Sunday, May 26, 2013

Saos hidup!!!

Kejadiannya sudah agak lama, cuma mau nulis enggak sempat-sempat… Oh kerjaan… (。-_-。)



Aniwei, waktu itu saya dan Popo lagi dinner ala kaki lima gitu, trus Popo cerita kalau Rio si adek telpon dia hari itu. Jadi Rio itu menyampaikan kalau si Saos, ular kesayangannya Popo, tewas digebukkin warga. 



Saya masih ingat sih kalau sebelumnya Popo dapat kabar Saos hilang. Gara-garanya kaca kandangnya retak, eh trus dijebol sama Saos. 



Saos itu ular phyton pohon (katanya sih, saya juga enggak ngerti) yang sudah dipelihara Popo selama 6 tahun. Saya masih inget sih dulu waktu saya main ke rumah Popo jaman-jaman awal kuliah, si Saos masih segede cacing, mlungker di batang pohon artificial di kandang kacanya. Lebih mirip hewan diawetkan sih waktu itu, lha dia enggak banyak bergerak. Katanya sih Saos sekarang udah sebesar lengan saya. Bukannya saya enggak pernah main ke rumah Popo selama 6 tahun, bukan. Cuma di antara kucing, iguana, dan reptil lainnya, saya enggak ingat mana yang mana.



Popo sedih banget, secara bertahun-tahun dia ngerawat si Saos. Saos juga satu-satunya yang masih hidup setelah si Spencer, ular phyton nya Popo, meninggal keselek tikus di kandangnya yang sempit. 



Spencer lebih gede daripada Saos. Itu loh, jenis ular yang sering buat poto-poto di kebun binatang. Kalau albino, yang warna putih kuing, lha Spencer versi non-albinonya. Jadi waktu itu Spencer makin besar, tapi Popo enggak sempat-sempat ganti kandangnya. Jadilah tikus yang dia makan nyangkut di ujung kandang dan enggak bisa lewat. Spencer pun keselek. 



Kembali ke Saos. Sekitar seminggu kemudian, masih berduka, Popo dapat kabar lagi. Guess what? Saos HIDUP LOH!!! ヽ(;▽;)ノ



Jadi ternyata Saos enggak di gebukin warga, tapi ditemukan trus dijual. Berhubung Popo tinggal di komplek, ya pasti ketahuan lah yaaa… Saos pun dicari sampai ke Sleman sono. Ketemu, dan ditebus sama Papanya Popo. 



Kabar terakhir dari Rio, Saos trauma. Sekarang kalau dideketin dia menjauh, padahal dulu mendekat. Semoga Saos cepat normal lagi. 



Selain Saos, masih ada beberapa ular lagi di rumah Popo. Ada yang punya Rio, bahkan Rinda. Rinda, si adek perempuan yang masih SMP, waktu itu deketin ular peliharaannya terus di gubetin di pergelangan tangannya, jadi kayak gelang kecil gitu. Ealah dek, kenapa enggak swarowsky aja ( ̄▽ ̄)… 



Anywho, kagum deh sama keluarga Popo yang bisa enggak takut sama ular, saya sama si Tante (mamanya Popo) sih teteup merinding ajah…

Sunday, April 28, 2013

Pacar yang 'dewasa'

Tadi pagi baru ngeliat infotainment, Christy Jusung nikah lagi sama Jay Alatas, yang kalau kata naratornya sih lebih tua 25 tahun. Kata mantan suami si mbak Christy, Hengky Kurniawan, dia sih ikut seneng Christy dapat yang lebih dewasa.



Hhhmmm… Kalau itu definisi dewasa, jadi ingin ngomongin si pacar. Popo itu umurnya sama kayak saya, lahirnya masih di tahun naga, tapi mukanya itu ‘dewasa’ banget. Suaranya juga 'dewasa’, not a big deal for me. Yang bikin saya agak gimana itu, karena perutnya juga udah mulai 'dewasa’, sama papa saya udah saingan coba ( ̄ー ̄)



Soal suaranya yang dewasa itu, bukan karena dia udah seperempat abad, tapi dari SMA juga udah gitu suaranya. Saya masih ingat waktu SMA, Popo telp ke rumah Bude, waktu saya masih tinggal disana. Yang ngangkat Mbak Yessy, sepupu saya. Mbak Yessy dengan pede jawab, “oh iya Nadia nya ada. Darimana ya Pak?” Mungkin habis itu mereka mengalami awkward moment kali yah? Mba Yessy ngomong dengan awkwardnya, kalau dia mengira Popo itu bapak-bapak. Popo juga abis itu ngomong, “aku dikira bapak-bapak.” ( T_T)\(^-^ )



Kejadian selanjutnya itu beberapa bulan terakir ini. Popo sakit dan cek darah di rumah sakit. Waktu disuntik, perawatnya tanya, “usianya berapa?” Popo jawablah dengan jujur. Muka si mas perawat langsung menganga gitu dong. “Serius Mas?” Buset dah, pake nanya serius apa enggak lagi. Dengan polosnya lagi, si mas perawat komentar lagi, tanpa diminta, “saya kira 30an.” ( T_T)\(^-^ )



Tapi yang paling lucu mungkin yang tadi siang. Waktu saya datang ke kantor Popo waktu makan siang. Oh how I love having holiday on Monday… Nah pergilah kami ke kantin pegawai di area perkantoran yang banyak bule nya itu, sambil gandengan tangan dong. Kan romantis #halah. Nah sambil gandengan itu saya ngobrol sama Popo soal kami yang enggak cocok gandengan di area itu. Satu, itu area kantor, bukan bioskop. Dua, dia kelihatan tambah 'dewasa’ pakai seragam kantor dana celana bahan. Saya pun menceritakan ke dia soal kejadian beberapa waktu lalu, waktu saya dan Mama ke mall siang bolong, lihat Bapak-apak berseragam gandengan sama ibu karyawan. Si Mama dong langsung reflek bilang “mereka selingkuh.”



Dan lagi asyik debat soal teori “bapak-bapak kalau gandengan itu selingkuh,” dua orang mbak-mbak yang berjalan di depan kami langsung menoleh ke belakang, terus ngelihat kami dengan agak gimanaaaaaaa gitu… Waduh, ini mbak kayaknya ngira saya selingkuhannya Popo deh, dengan muka 'dewasa'nya itu ( ̄▽ ̄)



Intinya, mau dibilang umur 30 kek, 40 kek, bapak bapak kek, om om kek, doesn’t change a fact that I love him. (#^.^#)

Why I love Fela

Sunday, April 14, 2013

5 Months already? Really??

Whoaa…enggak kerasa udah lima bulan sejak saya ngepost terakhir. Udah eneg nulis pakai bahasa Inggris, jadi buat blog mau nulis pakai bahasa Indonesia tercinta ajah. Banyak yang terjadi dalam lima bulan. Hhhmmm ringkasannya sih:



1. Akhirnya saya dapat pekerjaan yang saya impikan, or the job that I though I would do. Kalau inget jaman kecil, lucu juga. Seumur-umur enggak pernah saya mimpi kalau tulisan saya bisa jadi duit. Mending kalau dari kecil saya hobi nulis, boro-boro… Nulis juga baru mulai waktu kuliah sasing a.k.a tahun 2008. It’s amazing how Allah can turn my life around. Moral of the story-nya, percaya aja sama Allah, always do your best in everything, and I mean EVERYTHING… Karena enggak ada yang pernah tahu apa bakat dan skill tersembunyi seseorang. True story loh. Dulu saya gaya pengen jadi dokter, doyan ngerjain aljabar matematika, jatuh cinta sama reaksi kimia (jadi kangen CH3COOH), bete sama bahasa Indonesia, benci abis sama menggambar+mendesain, dan sekarang akhirnya sampai juga ke mimpi dadakan saya (baru punya mimpi ini abis lulus kemarin): “ingin nama terpampang di headline koran”…. Aminnnnn….



2. Masuk ke fase kehidupan yang baru #halah. Cliche? Iya, tapi seriously…. Kadang saya nonton tv, lihat tempat jalan-jalan, trus langsung mikir, oke nanti jalan-jalan kesana sama Mama, Papa, Sipa. Baru tersadar, eh udah enggak bisa yah? Papa sih udah pensiun dan libur terus. Tapi saya sama Sipa, liburnya aja udah beda. Dan dalam beberapa bulan ke depan sampai entah kapan saya diangkat jadi pegawai tetap, saya cuma dapat libur 1 hari dalam seminggu. Tanggal merah juga enggak ngefek buat kerjaan saya. Gimana mau liburan? Kalau lihat ke ‘belakang’, saya cukup puas jalan-jalan keluarga, karena Papa memang sering mengajak kami liburan. But to realize that it is no longer possible, it’s a whole other issue. While some people says “seize the moment”, yang artinya kira-kira: hargai waktu yang kita punya, daripada udah hilang trus baru menyesal? Kok jadi panjang yah? Aniwei, saya jadi sadar, I seized the moments. But can we really satisfy on them and not looking for more moments?



My life is still as unpredictable as ever. Dapat temen baru, kamar baru, kubikal baru, dan masih punya banyak pertanyaan dan kebingungan. Bismillah… All iz well…

I know I might not have tons of friends, but I’m grateful to be surrounded by the best ones.

Nadia S Nailufar

Monday, November 5, 2012

Dua tontonan, Bond vs Ababil

Setelah sekian lama enggak update ini tumblr dan nulis beberapa update yang berakhir jadi draft, I finally find the mood to write again. Yah my life is starting to get better, so mood datang lagi. Ditambah kejadian malam minggu kemarin yang lucu, jadi pengen cerita…



Jadi Skyfall, film terbaru James Bond baru-baru aja keluar. Sebagai pecinta film dan James Bond, Saya dan Popo berangkat nonton di bioskop paling dekat dari apartemen. Kami berangkat setelah sholat maghrib, padahal filmnya dimulai jam 18.15. Yah mending telat deh. Akhirnya setelah telat 5 menit dan dapat kursi front row, kami pun menikmati malam minggu itu. Not bad, masih bisa nonton prolog-nya sedikit.



Nah, setelah prolog, seperti film James Bond pada umumnya, diputarlah opening ala James Bond dengan Adelle yang menyanyikan OST-nya yang, juga selalu, berjudul sama dengan judul filmnya. Well I’m not a fan of Adelle dan openingnya itu dark banget. Banyak tengkorak dan teman-temannya. Jadi lah mata saya jelalatan. Dannn… waktu itu lah saya menemukan mereka. Satu pasangan lain selain saya yang duduk di front row… paling pojok. Hehehe, jadi kepo, saya justru mengamati mereka. Walaupun saya di tengah, saya tetap bisa mengamati mereka dengan jelas, secara yang di front row ya memang cuma Saya, Popo (yang serius banget nonton, sampai enggak bisa diajak ngobrol), sama pasangan itu. 



Seperti sudah saya kira, pasangan itu… ehmm… yah gitu deh. Mereka sibuk bikin film sendiri. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Bukan mau sok suci atau apa, tapi heran campur kagum. Itu badan mereka enggak sakit apa yah ditekuk-tekuk begitu? Mereka harus merendahkan posisi duduk mereka supaya enggak kelihatan sama penonton dari atas. Terus, di antara seat kan ada sandaran lengan yang permanen, bukan yang bisa di angkat. Dari jauh pun terlihat posisi mereka sangat enggak nyaman. Haduh… demi yah, demi… f^_^;)



Si cowok, yang kelihatannya do the hard work, sadar kalau saya lihatin. Dia balik badan melihat ke arah saya. Ya saya innocent aja, wong mereka yang harusnya segan. Tapi terus dia balik badan lagi dan bikin film lagi ( ̄▽ ̄). Mungkin dia enggak begitu jelas melihat saya karena jarak yang agak jauh atau memang mereka bebal. Yah anywho, Saya dan Popo jadi ada dua tontonan. Saya enggak habis pikir kok bisa itu badan ditekuk dan ditabrak-tabrak gitu? Popo enggak habis pikir kok bisa mereka mengabaikan film James Bond yang keren itu? Mereka akhirnya berhenti setelah ada 2 ababil funky yang masuk di tengah film dan duduk di front row juga.



Ketika film selesai, Saya lihat pintu keluar ternyata cuma ada satu dan itu ada di sebelah kiri saya, which means si pasangan mesum itu harus melewati Saya dan Popo. Dari ujung mata, saya lihat Mereka yang tadi nya udah berdiri dari tempat duduk dan terburu-buru mau kabur akhirnya mematung. Ehehehe, kami pun iseng enggak mau keluar sampai mereka lewat. Si cewek gelisah dan akhirnya buru-buru melewati kami sambil menutupi wajahnya dengan rambut, udah kayak pelaku kriminal aja (⌒▽⌒). Sampai di luar pun mereka masih terburu-buru sampai nabrak sana sini. In short mereka sadar kalau Saya dan Popo menangkap basah mereka, mereka malu, terus cepet-cepet deh. Ternyata mereka ababil loh, kelihatannya sih anak SMP-SMA gituh. 



I really don’t wanna judge or anything, but I think it’s so stupid to go to a box office movie with full audience and do such thing. Yah semoga mereka belajar lah, dan semoga pelajarannya itu; kita harus menahan diri dan berpacaran sewajarnya, bukan; kita harus cari film atau tempat yang lebih sepi (^_−)−☆.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...