it was painful, I sweat every time I breastfeeding. Intinya lusuh suh suh.   Jadi punya stok daster itu ngebantu banget.

Kadang newborn juga gampang banget kena rash di bagian bokong. Kalau udah gitu, saya and Yang Uti enggak tega pakein popok. Karena pake popok kain, Jadi ya basah kemana-mana. Thus, the daster...


+ Stylish nursing dress
Setelah beberapa bulan, breastfeeding will turn from the most painful activity into the happiest moments. And when that happens, life will be so much easier.

Kalau ke mall atau ke rumah sakit atau kemana lah, jadi gampang. Enggak perlu bawa botol, susu, dkk. Cukup buka baju kelar. Anak nangis-nangis rewel, buka baju, kelar. Dan ini akan berjalan cukup lama. ASI kan dianjurkan sampai 2 tahun.

Jadi belilah baju-baju menyusui yang cakep-cakep. Alhamdulillah, sekarang buanyak banget yang jual dan cepet banget sold out. Mayan buat dipakai selama 2 tahun. Lagian, kalau faktanya dibalik, apa mau pakai baju berkancing terus selama 2 tahun? 

Apron menyusui memang bisa jadi pilihan, tapi enggak semua bayi mau ditutupin pakai apron menyusui, like my baby boy. Nursing room juga enggak selalu available. Jadi nursing dress is a must. 

Jangan lupa stok 1-2 biji buat kondangan. Rempong bok kalau kondangan pakai dress biasa yang resleting belakang. Saya pernah pakai, terus pas nyusuin jadi harus buka baju and ngumpet di mobil. 

My favorite itu @mamayara, @d_amora_nursing_wear, and @matroishka. Ada juga yang bagus but too expensive for me kayak @nyonya_nursingwear. Duh Nyonya itu koleksi kondangannya lucuuuu. Sayang saya enggak mampu beli.

Saya pernah beberapa kali pakai baju menyusui dan temen kantor nanya beli dimana. Padahal mereka belum menikah. Hehehehe... mereka kira it's just a regular cloth. Beberapa saya pajang di akun IG saya @nadiasarasati.


+ Stroller 
Stroller ini buat jangka panjang, jadi pastikan pilih yang cocok dan bagus. If I could give more suggestions, pilih beberapa stroller yang populer. Ibarat mobil, pilih yang Avanza gitu. Biar gampang dijual. 

Stroller Cocolatte ini udah pindah tangan ke temennya Popo. Semoga berguna.


Saya punya stroller yang lumayan populer, Cocolatte Spin R. Sering papasan sama orang yang pakai itu. Pas dijual juga alhamdulillah gampang. Sekarang sih pakai Combi, yang belum pernah ketemu kembarannya. Moga-moga nanti gampang kalau dijual. 

Oiya, yang mahal belum tentu yang cocok loh. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum beli stroller dan tiap orang butuhnya beda. Lengkapnya saya share di sini dan di sini.


+ Selimut
Selimut itu lumayan bulky. Saran saya pilih yang tipis dan harga terjangkau. Terus beli beberapa sekaligus. Buat saya, harus ada 3 selimut stand by, rumah, stroller, mobil. Selain itu ya harus ada back up nya kalau dicuci. 

Memang sih 5-6 selimut buat 1 bayi itu kayaknya banyak yah. Kalau mau, bisa aja pakai 1 tapi dibawa kemana-mana. And believe me, enggak gampang loh bawa-bawa selimut gitu. Sering lupa.

Oiya, saya enggak beli yang muslin dengan harga fantastis itu ya, sekitar 300-400ribu. My baby's happy enough with his cheap and decent blankets.


Enggak ada selimut, sarung pun jadi. Yang penting anget. Meanwhile, selimut ijo itu kado dari teman yang ternyata malah jadi favorite Zedd. Bahkan sampe suka berebut sama temennya di daycare.


