*Bebersih debu dulu biar blog-nya enggak bulukan.*
Another review kereta from me. Agak heran kenapa jadi sering
nge-review kereta, padahal dulu review barang bayi. Somehow I feel like
Sheldon. Am I a train fan?
Di Stasiun Sudirman Baru. |
Anywhoo… beberapa minggu lalu, saya terbang dari Jogja ke
Jakarta. Karena habis lebaran, harga tiket yang mahal bikin kami harus beli
tiket pesawat yang turun di Bandara Soetta. Padahal selama ini, saya selalu
turun di Halim karena lebih deket ke apartemen.
The good thing was, we could try the new skytrain and the
new airport train. Saya berangkat berempat, sama Zedd, Yang Kung, and Yang Uti.
Dengan jumlah orang segitu dan harga kereta bandara, sebenernya lebih murah
pake taksi sih. Tapi kapan lagi mau nyoba 2 kereta ini? Jarang-jarang saya ke
Soetta, maklum, sekarang saya kan ibu rumah tangga. Enggak dinas… hehehe…
Liat pemandangan. |
Bilang sama eyang-eyang, mereka setuju buat nyoba kereta
bandara. Sebelum nulis pengalaman saya, here’s few things about Kereta Api
Bandara Soetta.
- - Harga tiketnya Rp 70.000, tapi kalo pilih 3
penumpang, harga otomatis jadi Rp 60.000. makin banyak penumpang makin murah.
Harga weekend lebih murah lagi, Rp 35.000.
Jangan dibuang ya abis naik, Karena harus tap lagi buat keluar. |
- - Kereta Bandara ini ada jadwalnya. Cek jadwalnya di
Twitter @RailinkARS atau Meja Informasi juga punya pamphlet-nya, but it’s basically every
30 minutes. Tapi bukan jam tepat kayak jam 15.00. Misalnya, kereta yang saya
incer itu 13.50. tapi saya telat, kelamaan jalan kayaknya. Trus saya naik yang 14.20.
- - Tiket bisa dibeli sebelumnya secara online, tapi
kalo saya sih deg-degan. Mending beli langsung aja, deh.
- - Beli tiketnya pake mesin dan kartu debit. Ada
mesin edc di tiap mesin penjual tiket. Enggak ada loket atau uang cash.
And here’s my review.
(+) Karena pergi sama 2 wong sepuh dan 1 balita, saya riset
dulu soal kereta bandara ini. Biar nanti enggak rempong. Info soal kereta ini
gampang dilihat dari media-media online dan twitter @RailinkARS. Di twitter juga
bisa nanya ke adminnya. It’s an active account. Selain internet, orang-orang
sekitar bandara semua sigap menjawab pertanyaan. Mulai dari security, cleaning
service, semua tau soal Kereta Bandara and Skytrain. I’m impressed! Jadi enggak
perlu takut nyasar ya.
Source: Screenshot dari twitter @RailinkARS. |
(-) Intinya, Stasiun Kereta Bandara ini ada di luar 3
terminal bandara. Jadi habis landing, keluar Terminal Kedatangan, kami harus
naik skytrain/kalayang menuju Stasiun Kereta Bandara/Airport Railway Station,
trus naik kereta bandara di situ menuju Stasiun Sudirman Baru, tujuan kami.
Sekilas, kayaknya simple ya? Ternyata jalannya mayan panjang, especially if you
walk with a-3-year-old who walk so so slow. Pakai naik turun juga. Saya enggak
bawa stroller jadi enggak masalah soal naik turun. Tapi ya itu, jadi lama
jalannya karena nungguin Zedd.
Buat para mak-mak dengan balita, stroller, atau orang sepuh,
just be prepared.
Waktu keluar dari terminal kedatangan, enggak keliatan stasiun
Kalayang-nya. Saya nanya ke security, ternyata stasiun Kalayang itu harus
nyebrang dulu. By the way saya turun di Terminal 2. Dari situ, liat ke kanan,
ntar ada bangunan baru 2 lantai gitu.
