Saturday, January 13, 2018

Tips Mendekor Apartemen Sempit

Ngomongin soal ngedekor apartemen atau rumah, saya mungkin enggak ada apa-apanya dibanding buibu home decor influencer di Instagram yang punya puluhan sampai ratusan ribu followers.

Sebut aja @bebydevlin, @babydinata, @hanibii, @nugrohouse, dan masih banyak lagi. Yang saya sebut itu, buibu yang lahan rumahnya juga terbatas, ya

Tapi saya tetep berharap tips and trik mendekor apartemen dari saya ini bisa berguna. Saya hidup di apartemen super kecil, lebih kecil dari ruang display Ikea yang 36 m2. Saya sering papasan dengan sesama ibu-ibu muda (eciyeh, pede amat). Jadi, menurut saya, banyak yang kayak saya, new small family who couldn’t afford a proper house but still wants to live in the middle of this city. 

So, for those women, this post is for you. 

1. Buat yang Punya Bayi-Balita, Pilih Stroller Kecil

Banyak banget bayi di apartemen saya. Saking banyaknya, sampai ada posyandu dan 2 daycare. Jadi stroller ini pasti bakal jadi masalah. 

Saya tahu, semua ibu pasti pengen anaknya nyaman. Dan nyaman itu identik sama stroller gede. Tapi apartemennya kan kecil. Ya mau enggak mau, harus adapt. 

Saya pernah nulis sekilas di post bawah ini,


Ibu yang tinggal di apartemen, lebih baik milih stroller kecil, lightweight stroller, atau travel friendly stroller. Intinya stroller yang kalau dilipet jadi kecil. 
Ini posisi enggak dilipet. Mayan makan space, yes?


Ini pas dilipet, much better kan?



Saya pribadi prefer yang bentuknya mirip Combi, Aprica, Joie Sma Baggi/Joie Mirus. Karena lipetnya gampang, kalau dilipet enggak makan tempat, dan bisa full reclined. Jadi bayi newborn bisa rebahan.

Empuknya gimana? Ya, keras lah. Sebelum Combi saya pakai Coco Latte Trip-R yang mantab. Itu kasurnya emang empuk. Jadi saya akalin dengan beli alas stroller. Saya beli yang standar di MBFair. Tapi kalau budgetnya ada sih, ada lah alas stroller yang mihil nan empuk.

Lebih jelasnya baca di sini, Review Combi Cozy.

Itu juga yang saya tekankan, hidup di tempat sempit alias living small ini, mahal lho. Alas stroller itu baru satu contoh. Ke bawah, akan lebih banyak lagi.

Anywhoo, Zedd bisa bobo nyenyak bahkan tanpa alas stroller. 

Pilihan stroller lain, menurut saya adalah MacLaren, karena kecil dan bisa full reclined setahu saya. Ada juga beberapa temen daycare Zedd (daycare nya di apartemen, jadi temen daycare Zedd juga tinggal di apartemen, beda tower aja) yang pakai stroller Pockit. Walaupun kecil, saya kurang suka karena rempong lipetnya dan anaknya enggak bisa tidur rebahan.


2. Customize Your Furniture 
Walaupun ada beberapa dekorasi rumah yang emang mungil dan bisa langsung dibeli,  kalo buat furniture gede, saya milih custom. Misalnya kayak sofa, lemari. 

I learned it the hard way. Waktu itu saya pesen sofa 2 seater di pameran di Mall Ambassador. Murah emang, tapi jadinya kegedean dan enggak pas sama sekali. Setelah denial beberapa bulan, akhirnya sofa itu kami kasihin ke kerabat. 

Belajar dari situ, saya kapok beli furniture jadi. Apalagi saya pernah ngontrak di 2 apartemen sempit, keduanya punya kolom yang nongol. Jadi dindingnya enggak rata. Thus, ya harus custom.

3. Make Them Fit

Di post saya di bawah ini,


Saya cerita susahnya nyari kontraktor buat kitchen set. Alasannya adalah apartemen kami terlalu kecil. Saking kecilnya, ukuran-ukuran standar pun enggak masuk.

Saya ditolak beberapa vendor Kitchen Set karena saya mau lebar kabinet bawah itu 50 cm. Kenapa ditolak? Karena standarnya 60 cm. Di Ikea pun lebar kabinet bawah 60 cm. 

Saya ngotot ukuran 50 cm itu karena emang lebar dapur kami cuma segitu. Kalau dibikinin kitchen set dengan lebar 60, lha ya bakal nongol dan enggak pas di apartemen.


Lihat tembok sebelah pintu? Itu yang saya maksud lebar 50 cm. Kebayang kan kalo itu nongol 10 cm? Jadi nabrak pintu.


Ini versi close-up nya. Itu aja masih nongol dikit mejanya. Harusnya table top segaris sama backsplash. Tapi nanti sink-nya enggak muat. Ah dilema hidup di apartenen mini.


Padahal point nya custom kan biar pas. Alhamdulilah setelah nyari dan nyari, akhirnya ketemu vendor yang mau ngikutin mau kami. 