+ Booster seat/baby chair
Terlepas dari si anak mau makan di booster seat atau enggak, saya ngerasa tempat duduk ini harus ada di rumah. Pengalaman saya, Zedd mau aja duduk dan makan, terutama waktu awal MPASI. Setelah bisa jalan, lain lagi ceritanya.

Tapi tetap ada waktu-waktu dia belajar makan dan butuh kursi ini. Akan ada juga waktu dimana saya butuh Zedd untuk diem sementara saya cuci piring, nyapu, dkk, dan dia bisa didudukin di kursi ini sambil disebarin snack kayak Yummy Bites, buah potong, atau finger food. 

Jaman masih doyan makan. Sekarang udah susah. Huhuhu... :(

Begitulah kira-kira yang bisa saya tulis. Peralatan bayi sebenarnya masih banyak banget. Diakui atau enggak, tetep ada barang yang kepakai bentar tapi harus beli banyak, kayak sendok plastik buat makan di awal-awal MPASI. Atau perlak yang buanyak banget pas awal-awal lahir dan kemudian enggak dipakai setelah 6 bulanan. In my opinion, beberapa hal emang enggak bisa dihindari ya. hehehe... Hope it helps.

Saturday, July 15, 2017

Cerita Menyapih 2, What Happened to My Body

Selama ini kalau cerita soal menyapih, biasanya fokus ke si anak yah. Termasuk cerita menyapih saya sebelum ini.

Tapi, makin kesini, makin berasa efek berhenti nyusuin ke diri saya sendiri, both mentally and physically.

Ngomongin yang mental atau psikis dulu ya. Ngerasa sedih itu pasti. Dulu santai aja kalau pergi karena tinggal buka baju (duh konotasinya negatif amat yak). Enggak perlu bawa susu, beli susu, botol dan perintilannya.

Di Bandara Ahmad Yani, Semarang.


Sekarang, saya selalu bawa botol 1 dan susu UHT yang 250 ml. Masih berysukur sih karena Zedd enggak masalah minum susu suhu ruangan. Jadi enggak perlu termos atau pemanas.

Masih ke perubahan mental, saya mulai unfollow toko-toko baju menyusui di IG. Lha, buat apa? Malah bikin inget... (belum move on ceritanya). Satu persatu yang muncul di feed saya, saya unfollow dengan berat hati. Nanti waktu Zedd punya adik, (amin) saya  akal follow lagi.

Sekarang masuk nursing room juga rada sedih gimanaaaaa gitu. Dulu masuk buat nyusuin dan ganti popok, sekarang cuma ganti popo doank. Apalagi tiap masuk, pasti liat orang nyusuin kan.

Nah, ke fisik ini lumayan banyak perubahan setelah berhenti nyusuin. Pertama masalah payudara saya. Dari jaman sekolah dulu, payudara saya ini selalu sakit. Seperti kalau mau menstruasi. Tapi saya ngerasain ini sepanjang waktu. Cuma kalau mau mens, bisa lebih sakit lagi.

Karena Mbah Putri saya meninggal karena kanker payudara, dari SMA saya udah rutin ngecek ke beberapa tempat dan enggak pernah dapat jawaban, kenapa PD saya ini sakit/kenceng/ngilu terus.

Lha sejak hamil, lairan, nyusuin, PD saya ini enggak sakit lagi. Ya nyusuin emang sakit, tapi sakit luarnya. Beda kan ya sama PD sakit pas mau mens.

Ternyata rasa sakit ini balik lagi setelah saya berhenti nyusuin. Walah-walah...

Perubahan fisik kedua, apalagi kalau bukan... BERAT BADAN!!! Dari dulu saya tipe yang males olahraga tapi lumayan menjaga porsi makan.

Semenjak hamil di tahun 2014, praktis saya enggak jaga makan dong. Apalagi waktu itu dokter bilang berat badan bayi kurang, saya jadi makin semangat makan.

Sekarang 2017, jadi udah 3 tahun saya blas enggak jaga makan. Setelah stop menyusui sama sekali, keliatan banget berat badan saya nambah. Walaupun enggak ada timbangan, jeans dan baju enggak mungkin bohong kan? Sekarang saya mulai ngurangin makan dan itu susaaaaah banget. Lha gimana, 3 tahun lho bebas makan.

Sejak bebas nyusuin, saya pun bebas eksim. Entah kenapa, sejak lahiran dan lancar nyusuin, saya kena eksim. Lumayan parah dan menguras tenaga+dompet. Tapi alhamdulilah, semakin Zedd ngurangin nyusunya, eksim saya perlahan hilang.

Tangan kayak melepuh. Kena apapun sakit, air, telon, sabun, tisu basah. 


Yah, mau eksim separah apapun, emang enggak akan ngalahin nikmatnya menyusui sih. Lucu ya? Saya dulu benci banget nyusui, karena sakit yang luar biasa. Tapi sekalinya bisa, malah susah buat move on.

That's a wrap. Kalau diinget lagi, awal-awal menyusui itu rookie banget dan endingnya menyenangkan banget. Moga-moga waktu adeknya Zedd akan lebih lancar. Jadi dari awal udah happy. Amin.

Friday, July 7, 2017

Review Spiderman Homecoming

Just watched Spiderman Homecoming during a press screening a couple of days ago as part of my work, and I couldn't be more impressed. So I decided to review a movie for the first time in my blog. This contains spoilers.

Throughout my whole life, I've watched 3 Spidermans, Tobey Maguire, Andrew Garfield, and Tom Holland. And I have to say that Tom is my favorite. The main reason is really personal though. Because, finally, Peter Parker doesn't live such a tragic life.

In the first film I saw, Spiderman (2002), Peter lost his parents and Uncle Ben, so he always looked sad (at least for me) or gloomy, which was totally the opposite of Spiderman who I found funny and cheerful, especially when he fought his enemies. Just compare the fighting scene of Spiderman with Captain America, then you'll see how Spiderman can turn the fightings scene into something bubbly, instead of scary.

The second movie, The Amazing Spiderman is even sadder. Not only Peter lost his Uncle Ben (and obsessed to find the killer), he also lost her girlfriend, Gwen, whom also lost her father.

There are 2 The Amazing Spiderman movies and so many people just die -Uncle Ben, Gwen's father, Gwen. In addition to that, I can't forget the scene when Aunt May cried cause she had to take classes to be nurse and had to study with younger students so Peter could go to college. Deaths and financial problem, Peter just can't catch a break.

Sebelum nonton mejeng duluuuu... (photo was taken by me)


And finally, in the new Spiderman Homecoming, Peter's life is not that tragic. He still lost his Uncle Ben, though the movie doesn't explain how. But Aunt May is so hot and doesn't seem to have trouble financially.

Though many people don't like the portrayal of younger Aunt May, played by Marissa Tomei, for me it just make sense. Peter is an orphan, and he needs someone to raise him like parents, and someone to be his friend, like his uncle. Aunt May, in Homecoming, is both.

There were scenes where Aunt May helped Peter picked suits and learn how to dance. She also dropped Peter to Liz's party and, again, taught him how to talk with girls. This would be impossible in the previous installments.

Other scene was the one in the restaurant, when May joked about larb to cheer Peter up. This hot cool fun aunt is what Peter needs, especially after he lost his loved ones, don't you think?

The appearance of Ned as his best friend makes this Spiderman more fun. Remember the 2002 Spiderman when Peter's best friend, Harry Osbourne turned into Goblin? Not a good friendship. While the 2012 Spiderman, Peter simply had no friends at all, except for Gwen Stacy.

Besides hot Aunt May and funny Ned, It's really refreshing to see MJ (Michelle Joan) played by Zendaya in a new persona. Not because she's black (the last Fantastic Four movie presents black Johnny Storm), but cause this MJ is smart and quirky. So different from Kirsten Dunst's version, in which MJ is an actress. She and Peter is not really close in this movie, but how many couple really hit it off right from the start? Take it from me, who married my high school sweetheart. It just makes is even more special and I honestly can't wait for the sequel to see MJ and Peter realtionship change.

Spiderman Homecoming also highlighted that Peter Parker is a teenager and teen makes mistakes... a lot.

From small things, like losing his backpack, to the big one, like when Spiderman accidentally splits a ship in half. Fortunately, he has his guardian, Iron Man.

Every time Spiderman causes big trouble that threatens other people's life, Iron Man will come to the rescue. Iron Man always save the day that I unconsciously waiting for him to save Spiderman again during the last fight. Of course it doesn't happened. Because, as many teens do, they learn from their mistakes.

After asking for help and no Iron Man coming, Spiderman pushes himself to the limit. And he beat Vulture without help from Iron Man or other superheroes.

In the end of the movie, Peter refuses Tony Stark's offer about becoming an Avenger. He'd prefer to become friendly neighborhood superhero, because somebody needs to take care common people. It's trus and, again, make more sense as Peter is only 15 years old. He's not ready to fight to save the world, yet. For now, New York is big enough for him.



Tuesday, June 6, 2017

Cerita Menyapih yang Enggak Seru

Just realized that I never really talk about weaning. Abis, ceritanya enggak seru. Saya juga agak kaget, setelah drama menyusui yang panjang, saya kira akan ada drama berhenti menyusui. I was wrong.

Sedikit flashback, I was exclusively breastfeeding Zedd for 6 months dan saya lanjutkan sampai semampu saya. Nah, ada yang salah kaprah soal asi eksklusif 6 bulan ini. Atau memang ada 2 'aliran' lah. Saya dulu mikir asi eksklusif itu definisinya anak cuma boleh dikasi susu ASI dan bukan susu formula atau susu lainnya.

Ternyata maksud eksklusif 6 bulan itu, ya selama 6 bulan cuma asi tok. Abis itu anak dikasih MPASI. Di masa ini, udah enggak eksklusif lagi. Hal ini kadang bikin saya miskom waktu imunisasi di posyandu. Waktu saya bilang asi eksklusif di usia 8 bulan, bidan mastiin lagi, "jadi cuma asi aja? Belum makanan lain?" Jelasnya di artikel ini.

Susu Zedd tetap ASI sampai usia 10-11 bulan. Waktu itu saya mulai kerja dan Zedd mulai ditambah susu formula karena ASIP (asi perah) saya enggak cukup. Dari awal, saya emang bukan tipe ibu ber-ASI banyak, atau pompanya yang kurang manteb, I don't know. Yang jelas dari dulu kalau dipompa emang enggak pernah banyak. Tapi karena saya waktu itu stay-at-home-mom, ya nyusuin langsung dan somehow cukup.

Jadi fakta ASI selalu cukup (kalau nyusuin langsung) itu emang bener. Tapi kalau dipompa, lain lagi ceritanya, at least for me.

Anyway, saya enggak nganggap Zedd 'kena' sufor. In my opinion, Zedd tetep ASI dan konsumsi MPASI yang di dalamnya ada sufornya. Ya kan? Hehehehe...

Oiya, Zedd tetap nyusu saya terus kalau saya pulang kantor dan tetap minum ASIP sekitar 100-200 ml/hari. Tiap hari dia konsumsi 1-1,2 liter susu. Jadi sisanya dari sufor. Di usia 12 bulan, sufor saya ganti susu uht merk Ultra. 

Nah, setelah flashback yang panjang, saya mulai cerita menyapihnya. Saya sebenarnya belum niat nyapih Zedd sebelum 2 tahun. Tapi kondisinya ternyata enggak ideal.

Waktu usia Zedd sekitar 14 bulan, Popo kena cacar. Waduh! Mana saya juga belum pernah kena cacar lagi. Takut Zedd ketularan dan kebetulan ada Yang Uti and Yang Kung, Zedd ngungsi ke unit apartemen sewaan eyang selama seminggu. Zedd bobo sama eyang, sementara saya ngurus popo sambil jaga kondisi biar enggak ketularan.

Kata Uti sih, awalnya agak susah, tapi dia cuma nangis dikit terus tidur. Wah, no drama? Apa karena saya enggak ada disitu, jadi dia tau percuma juga nangis-nangis. Untungnya Zedd enggak minta nenen eyang. Cause I heard that kind of story. 

Habis Popo sembuh, ya semua balik normal, tetep minta nenen. Tapi saya perhatiin, slowly but sure, Zedd mulai bisa tidur tanpa nenen. Awalnya jarang, tapi makin lama makin sering. Dalam seminggu, ada 2-3x dia bisa tidur setelah nyusu dari botol. Itu usia sekitar 15-16 bulan.

At that time, saya sebenernya sadar, Zedd udah siap disapih. Tapi, kayak banyak cerita, saya yang enggak siap Zedd berhenti nyusu. 

Sampai bulan Mei lalu, waktu Zedd usia 19 bulan, saya dapat tanda lagi. Payudara saya udah lamaaaaaaa enggak pernah 'kenceng.' Dulu walaupun dipompa dikit, tapi tetep kenceng. Awalnya tiap 3 jam, mundur jadi seharian. Dan akhir-akhir ini, enggak lagi. Padahal Zedd masih nenen rutin, apalagi kalau weekend. Terus saya iseng pencet, eh enggak keluar apa-apa. 

It forces me to admit, Zedd udah enggak butuh ASI saya lagi (karena ASI kan based on supply and demand), dia cuma ngempeng.  And it's time to stop. Mulai dari situ, di usia 19 bulan, saya bener-bener stop nyusuin. Sedih sih. Tapi harus realistis. Saya enggak mau Zedd kelamaan ngempeng saya sampai gede. 

Zedd udah di Jogja 2 minggu dan alhamdulilah aman-aman aja. Dia bisa bobo tanpa nenen. Mungkin ini namanya self-weaning.

Saya sendiri masih agak sedih dan belum mau move on. Buktinya saya masih selalu belu baju nyusuin dengan dalih, jaga-jaga kalau kepepet dia rewel dan butuh nyusu. But it's been a hell of journey and I am so so happy to breastfeed my baby exclusively for the 6 months and continue for the next 13 months.





Bye bye breastfeeding... :(

Friday, June 2, 2017

Review Belanja pakai Happy Fresh

Beberapa minggu lalu, Happy Fresh datang ke kantor saya dan presentasi tentang aplikasinya. Sebagai emak-emak masa kini, aplikasi Happy Fresh sebenernya bukan sesuatu yang asing buat saya.

Tapi layaknya emak-emak perhitungan, saya selalu berhenti di step 'download aplikasi dan window shopping.' Kenapa?

First of all let's talk about the app itself. Happy Fresh itu aplikasi buat belanja groceries online. Awalnya saya kira, app ini 1 grup sama Farmers Market and Ranch 99. Soalnya sama-sama ada ijonya. Ternyata beda. Yang bener adalah, Happy Fresh bisa dipakai di banyak supermarket kayak Carrefour, Lottemart, Superindo, termasuk Farmers Market. Tujuannya, ya buat orang-orang sibuk yang enggak sempet belanja groceries. 

Nah, as I mentioned earlier, saya sebenernya udah punya beberapa aplikasi groceries online. Selain Happy Fresh, ada juga Honest Bee and Mumu Grocery. Tapi semua aplikasi ini bikin saya mundur waktu window shopping. Soalnya, kesannya ribet. 

- Bisa milihnya?
Bayangin, misalnya mau beli telur, terus mereka asal pilih gimana? 

- Berat
Atau beli ayam/buah gede, yang mana saya tipe pembeli berdasarkan jumlah, bukan berat. Jadi saya beli chicken wing 6-8 potong biar pas kalau dibagi 2 orang. Beli mangga 2 biji aja, biar enggak kebanyakan. Saya enggak tau itu berapa kg. 

- Penggantian
Gimana kalau saya pengen masak ikan, tapi ikannya enggak ada? Kalau belanja sendiri kan bisa spontan milih penggantinya. 

- Jarak deket
Ini personal sih. Tapi saya belum ada dorongan buat pakai, karena Farmers Market nya ada di bawah apartemen. I literally only need to walk like 2 minutes to get there.

Tapi setelah denger presentasi Happy Fresh kemarin, saya jadi tertarik juga. Ini beberapa fitur yang menarin bagi saya:

- Harga per unit
Di app tertulis harga per unit. Jadi kayak telur 1 kg misalnya Rp 14.000, ya ketulis juga harga telur per unit nya. Ini juga kepakai di popok loh. Wah, berguna banget buat emak-emak.

Contoh harga per unit yang berguna banget buat popok. Seach term bisa pakai popok atau diapers.


- Intens communication
Shopper kita bakal ngabarin kalau ternyata barang yang kita pengen enggak ada. And we can actually chat with them. Ini saya alamin sendiri sih. Waktu belanja kemarin, kami ngobrol agak lama via telpon dan saya banyak nanya detail soal harga, rasa, berat dll, tentang barang pengganti/replacement. 

- Trained shopper
Salah satu kekhawatiran saya terjawab lagi. Pihak Happy Fresh meyakinkan kalau shopper mereka udah menjalani masa training. Mereka tahu mana buah dan sayur yang bagus. They even understand details of products. Misalnya jenis-jenis apel yang bejibun jumlahnya. Kita juga bisa ngasi note tambahan, misal: mau beli ayam kampung dipotong 10.

- Bisa cari ganti sendiri
Jadi sebelum check out, saya dikasih pilihan, apakah kalau barang kosong, shopper boleh milih pengganti atau harus konfirmasi dulu ke saya. Pilihan ini bisa digunakan per item lho. 

Misal kayak kemarin saya beli nata de coco, kornet, mie instan. Nah, itu saya bisa milih, kalau nata de coco kosong, shopper boleh milih sendiri. Kalau kornet yang habis, shopper harus konfirmasi sama saya.

Cause I'm a control freak, saya pilih shopper harus konfirmasi ke saya untuk ganti belanjaan saya.

Fitur ini walaupun membantu, tapi agak rempong ya. Bayangin orang belanja Rp 500 ribu. Barangnya bejibun. Dia harus mikir: oke kalau barang X boleh dipilihin, tapi barang Y harus konfirmasi. Still pretty neat, eh?

- Fix Ongkir
Menurut presentasi sih ongkir fix. Di atas pembelian tertentu bisa free. Kemarin saya belanja total sebelum voucher Rp 317.000 dan onngkirnya udah nol. Nice, right?

- Gampang ganti supermarket.
Ini enggak saya cobain, karena menurut saya, Farmers Market udah paling bagus barang-barangnya dibanding supermarket lain sekitar apartemen. Menurut saya lho. Dan paling deket juga. 

Tapi, menurut pihak Happy Fresh, kalaupun saya udah pilih-pilih barang di cart, saya tetap bisa ganti supermarket dan isi cart nya tetap ada. Buat yang suka pesen Go food, pasti ngerti deh fitur ini memudahkan banget.

- Updated stock
Kata Happy Fresh, mereka update stock supermarket itu 3-4 kali dalam sehari. So, stok barangnya harusnya ada. Pengalaman saya, banyak stok kosong dari pesenan saya. Mungkin karena saya pesen pagi buat dianter sore. Then again, saya langsung dikonfirmasi soal replacement. So no biggie. 

- Voucher
Dan dorongan terakhir yang bikin saya mau nyoba adalah saya dapat voucher 300-100 (pembelian minimal 300 ribu, dapat potongan 100 ribu). Hwehehehehehe... 

Jadilah saya Minggu kemaren nyoba pake Happy Fresh. Awalnya agak sulit, karena masalah slot waktu. Online sih, tapi belanja groceries lebih rempong daripada beli makanan atau ngirim paket. So ada waktu-waktu pengiriman. 

Saya and popo orang spontaneous, jadi belanjanya baru saya mulai Minggu pagi. And guess what? Slot waktu pengiriman yang enak udah kepakai semua dong. Itu adalah waktu-waktu dimana orang-orang pasti masih di rumah, kayak jam 10-12 atau jam 21-22.

Tuh, buat tomorrow aja udah penuh slotnya. However, keep in mind that I don't know how many people can fill up one time slot. 


Yang bikin saya tambah kaget, slot pagi dan malem itu bisa penuh sampe 2-3 hari ke depan. Wow! Ternyata banyak juga yang berencana belanja buat besok atau lusa yah? Setelah diskusi, saya ambil delivery jam 16-17, karena rencana nonton jam 12-15 di bioskop deket apartemen. 

Sempet galau soal delivery slot. Langsung saya ganti dari jam 15-16 ke jam 16-17. Gantinya gampang, no huss no fuss. Ada pilihan ganti item juga, tapi enggak saya pakai.


Pilih-pilih yang mau dimasak sore itu, trus pilih pembayaran COD. Ada debit and CC juga, tapi masih enggak kebayng, gimana kalau udah dibayar pake CC, terus barangnya enggak ada. Terus totalannya berubah. Ah... sudahlah yang simpel aja, COD. 


Setelah confirm order, saya dapet timeline yang ngasi tahu posisi shopper. Karena saya order jam 11 dan dikirim jam 16, otomatis order saya lama enggak bergerak. Kayaknya mereka belanja mepet-mepet, biar produk poultry nya lebih fresh.

See the time line? Di bawah order status. And yes, we can pick the supermarket. 


Hasilnya apa, selama nonton Wonder Woman, saya megang hp terus. Takut ditelpon sama shopper. Hahahahahaha... orangnya emang parnoan. 

Saya baru ditelpon pas sampai rumah, sekitar jam 3. Si mbak shopper emang keliatan udah professional. Waktu dia telp saya ngasi tahu barang-barang yang enggak ada (and it's quite a lot), dia udah nyiapin penggantinya. Kira-kira gini:

Shopper: Bu, nata de coco merk inaco enggak ada. Saya ganti merk lain boleh? Wong coco? 
Me: oke mbak. Asal harganya enggak jauh beda. 
S: cap cay box enggak ada bu. Ini ada yang buat sop, isinya wortel, buncis, cabe, jamur. Bisa buat cap cay juga. 
Me: oke mbak. 
And it went on sampai semua pesenan saya ada replacements nya.

Meanwhile, saya bisa mantau semua activity shopper via app. Barang apa aja yang udah dibeli, apa aja yang udah diganti. Mungkin karena yang dibeli banyak ya (enggak kayak go-food yang cuma sejenis), saya jadi worry. Akhirnya tiap menit ngecek app. Oke yang ini udah dibeli, ini replacement nya itu. Have I mentioned that I'm a control freak? 

Update di app yang bikin saya deg-deg ser. Enggak tahu kenapa. Emang gampang panik kayaknya.

Replacement juga langsung ter update, plus keterangan harganya. Di sini keliatan kalau barang replacement lebih murah dari barang yang saya pesen.


Enggak lama, ya iyalah enggak lama, lha ke apartemen saya cuma jalan 2-5 menit, saya dapat telpon dari nomor berbeda. Happy Fresh emang bilang kalau shopper dan rider mereka beda orang. Popo turun buat ambil and bayar, dan waktu naik bawa tas kain warna ijo yang saya yakin disukai emak-emak buat bawa baju ke londrian.
Diiket kenceng.


Gede yah tasnya. Bisa lah buat bawa laundry 5 kg.


Waktu buka, surprised juga sama packaging nya. Telur dipack sangat amat. Ayam dan ikan  dipack terpisah pakai es batu. Sayang nya saya enggak beli barang selain makanan. Jadi saya enggak tahu apa nanti dipisah atau enggak. Tapi kalau ngeliat cara packing belanjaan saya, I believe they will separate non-food item with food item.

Belanjaannya sama masih ada mie instan di dalam tas.

eggs were safe and secured.

Yang di dalam plastik putih itu fresh item and daging-dagingan. They included ice as well.


Total belanja saya jadi turun dari Rp 217.000 jadi Rp 214.000. Mungkin karena banyak barang pengganti yang harganya lebih murah. Di app keliatan sih. Tapi lieur liatnya karena itemnya ada banyak.

Stock puasa kalau telat bangun sahur.


Tapi salah satu ketakutan saya kejadian sih. Karena panik ditelpon, saya jadi cepet banget ambil keputusan. Salah satunya kentang kecil yang harganya Rp 20.000. Pas udah tutup telpon, baru kepikir, kenapa enggak minta kentang lokal aja yang gede-gede and lebih murah. Yah, emang saya tipe yang lama mikir juga sih. Of course I could always call the shopper again, tapi udahlah. 

Semua price tag dicopot. Jadi saya enggak tahu harganya berapa. Hahahaha... Waktu presentasi Happy Fresh emang bilang kalau akan ada barang yang lebih mahal ada yang lebih murah. Masuk akal sih buat saya. 

See the missing price tag?


Overall, lucu juga belanja pakai Happy Fresh ini. Saya sih tertarik pakai lagi, terutama pas lelah atau pas Zedd sakit, yang mana saya enggak mungkin ngeluangin waktu buat ke bawah-ngantri di kasir-muter cari barang. Masalah perbedaan harga, mungkin memang ada beberapa item yang lebih mahal. 

But if you really think about it, misalnya saya sendiri yang belanja ke supermarket saya akan ngabisin waktu lebih lama karena window shopping. Atau misalnya belanja sekalian ke mall, maka saya akan ketambahan parkir, jajan, bensin, dan jajan/makan karena lelah belanja. Menurut saya ini juga yang bikin bisnis jasa titip, mau itu Ikea, H&M, Uniqlo, Miniso, dll, lagi naik daun banget sekarang. Kalau kata orang Jawa sih, tibane bak buk alias sama aja. 

Moga-moga saya dapat kesempatan buat nyoba beberapa app groceries lain yang udah nangkring di hp. Nungguin banyak promo pastinya.

One last thing that I'd like to add adalah, ini buatan orang Indonesia lho, dan udah ada di beberapa negara ASEAN. Ikut bangga yak. Jadi enggak app luar aja gitu yang masuk sini, tapi app Indonesia juga dipakai di luar. Jadi bayangin kalau Bukalapak/Tokopedia atau Traveloka dipakai orang-orang di luar Indonesia dan ngalahin E-bay atau Agoda gitu. Wouldn't that make us proud as Indonesian? And don't forget Damian in AGT. ;)



Update:
Beberapa hari kemudian saya pakai Happy Fresh lagi karena dapet voucher free delivery. Murah banget ya saya? Anyway, I tried it for the second time, kali ini ke Carrefour dekat kantor saya. Saya enggak dapat plastik ijo gede itu, tapi dapet 3 kresek Carrefour. Jadi agak ribet bawa pulangnya.


Shopper juga enggak konfirmasi waktu barang habis. Yah, emang tergantung personal juga sih ya. So far sih, saya lebih suka sama shopper yang belanjain saya di apartemen.



Di belanja ke dua ini, saya lebih banyak belanja sayur dan memang dipilih sesuai notes saya sih. Salah satunya waktu saya minta beliin tomat yang masih muda. Harga juga enggak dilepas. 

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...