Skytrain Bandara Soetta ini adanya di lantai 2, jadi kami
harus naik escalator. No trolley allowed. Untungnya kami enggak bawa koper. Ada
lift sih, tapi enggak saya coba. No photo on this sky train, karena saya ribet bawa Zedd and barang.
(+) Naik skytrain gratis.
(-) Di gerbang stasiun Sky Train dan di peron saya lihat airport helper yang muncul di berita-berita itu. Setahu saya, airport helper ini
tugasnya bantuin orang kayak porter, tapi gratis karena mereka digaji sama Angkasa
Pura. Setahu saya lagi, helper akan menawarkan bantuan ke yang orang-orang ‘prioritas.’
Tahu kan? Manula, bumil, divable, people with baby/toddler/small kid.
Cuma helper ini saya lihat bengong aja. Apa karena kami
enggak bawa koper? Tapi Yang Kung bawa ransel berat, lho. Atau karena Yang Kung
and Yang Uti kelihatan seger? Tapi masak enggak kelihatan sih mereka umur
55-65? Saya hamil cuma emang belum keliatan, tapi kan nggandeng Zedd.
Entahlah, mungkin harusnya saya yang minta bantuan mereka?
(-) Ada banyak pintu-pintu buat masuk kereta. Kalo pernah
naik MRT di Singapur, ya sejenis itu pintu-pintunya. Tapi ternyata masuknya
cuma dari pintu ujung. So if you see people gather around the corner, follow
them! Pas saya perhatiin, ternyata keretanya enggak sepanjang pintu-pintunya.
Mungkin itu alesan pintu yang dibuka cuma yang di ujung.
Stasiun Kereta Bandara cuma 1 stop dari Terminal 2, jadi
cepet banget naik Sky Train ini. Dari situ kami turun lagi, trus masuk ke
Stasiun Kereta Bandara. Jalannya cuma 1 kok, tinggal ikutin aja. Tapi ya itu,
panjang bok! Kerasa banget kalo bawa toddler.
(+) Masuk stasiun langsung kerasa modern banget. Beda sama
stasiun kereta lain. Hal pertama yang kami lihat itu meja informasi. Jadi kalo
bingung tinggal nanya.
(+) Kami langsung jalan ke mesin penjual tiket, toh di situ
ada mas-mas juga. Mesinnya agak susah buat saya. Tapi ada mas-mas yang siap
bantu deket mesin. Mereka ramah dan helpful. Yang Uti yang lagi nunggu aja
ditawarin bantuannya, dikira mau beli tiket.
Mesin + petunjuk beli. Despite the good intention. Saya kok lihatnya aja udah pusing. Maybe make it simpler? |
(+) Karena telat, kami harus nunggu sekitar 20 menit.
Untungnya disediain waiting lounge dengan tv, colokan, wifi. Sekilas stasiun
ini kayak Terminal 3 yang 2 lantai. Lantai 2 isinya food&beverages, tapi
baru ada Bakmi GM (as of June 2018). Di bawah ada Alfamart. Kereta datang tepat
waktu trus kami naik.
Leyeh-leyeh |
Leyeh-leyeh 2.0 |
(?) Sistemnya tap, tapi tiketnya kertas. Hehehe. Jadi agak
susah ya. Biasanya kan tap pake kartu. Udah gitu, karena pake kertas, kami
sempet mau buang gitu. Padahal harus dipake tap lagi pas keluar. Untung ketemu
di saku.
(+) Kereta super bersih, modern, lengkap. Colokan USB ada 1
buat 2 kursi. Toilet kecil tapi bersih. Ada tempat sampah (detil kecil yang
bikin gengges ketika naik KA jarak jauh. Harus nunggu mas-mas cleaning service
lewat). I really have no complaint about the train itself.