Sofa juga gitu, saya ditolak karena enggak ada yang mau ngikutin lekukan dinding. Lha, kan namanya custom yak? Mau dilekukin kayak apa, harusnya bisa. Apalagi ini cuma kolom nongol dikit, bukan yang sofa melingkar gitu. Alhamdulilah setelah nyari dengan sabar, ketemu vendor yang mau beneran custom sofanya.

Tahun depan saya mau custom lemari baju. Karena lemari baju yang sekarang itu beli dan, lagi-lagi, kedegean. Semoga enggak ada drama-drama ditolak lagi. Amin...

Pokoknya harus kekeuh cari kontraktor yang mau ngikutin ukuran ruangan apartemen. 


4. Kurangi Barang
Nah, ini saya sedikit ambil dari prinsipnya Marie Kondo atau dikenal juga sebagai Konmari. Nanti lengkapnya di bawah ya soal si Konmari ini. 

Bertentangan dengan prinsip Ikea yang maximizing storage, saya milih menggunakan metode Konmari, yaitu memilih hanya barang-barang yang saya sukai aja yang ada dalam rumah. Menurut saya, enggak usah dimaksimalin lah. Puyeng euy lihatnya. 

Jadi prinsip saya soal storage adalah:
- Semua barang harus kelihatan. 
Saya tahu ada beberapa orang yang rekomen untuk nyimpen tas dalam tas. Nyimpen barang di bawah tempat tidur atau dalam koper. 
Ini kabinet atas dapur. Sebenernya ada space lumayan dalem. Tapi saya pilih enggak maksain pakai tempat itu. Biarlah kosong, yang penting bumbu bisa diakses. And it looks pretty too...



This is a big no for me. 


Itu pontensi buat bikin barang itu jadi junk. Saya pernah coba, and guess what, enggak pernah ada yang inget kalau ada barang di situ. Jadi, instead of using that stuff, I ended up buying a new one. 

- Jangan full
Yang bagian ini, saya masih suka berantem sama Popo. Jadi saya belajar bahwa lebih enak kalau space itu enggak dipenuhin. 

Misalnya lemari baju, mending jangan full karena susah kan narik bajunya. Atau rak piring, jangan semua diisi, karena bakal susah kalau ngambil piringnya. Sisain space kosong sekitar 30 persen lah. Supaya enak diliat dan lebih gampang kalau mau diambil.

Menurut Popo, saya buang-buang space. Menurut saya, Popo terlalu maksain space.


Meja tv versi Popo

Meja tv versi saya.


Anywhoo, dengan tipikal storage kayak gitu. Saya punya jumlah maksimal barang-barang yang ada di dalam apartemen. Maksimal piring, maksimal gelas, maksimal baju, maksimal sepatu, tas, dll. 

Kalau saya belanja dan space nya mulai penuh, itu tanda saya harus ngebuang beberapa barang lama. 

Dan ternyata ngurangin barang itu susah saudara-saudara. 

Di bukunya Konmari menekankan bahwa kalau pake metodenya, maka kita cuma perlu bebersih 1x seumur hidup. Bukan bersih-bersih kayak nyapu gitu yah. Tapi bersih-bersih besar yang dilakuin setahun 2x gitu lho.

Tapi saya belum bisa tuh kayak Konmari. Mungkin karena saya dan Popo masih enggak sepaham. Tiap mau buang barang, kami selalu beda pendapat. 

Konmari pun udah memprediksi ini. Makannya dia nulis di buku The Life Changing Magic of Tidying Up, mulai lah dari baju, terus buku, baru momento-momento yang berharga.

Kasus saya problemnya di buku. Popo enggak mau buang/donasikan buku-bukunya. Padahal saya saksi hidup kalau itu buku enggak pernah dia sentuh. 




Akhirnya rak buku ini keluar juga dari apartemen minin+ buku-bukunya. Alhamdulilah enggak ada yang kebuang. Rak buku pindah tangan ke sahabat saya, dan buku nyebar ke beberapa teman-teman kami. 

Hidup di apartemen mini kayaknya akan mendorong saya buat mulai beli buku online trus dibaca di handphone atau nebeng baca di tablet-nya Popo ajah.


Ketakutan-ketakutan kayak, wah nanti kalau aku mau baca gimana? Kalau aku mau baca ulang gimana? Di situ lah Konmari minta buat megang buku itu, trus bener-bener pikirin “does this item spark joy?” 

Kalau iya, simpen. Kalau enggak, thank the book, then let it go to someone or someplace else. 

Teorinya sih gitu. Tapi Popo enggak bisa, secara dia enggak baca buku Konmari. 
-____-“



Ini beberapa hal yang sulit dibuang tapi akhirnya kami buang: atas, bungkus sim card yang kayaknya penting. Tapi yaudalah, povider or internet pasti punya infonya juga kan?

Bawah, pentunjuk penggunaan jam tangan saya dalam belasan bahasa, plus bungkusnya yang unyu. Kelengkapan barang yang dibutuhkan KALO barang itu mau dijual. Jam tangan saya basic and just a regular watch, kecil kemungkinannya dijual. Beda sama dus+printilan handpone yang pasti dijual. 




Well it’s a learning process. Menurut saya, kondisi apartemen kami sekarang udah jauh lebih baik dibanding apartemen kami waktu masih pengantin baru. Walaupun, masih banyak yang harus kami pelajari dan ubah to make this apartment as home.

Hidup di tempat sempit berarti ngubah gaya hidup ke minimalism, less stuff. Jangan malah ngulik bikin storage dan berharap apartemen bisa menampung semua barang kayak dulu waktu tinggal di rumah. 

Konmari nulis di bukunya, pernah enggak sih kalian ngerasa lengen bersih-bersih waktu lagi ada deadline? Kalau jawabannya pernah, well then you’re just like most people. 

Kebanyakan orang procrastination dengan bebersih. Menurut Konmari, ini karena rumah yang terlalu penuh itu kinda hide your problems. I might said it wrong, just read the book and you will be amazed. Hoalah, mung dengan resik-resik, uripku iso burbah ngene? 

Monday, December 11, 2017

Sendirian

It’s funny how I can’t be alone yet at the same time, I’m a little tired of socializing.

Jadi sejak awal Desember, Zedd di Jogja sama Eyang. Alasannya karena musim hujan ini, saya sering susah dapat ojek, berefek ke jemput Zedd yang telat. Alasan kedua adalah karena Zedd lagi sering sakit.

Yah, namanya juga di daycare, ketularan-sembuh-ketularan sama anak lain. Saya sendiri udah beberapa kali izin kantor karena Zedd sakit.

Akhirnya, diputuskan titip dulu ke Eyang selama Desember. Nanti tahun depan balik Jakarta lagi. Apalagi saya bakal ada di Jogja dari 20 Desember. Jadi pisahnya enggak lama-lama amat lah. 20 hari aja, but who’s counting? Hahahaha...

Siapa sangka, seminggu Zedd di kampung, Popo disuruh dinas ke kebun. Ealah...

Long story short. Saya sendirian selama seminggu. Beneran deh, rasanya aneh banget. Padahal saya dulu sempet ngekos dan tinggal di asrama kok. And I actually loved being alone.

Dulu, abis kelar kuliah/kerja, saya bakal bungkus makanan, terus makan sambil streaming serial di laptop. Me-time banget lah. Sampai-sampai genk saya waktu itu ada yang protes. “Ayo dong, makan bareng. Kok makannya di kamar terus?”

Sejak saya nikah tahun 2013, saya pikir-pikir, saya jarang banget sendirian. Selalu ada Popo atau Zedd. Minimal salah satu lah.

Terus sekarang 22nya enggak di Jakarta. Ternyata rasanya sepi. But, at the same time, nostalgic.

I remembered a quote I found,

(Pic from Instagram @motherbabyind)

Isn’t life funny? Being a mom has made me more complex. Nevertheless, I miss Popo and Zedd so bad. But I’ll still make the most of my Me-Time.

Friday, November 17, 2017

Review Diet Herbalife (Not A Supplier or A Coach)

Before this, diet has never came across my mind. Karena dari kecil saya kurus. Popo saksinya, dari awal pacaran dulu saya makan dikit, sampe dia risih liat saya makan seiprit-seiprit.

Tapi akhirnya saya mulai ngerasa kelebihan berat badan. I believe the trigger are pregnancy and breastfeeding. Selama hamil dan nyusui (total 2 tahun 9 bulan) saya bisa makan 5-6x sehari. Dan tetep kurus. Namanya juga nyusuin. Pas hamil juga saya tipe yang gede perutnya doank.

Duh, jaman hamil di Jogja, jam 11 malem itu bisa minta dianterin Yang Kung beli gudeg mercon Yu Tinah, nasi goreng Bu Ita, gudeg ceker. Banyak lah. Enggak heran Zedd mirip Yang Kung, secara beliau yang nurutin ngidam-ngidamnya.

Anywhoo, setelah ngerasa terlalu berat, difoto jadi jelek, nyari baju juga susah, mulai kepikir untuk diet. Tapi ya gitu, cuma berhenti sampai sebatas niat doank.

Sampai ada satu waktu, teman kantor saya, Arrum, ngajakin, yuk ikut diet Herbalife. Kebetulan ada lagi temen kantor kami yang coach Herbalife. Akhirnya saya ubah niat diet yang udah ada lamaaaaaa, buat dieksekusi.

Pertama kami ditimbang dan diukur sama Coach Risia. Enggak cuma beratnya, tapi ukuran pinggang, payudara, sampai kadar air dalam tubuh. Banyak lah pokoknya. Beberapa istilah juga saya enggak paham.

Yang saya paham,
1. Saya harus turun 6-12 kg untuk mencapai berat badan ideal saya.
2. Metabolisme saya kayak orang umur 39 tahun, padahal nyampe 30 aja belum. Huhuhu...

Coach ngitung-ngitung dan keluar lah angka ajaib saya yaitu 1300 kalori. Meaning, I can only eat that much for one whole day.

To get the idea how much that is,
1 hamburger itu 500 kalori.
1 piring lontong sayur sekitar 537 kalori.
1 mangkuk mie rebus 310 kalori.
1 gelas susu itu sekitar 61 kalori.
1 gelas teh itu 80 kalori.

Jadi kebayang ya kalau sarapan lontong sayur - makan siang nasi rames - sore ngemil pop mie karena ujan dan pengen anget-anget - malam makan sate ayam.

Ditambah minuman manis macam Nu Green Tea atau Teh Kotak, bisa 2000an kalori per hari, kelebihan kalori nya bisa 700an kalori! Enggak heran saya menggemuk. Hahaha...

Metode dari Coach Risia awalnya terlihat enak banget.
Pagi minum shake Herbalife
Siang makan biasa
Sore minum shake
Malam makan biasa

Ini lebih enak dibanding metode WRP yang pernah saya coba diet iseng waktu zaman kuliah.
Pagi minum WRP
Jam 10 makan cookies
Siang makan
Sore makan cookies
Malam minum WRP

Metode ini enggak cocok buat saya karena saya enggak doyan cookies dan bakal laper di jam-jam kritis. Nah, metode Coach ini makannya 2 kali, jadi saya tertarik. Ternyata saya salah. Metode ini emang enggak terlalu menyiksa dibanding yang sekali makan, tapi enggak mudah juga.

Karena menu makan saya fix, antara nasi/seporsi sayur+ayam/ikan. Sounds good, right? Tapi harus dilihat juga pantangannya. Enggak boleh makan makanan lain selain itu. Jadi telur, daging-dagingan, sea food (kecuali ikan), tepung-tepung, lemak, semua enggak boleh. That includes fruits!

Selama ikut program 10 hari itu, saya mayan menderita karena bosan dengan makanan yang itu-itu aja. Mungkin karena enggak sempat masak sendiri juga, ya. Akhirnya sempat cheating beberapa kali.

Saya bukan orang yang disiplin, tapi diet ini saya ngikutin aturan. Karenaaaa SAYANG DUITNYA!!!

Arrum selalu ngingetin, “bayangin, cuma gara-gara lu cheating Indomie yang harganya enggak seberapa, program Herbalife 400 ribu ini bisa melayang.”

Dan terbukti, metode “sayang uangnya” itu berhasil. Tiap mau cheating, duh pengen makan kulit nih. Inget 400 ribu, inget 400 ribu. Hahahaha...

Terus

Hasilnya: SAYA TURUN 2 KG DALAM 10 HARI! HORE!!!

Walaupun sukses, saya memutuskan buat enggak lanjut program Herbalife karena beberapa alasan. Pertama pastinya karena dana yang enggak mumpuni. Kedua karena saya enggak tahan dengan batasan-batasan makanan yang ditetapkan.

Sempet mikir mau ganti metode keto diet aja, karena diet ini basisnya makan lemak. Tapi diliat lagi, beneran no karbo. Berarti enggak boleh nasi, kentang, tepung bumbu kobe gitu kan? Waaahhh alamat gagal lagi itu sih. Secara saya anaknya tepung and nasi banget.

Sekarang saya masih diet dengan cara paling klasik, ngurangin makan. Hehehehe... Selain itu, saya juga masih mempraktekkan beberapa gaya hidup sehat dari Herbalife, seperti:
1. Enggak lagi minum minuman manis, karena bahkan teh dan kopi pun ada kalorinya.
2. Mulai pindah jadi tim dada ayam, setelah jadi tim paha dan tim sayap selama ini.
3. Mulai ngitung kalori, walopun ngawang-ngawang.
4. Mulai sarapan oats setelah sebelumnya enggak doyan. Oats itu bikin kenyang dan rendah kalori.
5. Mulai perbanyak jalan. Saya sekarang turun di seberang apartemen tiap pulang kantor. Jadi saya harus naik turun JPO dan jalan sedikit lebih panjang. Udah beberapa ojek online yang heran. “Udah, Mbak. Saya anterin sampe depan apartemen aja, biar mbaknya enggak usah nyebrang.” Dan selalu saya jawab, emang pengen jalan pak, biar sehat.


Ke depannya, saya berniat bujukin Popo supaya parkir mobil di Basement 2, jadi harus naik 2 kali. Hehehe...

Friday, November 10, 2017

(Rant) Working Moms, Set Your Limit!

Waxing adalah waktunya saya buat nulis, karena lama nunggunya.

Kali ini mau curhat separo share tips separo mau ngebawel. Soal kerjaan. Hahahaha...

I believe I've written so many times both here or in my Instagram about how much I love my job. Still loving it, tapi tetep yah, enggak mungkin tiap hari berbunga dan muncul pelangi gitu, kan.

Jadi Jumat malem, saya lagi makan sama Popo and Zedd, hp bunyi soal kerjaan. Fyi, kerjaan saya itu tipe yang gampang diakses, kasarannya pakai hp juga bisa gitu. Bukan kerjaan yang harus buka laptop gitu, enggak kayak Popo sama ArcGis nya atau Sipa sama Microsoft Excel nya.

Saya bisa-bisa aja sih ngerjain itu right on the spot. But it's Friday night and I was having dinner with my family. So I politely asked my co-worker to wait until tomorrow or Monday. And thankfully, he was fine with that.

Kerja zaman sekarang itu susah, karena email bisa langsung dibuka, sekedar pdf atau word juga bisa akses dari hp. Walaupun mempermudah kerjaan, tapi jadi bikin blur waktu kerja. Apalagi yang kerjaannya bisa dari hp kayak saya.

Pasti ada lah yang mikir, lha itu bisa wasapan, upload foto, dll, masa enggak bisa ngurusin kerjaan yang juga sama-sama dari hp?

Bisa, tapi saya enggak mau. Karena saya udah kerja di jam kantor. Jadi saya bikin batasan sendiri. Di luar jam kantor, sebisa mungkin saya enggak mau ngurus kerjaan.

Tapi saya konsekuen kok, #ngelesniyeee. Kerjaan saya selalu selesai. Alhamdulilah belum pernah miss deadline. Kalau ada yang request di luar jam kantor, itu emang dadakan dari pihak lain, bukan karena saya telat dari batas waktu.

Menurut saya penting buat bikin batasan, terutama karena zaman now itu email bisa lebih mudah diakses.

Pernah dalam suatu event, saya denger petinggi Gojek, seorang ibu 2 anak, share tips serupa. Bahwa harus ada time limit.

Si ibu ini pun ngaku kalau dia kadang email anak buahnya malem-malem karena kebetulan inget suatu hal penting. But still she always wrote ‘you do not need to reply this right now.’ Karena penting buat nge-set jam kerja.

Sure, it’s okay to squeeze in some working time during Zedd’s nap, but disturbing me while Zedd is up and playing with me, is non negotiable.

So far, kerjaan saya sekarang aman-aman aja. Tapi, kalau pun suatu saat saya kena masalah karena membuat batasan waktu kerja, I don’t mind to resign or being fired.

Cause no matter what my position career wise, I am a mother first.

Friday, October 20, 2017

Review Combi Cozy

Right to the point, saya mau review Combi Cozy punya Zedd. Stroller ini adalah stroller kedua setelah saya ngejual Coco Latte Spin-R Zedd, karena enggak cukup di apartemen mini kami.



Harga
Combi Cozy ini saya beli di IMBEX 2016 dengan diskon 30%. Harganya Rp 2.9 jutaan.
It's quite a bargain mengingat Combi itu harganya Rp 3 jutaan ke atas. Yang bagus bisa sampai Rp 6 juta.

Merk
Combi ini merk asal Jepang. Kalau sering liat YouTube and drama-drama Jepang gitu, emang keliatan kalau Japanese tend to live small and simple.

Kayak Youtuber Tokidoki Traveler, Emma, yang pernah tinggal di apartemen seluas 8meter persegi di Tokyo. Mobil juga model Karimun yang emang compact. So, enggak heran kalau merk-merk stroller asal Jepang itu minimalis alias compact, termasuk Combi. Enggak cuma stroller, car seat Combi pun mungil lho. But, mind this article dan yang baru ini.

Merk asal Jepang yang lain itu Aprica, tapi di IMBEX harganya aja Rp 5 jutaan udah diskon. Huhuhu... it's obviously a premium brand.

Bentuk
Sebelum beli Combi, saya udah riset sampe enggak terhitung. Mulai dari website nya The Children Store (distributor resmi Combi di sini) plus YouTube. Website asalnya enggak saya baca, karena pakai huruf Jepang.


(Bobo abis nemenin Mommy kerja.)

Hasilnya sungguh membingungkan. Di mata saya, tipe satu dan lainnya sama aja. Perbedaan yang saya temui cuma ada di berat stroller yang beragam.

Hampir semua tipe Combi bisa one hand fold dan bisa berdiri sendiri. Secara flow, saya bisa gendong Zedd dari stroller, lipet stroller, trus benerin posisi gendongan (sementara stroller berdiri), trus tarik/angkat stroller nya deh.


(Ini tombol/tuas yang buat ngelipet. Just put your hand there, geser pake jempol, tarik stroller, kelipet deh.)

Enggak perlu jongkok sama sekali. Kalau dibandingin sama stroller compact lain ya, macam umbrella stroller atau Babyzen Yoyo sekalipun, orang masih harus jongkok buat ngelipet, ngangkat, atau buka stroller lho. Sementara si Combi ini enggak, saya bisa lipet dan bawa dengan posisi berdiri. So, Combi is definitely a winner for me.


(Tuh, bisa berdiri sendiri dan super ringkes.)

Waktu di IMBEX, mumpung ada staff tokonya, saya tanya dong apa bedanya. Ternyata, mereka juga enggak bisa jelasin. Hahahahahaha...

Dengan budget Rp 2-3 jutaan, yang masuk budget saya itu Combi Cozy. Karena enggak bisa tahu beda tipenya 1 sama lain, ya saya beli si Cozy yang paling murah. Hehehehe...

Kanopinya guede... bisa dilihat di foto kalau itu bisa nutup sampai membentuk sudut 180 derajat. And if you notice, itu bentuk khas Combi. Pas kanopi diturunin, keliatan lah kalo itu Combi.

Buat material, karena Combi Cozy ini termasuk lightweight stroller, ya bahannya sejenis plastik and aluminum gitu. Durabilitynya keren sih. Sampe setahun ini baru ada 1 scratch yang saya temuin.



(Maapin muka bobo Zedd ikutan nongol)



Performa
+ Beneran super light weight. Apalagi sebelumnya saya pakai Coco Latte Spin-R yang lumayan berat ye.

Jadi dulu kalau dorong pakai tenaga, sekarang harus dikurangin tenaganya. Masalahnya pas dorong Combi, kok strollernya enggak gerak. Menurut Popo, itu karena saya terlalu kuat dorongnya, dan arah ndorong agak miring ke bawah. Yang pada bawa stroller berat, coba dibayangin deh. Pas dorong, pasti otomatis kita ada tenaga ke bawah.

Nah, itu yang bikin Combi enggak jalan. Kalau dorong Combi, cukup dorongin tangan ke depan.
Susah dijelasin sih. Tapi semua cuma masalah kebiasaan.

+ Karena lightweight, enaknya bukan cuma pas ndorong, tapi juga pas ngangkat. Gampang banget deh. Beda sama waktu ngangkat Spin-R.

- Kekurangan dari light weight stroller itu masalah jalan jelek. Enggak usah jalan jelek deh, ada tanjakan 2-3 cm aja, stroller akan njungkel ke depan.

Jadi, kalau ada tanjakan, saya injek pijakan kaki di belakang, trus naikkin strollernya.


(Saya tahan batang silver itu pakai kaki, trus naikkin strollernya)

- Kekurangan Combi lainnya ada di fabric. Cepet kotor. Saya pernah liat Combi parkir di daycare Zedd dan lusuh banget. So, I'm actually already prepared for this.

Beda sama si Spin-R yang warnanya emang agak washed out, tapi enggak cepet lusuh.


(Ini foto Oktober 2017, jadi setelah hampr setahun pakai. Belinya IMBEX, November 2016.)

Solusinya ya beli yang warna hitam. Tapi ternyata Combi warna item itu beda tipe dan harganya lebih mahal. 😞

+ Balance Combi ini ternyata bagus lho. Walaupun enggak dikunci (pake foot step itu lho), si Combi ini bisa berdiri dengan tegap dan enggak gampang terjungkal.

Lho? Stroller lain juga begitu bukan?

Nah, saya sadarnya waktu Zedd berhasil manjat stroller itu. Jadi saya siap-siap ke daycare, stroller saya siapin, and then I went into my bedroom to grab some diapers. Pas balik, Zedd udah di atas stroller. Jadi dia bisa manjat, dan Combi enggak mundur atau terjungkal ke depan. Of course this kind of behavior was dangerous and Zedd shouldn't do that. Tapi, untungnya Combi ternyata cukup kokoh buat dipanjat balita berat 11kg.


(Ini Zedd habis manjat sendiri loh. Dan stroller enggak maju-mundur sama sekali. 😮)

- Ngomong-ngomong soal kokoh, kalau saya pegang Combi, karena ringan, jadi kerasa ringkih. Coba aja goyang-goyangin, rasanya kayak bakal copot tuh stroller. Tapi so far enggak ada satu pun yang copot, jadi cuma keliatannya aja ringkih.

+ Keranjang bawah stroller is actually quite big. Bisa buat nyimpen banyak barang. Kadang malah bisa dilipet pas ada barang-barang di situ.


(Tuh, gede kan?)

- Combi ini bisa dipakai newborn, jadi bisa full reclined (jadi datar kayak tempat tidur gitu). Masalahnya, 'si kasur' itu enggak empuk. Saya bandingin sama Spin-R yang jauh lebih empuk. Gampangnya sih, tinggal beli alas stroller. Zedd sendiri enggak pakai alas stroller karena udah umur 13 bulan waktu start pakai Combi, dan bisa-bisa aja tidur. Udah ngantuk kali? Hahahaha...


(Keep in mind kalau kaki Zedd nggantung ya.)

Kesimpulan
Overall I really love Combi and for me it's a perfect stroller for:
- Small house/apartment
- Ibu-ibu yang enggak punya nanny
Yang mana itu saya banget.

Price wise, harga segitu udah cocok banget buat stroller sekelas Combi. Saran saya, always hunt expensive baby gears waktu pameran kayak IMBEX atau MBFair.

Kualitas barang Jepang enggak akan bohong yah. Kalau dihitung-hitung, udah hampir setahun saya pakai Combi Cozy. Pernah jatuh dari bagasi mobil beberapa kali dan masih oke. Enggak ada scratch dimanapun, padahal saya pakai itu di jalanan apartemen yang kadang becek, kadang berdebu, dan enggak mulus. So it's really good quality.




(Masih mulus)

That's all my review for Combi.

(All photos are taken by me)


Sunday, September 3, 2017

Gampangnya Perpanjang SIM di SIM Keliling

Walaupun saya udah lama enggak bawa motor atau nyetir, tetep penting bagi saya buat punya SIM A dan SIM C. Just in case...
Nah, kata Uti, kalau mau perpanjang SIM itu harus di alamat SIM-nya. Duh, udah pusing deh saya. Enggak cuma saya harus minta cuti, saya juga harus ngeluarin biaya pulang Jogja yang enggak sedikit. Fyi, tiket ke Jogja itu bisa lebih mahal daripada ke Singapore lho. Dan ngomong-ngomong soal ke Singapore, saya bokek kek karena abis liburan ke sana beberapa minggu sebelumnya.
Untungnya, Mbak Bos bilang bahwa sekarang udah bisa kok perpanjang di mana aja. Wah, bisa hemat dong!
Akhirnya hari Sabtu, sehari sehabis Idul Adha, saya ke mobil SIM Keliling, sambil Bismillah. Kalau enggak bisa ya emang harus pulang Jogja.
Berangkat jam 7 pagi dari apartemen dan ke depan TMP Kalibata, karena sering lihat bus polisi gitu plus buanyak orang ngantri. Pas datang, udah ada 5-10 orang dan bus nya belum ada. Hahahaha... di google emang tulisannya jam 8 sih. Bus datang trus ngeluarin meja, saya pun tanya, eh ternyata itu buat perpanjang STNK.
Si Bapak yang saya tanya itu bilang coba cari ke kampus STEKPI. Itu kampus literally di belakang kantor polisi itu. Setelah sebelumnya setengah mati nyari fotokopian yang buka, saya ke STEKPI (sekarang jadi Universitas Trilogi), dan si bus SIM Keliling udah siap! Woohoo...
Alhamdulilah nya, yang ngantri enggak sebanyak di bus STNK Keliling. Saya deg-degan nanya, boleh enggak saya perpanjang di Jakarta walaupun alamat saya di Jogja. Jawabannya: BOLEH!!
Untung saya udah fotokopi walaupun sekenanya. Yang dibutuhkan cuma fotokopi KTP doank. Karena saya perpanjang SIM A dan C, ya saya harus nyediain 2 fotokopi KTP.
Langsung saya kasih dan antri sebentar. Dipanggil, terus foto, dan cetak SIM, kelar deh.
Gampang banget!!
Saya bayar sekitar Rp 345 ribu buat perpanjang 2 SIM itu. Enggak perlu khawatir pungutan aneh, wong ditulis kok biaya semuanya di pintu Bus.
Sekarang ternyata perpanjang SIM bener-bener dipermudah karena udah online. Ini berlaku juga buat Popo.
Jadi KTP Popo itu udah berubah alamat, ngikutin KK kami. Tapi SIM nya masih alamat orang tua Popo. Dulu, kalau gini kasusnya, Popo harus ke kantor polisi lalu lintas (please correct me if I'm wrong, pokoknya kantor polisi yang ngurusin SIM) di Sleman, tarik berkas, trus masukkin berkas itu ke kantor yang di kota Jogja.
Sekarang enggak perlu. Popo bisa perpanjang SIM di bus itu dan sekalian ditulis alamat baru ngikutin KTP. Waaa... enaknyaaa...
Percayalah, hal sekecil ini penting buat anak rantau. Hehehe...
To sum up, ini yang harus disiapin buat perpanjang SIM di bus SIM Keliling.
- siapin fotokopi KTP beberapa lah, buat jaga-jaga.
- Datang pagi biar enggak lama antrinya (atau biar ada waktu nyari bus yang bener kalau ternyata salah bus kayak saya).
- Siapin uang.
- Dandan biar enggak kucel kayak saya.
Nah, waktu saya perpanjang itu, sempet ada kendala. Listrik di bus sempat mati, karena ada gangguan listrik di daerah situ.
Salutnya, petugas langsung sigap beli bensin dan nyalain listrik pak tenaga bus itu sendiri. Pas banget itu giliran SIM saya dicetak. Dalam waktu 10-15 menit, listrik udah nyala lagi dan saya langsung dapat SIM.
Respect deh sama bapak-bapak petugas di sana. 😄

Sunday, August 27, 2017

Berapa sih Harga Jasa Financial Planner?

Jujur, saya jadi enggak pernah mikir apa-apa soal keuangan. I let it flow. Kebetulan saya dibesarkan dengan gaya hidup yang biasa aja dan diajarin nabung. Alhamdulilah nya, abis kawin pun, gaji saya dan Popo, cukup.

Sampai 1 titik, saya enggak kerja lagi. Income cuma dari Popo. Langsung berasa, OMG, I need money!

Disitu saya baru ngerasa melek tentang pentingnya ngelola keuangan. Itu awal perkenalan saya dengan profesi financial planner. Enggak, saya enggak langsung pakai jasa mereka. Gile aja. Nganggur malah pakai jasa financial planner (FP). Hahahaha...

Saya mulai dari baca buku keuangan. Jangan pikir buku keuangan yang rumit yah. Saya enggak paham kalau udah mulai rumit. Buku yang saya baca pertama kali itu karangan Prita Ghozie, yang ternyata cocok banget buat emak-emak kayak saya.


Selain dibahas soal dasar bikin perencanaan keuangan, dibahas juga soal pendidikan anak, liburan keluarga, beli gadget. Things that are already in the back of my head but I don't know what to do with it.

Seru baca, saya beli lagi buku karangan Prita dan Farrah Dini. Dua-duanya sama cewek, tapi buku karangan Farrah ini lebih cewek lagi, karena bahas soal kebutuhan kita nih, para cewek dari yg abg-uzur, buat ngafe, spa, perawatan, jajan yang hits.

Apa terus dengan baca buku, saya jadi bisa merencanakan keuangan? I'm proud to say, lumayan lho. Setelah saya enggak kerja, kami tetep bisa survive, bahkan nambah aset guna dan tabungan. Malah kerasa lebih banyak nabung setelah saya enggak kerja.

Tapiiiii... tetep enggak bisa kayak yang ditulis di buku-buku itu. Emang aset nambah, tapi enggak signifikan. Ya iya lah ya. Masa dari buku doank terus saya bisa setara sama mbak Prita dan mbak Farrah yang sekolah khusus buat jadi FP.

Hal lain yang menggelitik itu, semua buku-buku itu ngasi tau betapa penting dan gampangnya buat investasi reksadana dan saham. Apalagi jaman sekarang, jauuuuuh lebih mudah daripada dulu. Reksa dana bisa dari 500 ribu-1 juta (malah kayaknya kurang dari itu deh.) Saham juga start dari segituan. Tapi kami selalu mentok di baca dan niat doank. Intinya, kami tetep enggak dong! Huhuhu...

Tahun 2016 kemarin saya memberanikan diri ngontak FP, iseng aja nanya. Sebenernya harganya berapa sih? Kan selama ini kayaknya ngawang banget bayangin biaya FP. Saya bahkan mikir kalau jasa FP ini akan saya butuhkan kalau saya dapat undian 100 juta atau 1 milyar gitu, dan bingung uangnya mau diapain. Hehehehe...

Kembali ke ngontak FP, saya nanya berapa gaji minimal baru bisa pakai jasa FP. Soalnya kalau tanya harga, pasti jawabannya bakal ngambang juga. Macam tanya harga ke desainer kebaya.

Enggak pakai lama ada email masuk yang ngasi jawaban tentang gaji minimal. Dan ternyata angkanya enggak beda jauh dari UMR Jakarta lho.

FP ini pun ngajak ketemuan buat tahu lebih lanjut. Saya masih ragu-ragu, karena balik lagi kami ini cuma keluarga kecil dengan duit seadanya. Setelah diskusi sama Popo, udahlah coba ketemu dulu aja. Lihat gimana.

Beberapa minggu setelahnya, saya ketemu sama FP, ada 2 orang dari mereka, 1 senior 1 junior. Ngobrol, saya kasih tau keadaan keuangan kami dan apa-apa aja yang kami inginkan.

Karena udah baca buku-buku keuangan, saya tahu target kami itu,
- dana pendidikan Zedd
- Investasi buat pensiun
- Misc kayak liburan, hp, laptop, renov apartemen dll.

Dari ngobrol itu, FP jelasin kalau ada 2 jenis service, mau per paket aja, kayak, tolong itungin dana pendidikan, atau tolong itungin dana beli rumah, dll. Atau kontrak setahun, dimana keuangan kami akan dipantau berkala dan mencangkup semuanya. Kelar meeting, mereka bilang akan kirim email penawaran harga.

Balik diskusi lagi sama Popo setelah nerima penawaran harga. The price is quite expensive for us. Tapi kalau dibagi per bulan, ya enggak segitunya sih. Dan karena mereka yang akan ngatur, slot dana buat bayar biaya itu, mereka yang ngurus.

Saya sempat mikir, duh duit segitu buat bayar FP dapat dari mana? Eh, ternyata mereka yang mikirin.

Saya juga sempet tanya langsung sama mbak FP, soal kekhawatiran saya soal "layak enggak sih orang dengan duit pas-pasan gini pakai FP?"

Jawabannya masih saya inget lho. She said, kalau duitnya udah ada mau, kerjaan saya gampang dong mbak, tinggal masuk-masukin duitnya. Justru tugas FP adalah mastiin kalau duit kami bisa dialokasikan secara maksimal dan syukur-syukur bisa nambah aset.

Hehehehe... mbaknya bisa aja.

Oiya, menurut mbak FP, keuangan saya ini relatif simple. Karena kami enggak punya hutang atau pajak atau apalah. Kalau misalnya keuangan saya lebih rumit, ya fee FP nya juga bakal rumit.

Alhamdulilah... berarti saya dan Popo masih bisa ngatur keuangan lah. Enggak besar pasak daripadan tiang gitu.

Habis meeting sama saya, FP akan kasih penawaran harga dan habis itu saya lepas tangan, alias semua udah masuk ke ranahnya Popo. Hahahahaha... Singkat cerita (panjang sih aslinya), kami akhirnya milih untuk kontrak setahun. Dan sekarang masih proses.

I'll write more about what changes after we have our own FP.

Tentang Bawa Keluarga ke Belanda dengan beasiswa LPDP

  Udah hampir balik, malah baru update soal berangkat. Hehehehe…. Nasib mamak 2 anak tanpa ART ya gini deh, sok sibuk. But here I am, nulis ...