Mejeng dulu sebelum berangkat. |
Tempat sampah. |
Buat yang pakai wheel chair. |
small toilet. Tapi muat buat saya and Zedd. Bersih pula. |
Forget the selfie, just wanna show the sink/wastafel. |
(-) Except for….. pengumuman. Saya cuma berempat + 1 ibu-ibu di satu gerbong. Saking sepinya. Itu aja kami bingung ini udah sampe stasiun mana. Mungkin kami berempat yang budek? Tapi ternyata yang bingung bukan cuma kami. Hahaha….
Stasiun Batu Ceper. Bagus, tapi enggak ada papan namanya. |
Kereta ini, again setahu saya, cuma berhenti di 4 stasiun:
Bandara Soetta – Batu Ceper – Sudirman Baru/BNI City – Bekasi. Nantinya akan berhenti di
Manggarai, tapi sampe Juni 2018 waktu saya naik, belum bisa. Lha pas berhenti
di Batu Ceper, semua bingung ini udah sampe mana. Si Ibu turun di Batu Ceper
aja harus nanya sama petugas di luar kereta waktu pintunya kebuka. Di stasiun
juga belum ada tulisan nama stasiun, kayak yang biasa saya lihat waktu naik
KRL.
Waktu turun Sudirman alias BNI City juga gitu, enggak ada tulisan Sudirman
Baru atau pengumuman. Jadi ya tebak-tebak aja sambil lihat GPS hp.
Bye train... View from Stasiun BNI City/Sudirman Baru. |
(?) Kereta ini unik, karena jalannya maju mundur. Hahaha…
jangan dibayangin rusak ya. Enggak kok. Tapi ada fase dimana kereta ini tiba-tiba
mundur. Enggak paham deh saya. Yang Kung and Yang Uti milih tempat duduk yang ‘menghadap
depan.’ Eh, pas mendekati Sudirman, keretanya jalan mundur (dan pastinya ganti rel, ya). Jadi tempat duduk
yang tadinya menghadap depan, jadi menghadap belakang. Hahaha… semoga paham ya.
Di tiap gerbong, separo kursi madep depan, separo madep belakang. di tengah ada kursi yang berhadap-hadapan gini. Kursinya enggak bisa diputer-puter ya. |
Rumpi dulu sama Eyang |
(+) Sampai tepat waktu, sekitar 40 menitan. Stasiunnya gede
and bagus. Katanya sih ada jalan menuju ke stasiun Sudirman lama, sekitar
100-200 meter, buat yang mau lanjut KRL. Tapi karena bawa eyang and balita,
saya minta dijemput Popo.
Masuk keretaaa... |
Buat yang mau dijemput, ada parkiran mobil. Banyak malahan. Ada
pool taksi juga. Jadi jangan dibayangin kayak stasiun KRL atau stasiun
Jatinegara yang enggak ada parkiran mobilnya, ya.
Hubby selfie sambil nunggu di Stasiun Sudirman Baru. |
Is It Worth It?
Tergantung. Kalo sendirian, ya mayan worth it. Dengan 70
ribu, udah bisa sampe Bandara Soetta dari Sudirman. Tapi kalo berempat atau
lebih, harganya jadi mirip-mirip sama taksi.
Zedd and Mami |
Buat yang males macet, males drama sama driver taksi (kadang
dapet yang aneh-aneh, apalagi kalo taksi online), KA Bandara jadi alternatif
yang oke. Bayangin kalo lagi ujan, atau mendarat Jumat siang/sore, atau
kombinasi keduanya, waduuuhhh… mending mahal dikit, tapi cepet sampe rumah deh.
Buat yang punya anak kecil, cobain deh. Anak-anak kan suka
tuh naik kereta. Anggap aja tamasyaaaa…
Either way, so proud of the new Sky Train and Kereta Api
Bandara. Telat but better than never.
kelinci99
ReplyDeleteTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino